MADIUN – Perawakan Kasimin mudah terlihat sedari jauh. Maklum saja, dia sedang berada diketinggian. Warga Desa Kepet Kecamatan Dagangan itu tengah berada di sepertiga ujung tower Base Transceiver Station (BTS) Pemkot Madiun. Sekitar 30 meter dari atas tanah. Nyaris sampai puncaknya beberapa meter lagi. Dia bukan sedang kurang kerjaan. Sebaliknya, dia sedang bekerja. Pria 54 tahun itu memang ahlinya panjat-memanjat tower. Dia seorang teknisi jaringan.

‘’Kalau dibilang takut ya pasti ada rasa takut. Tetapi unsur keselamatan dan keamanan selalu saya dahulukan,’’ kata kakek satu cucu ini saat beristirahat tak jauh dari tower, Senin (15/1).

Sabuk panjat keselamatan tak lupa dia kenakan. Makanya sabuk selalu ada di dalam tas miliknya. Kasimin dengan cekatan mengenakan sabuk tersebut saat bersiap naik kembali. Harap maklum, pekerjaan panjat-memanjat tower sudah dilakoninya sejak masih bujang. Tak heran, jika orang menyebutnya ahli. Tower setinggi puluhan meter pernah dipanjatnya. Tertinggi hingga 70 meter. Bukan hanya tower. Namun, juga pipa tiang antenna atau jaringan. Namun, tentu tak setinggi tower. Hanya berkisar 30 sampai 40 meter. Kendati begitu, tak kalah menantang. Sebab, pipa biasanya hanya berdiameter tiga sampai empat inci.

‘’Kalau pipa kebanyakan berdiri diatas atap kantor. Jadi harus manjat atap dulu, baru manjat pipanya,’’ terang pria yang akrab disapa Tonggeng itu.

Tonggeng biasa naik-turun tower setiap hari. Bukan hanya satu dua tower. Dia pernah memanjat sepuluh tower dalam sehari saat banyak pesanan perbaikan. Mulai perbaikan jaringan koneksi, ganti piranti antenna, ganti kabel, hingga urusan mengecat tower. Tak heran, perbaikan hingga malam. Pekerjaannya pernah baru selesai sekitar pukul 22.00. Namun, dia pernah hanya naik-turun pada satu tower saat pemasangan baru. Nyaris, seharian penuh berada diketinggian. Tonggeng hanya turun saat beristirahat untuk makan maupun salat.

‘’Fisik sering menjadi kendala. Tenaga benar-benar terkuras ssaat diatas karena konsenterasi terpecah. Satu sisi memikirkan cara mengatasi kerusakan. Sisi lain harus berkonsenterasi menjaga keselamatan,’’ ungkap bapak dua anak itu.

Kasimin tidak hanya memanjat tower di kota pecel. Sejumlah tower di Kabupaten Madiun, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Pacitan, Nganjuk, hingga Surabaya pernah ditaklukkannya. Minimnya tenaga ahli jaringan kala itu membuat pesanan deras mengalir kepadanya. Namun, dia enggan dikontrak perusahaan kendati tawaran kerap datang. Tonggeng memilih jadi jasa panggilan secara mandiri. Dia tak enak hati dengan pelanggan lain kalau harus bekerja pada satu perusahaan.

Baca juga:   Jadi Shadow Teacher Bagi ABK, Latih Asih Jadi Pribadi Penuh Kasih

‘’Yang penting usaha dulu. Segala sesuatu harus dicoba dulu. Jangan bilang tidak kalau belum mencoba,’’ ujarnya sembari menyebut Pemkot Madiun yang paling sering menerima jasanya.

Pekerjaan teknisi jaringan tidak datang begitu saja. Menariknya, keahlian bukan didapat dari bangku sekolah. Bahkan, Tonggeng hanya berijasah SD. Pun, itu hanya kejar paket. Kemampuannya terlatih secara otodidak saat dia menjadi anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) sekitar 1984. Artinya, Tonggeng sudah sekitar 34 tahun berkecimpung dengan tower. Dia masih bujang kala itu. Pengalaman pertama saat naik tower antenna Orari untuk memperbaiki jaringan. Permintaan memperbaiki jaringan terus berdatangan sejak saat itu. ‘’Awalnya dulu di bangunan. Tetapi setelah mengenal jaringan saya lebih tertarik di situ,’’ tuturnya.

Nah itu guys, banyak sisi positif yang dapat diambil dari sosok Kasimin. Dia tidak pernah malu dengan pekerjaannya selama itu halal. Semuanya dilakoni dengan senang hati kendati nyawa taruhannya. Kasimin tidak pernah memimpikan kerja kantoran dengan meja dan komputer. Berada puluhan meter dari atas tanah dengan hanya menggunakan sabuk panjat sebagai piranti keselamatan merupakan ‘kantor’ terbaiknnya. Semuanya disyukuri kendati penghasilannya mulai Rp 150 ribu. Namun, saat rezeki datang, dia bisa mengantongi Rp 2,5 juta sekali order. So, jangan pernah meremehkan pekerjaan seseorang ya guys.

Satu lagi, jaga terus kesehatan dan selalu taati aturan ya. Salah satunya, aturan cukai. Ada tiga barang wajib cukai yang beredar di Indonesia. Yakni, hasil tembakau, etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan terdapat pita cukai asli saat memperjualbelikan ketiga barang tersebut ya. Salah-salah bisa berujung pidana. Sebaliknya, menaati cukai berarti berkontribusi pada negara dan masyarakat. So, jadi masyarakat yang bijak ya. (agi/diskominfo)