MADIUN – Suasana Kafe The Cemiland tampak ramai siang itu. Puluhan pemuda memenuhi salah satu sudut kafe di Jalan Serayu Timur tersebut. Mereka bukan tengah bersantap siang. Sekumpulan pemuda-pemudi itu tengah menuntut ilmu. Utamanya, bidang kewirausahaan. Maklum saja, mereka merupakan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Badan Pengurus Cabang (BPC) Kota Madiun.

‘’Kami rutin menggelar pertemuan minimal sebulan sekali,’’ kata ketua HIPMI BPC Kota Madiun Andro Rohmana Putra.

Pertemuan rutin, kata dia, sengaja digelar berpindah-pindah. Kebetulan kali terakhir bertempat di Kafe The Cemiland yang tak lain salah satu usahanya. Pertemuan bukan hanya untuk memperkuat solidaritas sesama anggota himpungan pengusaha muda itu. Namun, juga berbagi ilmu dan pengalaman masing-masing. Harap maklum, dunia usaha memang cukup menantang. Banyak kendala yang muncul. Tak heran, butuh saran dan masukan dari anggota yang lebih berpengalaman.

‘’Banyak usaha yang gulung tikar tak lebih dari lima tahun. Selama durasi ini memang waktu krusial. Makanya, kami perkuat pada sisi perencanaan selama lima tahun ke depan,’’ ungkap pria 32 tahun itu.

Bahkan, Andro dkk sengaja membuat kurikulum untuk anggota. Pun, kurikulum berjenjang. Mulai kurikulum dasar untuk anggota yang baru memulai dunia usaha hingga yang suda berjalan lebih dari lima tahun. Kurikulum dasar, lanjut dia, biasanya berisi tentang bisnis plan. Andro menyebut perencaan merupakan pondasi awal menjalankan usaha. Bukan hanya soal rencana. Namun, juga membahas keunikan usaha yang dijalankan, riset kompetitor serta membuat analisanya, hingga membuat market-market usaha dan projek finasial selama lima tahun ke depan. Lagi-lagi, ini penting agar usaha yang dijalankan tidak koleps di lima tahun awal.

‘’Data yang dikumpul kemudian dimasukkan dalam software khusus agar dapat diamati setiap saat,’’ ungkap warga Kelurahan Kartoharjo itu.

Tak heran, perjalanan usaha dapat dipantau. Andro menyebut terdapat grafik dan kurva untuk mengamati. Keputusan bisa langsung diambil begitu grafik menunjukkan penurunan. Mulai langkah antisipasi atau beralih pada bisnis lain. Ini penting agar usaha tidak keburu gulung tikar lantaran terlambat menangani. Andro menyebut HIPMI bukan sekadar wadah komunitas. Namun, berperan melakukan pendampingan secara utuh setiap anggota.

Baca juga:   Walikota Sugeng: Tidak Ada Ijin Untuk Minimarket Baru Sementara Ini

‘’Bahkan, kami juga memfasilitasi anggota yang sekiranya belum memiliki perkantoran untuk usahanya,’’ ujarnya.

Andro mengaku potensi di Kota Madiun cukup besar untuk dunia usaha. Tak salah, jika Kota Madiun berslogan Kota Perdagangan, Pendidikan, dan Industri (Gadis). Namun, pelaku usaha khususnya mereka yang muda seringkali silau dengan daerah lain hingga memutuskan hijrah. Andro tak membantah banyaknya pengusaha muda potensial kota pecel yang akhirnya membuka usaha di daerah lain. Pun, termasuk dirinya. HIPMI, kata dia, berupaya menekan angka urbanisasi pengusaha muda potensial ini agar tidak keluar. Salah satunya, dengan menciptakan ekosistem usaha di Kota Madiun.

‘’Di era sekarang ini, pangsa pasar sudah tak terbatas. Konsumen bisa datang dari mana saja melalui internet. Tidak perlu harus ke kota besar untuk membuka usaha. Ini yang ingin kami tanamkan,’’ ungkapnya sembari menyebut lebih baik turut menghidupkan perekonomian di kota sendiri dibanding di kota lain.

Andro menyebut HIPMI terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Namun, yang namanya himpunan pengusaha muda, usia anggota pastinya dibatasi. Pihaknya, hanya menerima anggota dibawah usia 45 tahun. Anggota dikenakan Rp 350 ribu untuk tiga tahun. Dana yang dikumpulkan kembali untuk kepentingan anggota.

‘’Prinsipnya kami berupaya agar para potensial muda ini tidak keluar dari Kota Madiun,’’ pungkasnya sembari menyebut HIPMI Kota Madiun mendapat mandat untuk mendampingi HIPMI se-Madiun Raya.

Nah itu guys, usaha di kota sendiri tak kalah menarik. Kalau di Kota Madiun saja cukup berpeluang, kenapa harus buka usaha diluar kota. Bukankah hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. Apalagi, banyak wadah yang siap mendampingi seperti HIPMI. So, tidak perlu takut melangkah jika ingin menjadi pengusaha muda. Pupuk terus semangat dan jangan mudah menyerah. Jaga terus kesehatan dengan hindari narkoba, miras, dan rokok. Bagi kalian yang merokok, jangan beli rokok illegal ya. Sebab, merugikan negara dan masyarakat. Dana cukai rokok legal merupakan salah satu sumber pemasukan negara yang dua persen darinya dikembalikan kepada masyarakat. So, jadi pembeli yang bijak ya. (agi/diskominfo)