Hampir satu tahun, aku, atau tepatnya kami, 140 personel Satuan Tugas Garuda Bhayangkara II FPU (Formed Police Units) 9 Indonesia berada di Darfur, Sudan. Dan aku sengaja membawa sebuah bendera bergambar Pemkot Madiun. Bersama sejumlah warga lokal, utamanya anak-anak, aku sengaja berfoto dengan bendera itu.

(catatan perjalanan Brigadir Polisi Wahyu Hartanto SH, MH, anggota pasukan Garuda Bhayangkara asal Kota Madiun di Sudan, dey/diskominfo, foto-foto : dokumen pribadi)

Kenapa? Aku bangga dengan tanah kelahiranku, Kota Madiun, kota ‘Gadis’, kota yang terus membangun perdagangan, pendidikan dan industrinya. Sebuah kota yang penuh kenangan dan tempaan kedisiplinan. Bangga dengan kota yang kini ‘jauh’ dari tempatku mengabdi sebagai seorang polisi, menjadi anggota Detasemen B Satbrimob Polda Kalimantan Timur.

Aku lahir pada 9 Juli 1987 di sebuah dusun kecil yang berada di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo salah satu kecamatan yang terletak di Kota Madiun, Jawa Timur. Pada tahun 1993 menempuh pendidikan di SDK Santo Bavo Kota Madiun lulus pada tahun 1999. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 4 Madiun dan lulus pada 2002. Kemudian melanjutkan di SMA Negeri 1 Madiun pada tahun 2002 dan lulus pada 2005.

Mengikuti rangkaian tes Pendidikan Pembentukan Brigadir Brimob Polri pada tahun 2007 dan dinyatakan selesai pada tahun 2008. Pada tahun tersebut melanjutkan dan tercatat sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Universitas 17 Agustus 1945, Samarinda dan dinyatakan lulus pada tahun 2012. Pada tahun yang sama melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi pada Program Pascasarjana di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Program Studi Ilmu Hukum.

Pada tahun 2016 mendaftarkan diri di misi internasional dan berkesempatan mengikuti rangkaian ujian yang sangat panjang dan pada akhirnya lolos untuk bergabung di Satuan Tugas Garuda Bhayangkara II FPU Indonesia 9 yang pada akhirnya di tempatkan di daerah konflik di Darfur, Sudan. Kesempatan ini (menjadi Pasukan Garuda) susah di dapat. Hanya orang tertentu yang punya prestasi di satuan masing masing baru bisa berangkat untuk diajukan ikut seleksi. Itu pun belum tentu lulus.

Baca juga:   Aparat Tindak Tegas Pabrik Miras di Madiun

Saat bertugas, seorang kawan kami harus tiada. Juli 2017 seorang kawan kami, Brigadir Polisi Aziz Sumanto berpulang ke Rahmatullah. Semangat juangnya adalah teladan kami. Tak kenal lelah. Sakit tak dirasanya. Hingga kemudian ia harus meninggal saat telah berada kembali di pangkuan bumi persada Indonesia.

Inilah orang Indonesia sejati. Membanggakan dalam setiap pengabdiannya. Dan memang hanya prajurit terbaik, unggul dan berprestasi yang mendapatkan kesempatan berangkat dalam misi pedamaian ini.

Di sela-sela tugas patroli atau apapun, para personel Garuda Bhayangkara selalu berusaha berbaur dengan kontingen dari negara negara lain maupun warga sekitar. Aku dan rekan-rekan sering mengajarkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab kepada anak-anak Sudan agar komunikasi terjalin baik dan mereka bertambah ilmu pengetahuannya.

Tak hanya bertugas di bidang keamanan, di sana Pasukan Garuda Bhayangkara banyak menggelar kegiatan yang berhubungan langsung dengan anak anak dan penduduk setempat . Kami pernah memeriahkan festival budaya di negeri itu. Pasukan Indonesia berbagi gembira bersama dengan anak anak di daerah konflik tersebut.

Aku selalu ingat pesan dari Bapak Kapolri. Bahwa kami agar selalu menjaga nama baik Negara Indonesia di tengah tengah kontingen lain maupun masyarakat sekitar agar keberadaan kontingen Garuda Bhayangkara bisa diterima di segala lapisan dengan memberikan hal yang positif.

Penugasan ini adalah perdana bagiku sehingga merupakan momen paling berkesan. Menjadi sebuah pengalaman bertugas di daerah konflik di luar negeri bersama dengan pasukan dari negara-negara lain. Kenangan di Sudan akan selalu melekat erat di kehidupanku. Aku bangga jadi Indonesia.

Merah putih sebagai kehormatan tertinggi, kami akan kibarkan “Ia” setinggi dengan seharumnya bunga soekarno, kutipan dari laman facebook Wahyu Hartanto, Februari 2017
(tulisan kedua dari tiga tulisan)