MADIUN – Di Kota Madiun, nama Pasar Puntuk sudah cukup familier. Pasar sentra jual-beli barang bekas di Kelurahan Kejuron Kecamatan Taman itu memang melegenda. Apa saja ada di sana. Mulai pakaian hingga tutup botol. Soal harga jangan ditanya. Namanya juga barang bekas. Bahkan, jika pandai menawar bisa dapat barang dengan harga menyenangkan.

Dinamakan Pasar Puntuk karena berada di Jalan Puntuk. Hmm, cukup masuk akal. Namun, sebenarnya apa sih arti puntuk. Mengapa diabadikan menjadi nama jalan. Darimana istilah puntuk berasal. Mengapa tidak menggunakan nama lain. Berikut hasil penelusuran tim madiuntoday.

Nama puntuk tak terlepas dari sejarah lokasi tersebut. Jalan Puntuk dulunya merupakan sebuah gang. Jalan tidak selebar sekarang. Hanya, 1,5 meter. Lebih tepat disebut gang. Pun, hanya berupa tanah. Belum beraspal seperti sekarang. Namun, sejarah nama puntuk jauh lebih lama dari itu sekedar pergantian status gang menjadi jalan.

‘’Nama puntuk berkaitan erat dengan pembangunan Pasar Besar (PBM) pertama kali,’’ kata Sutedjo, Ketua RW 1 Kelurahan Kejuron saat ditemui MadiunToday, Rabu (17/1).

Pasar besar, kata dia, pertama kali dibangun saat masih era kolonial. Pemerintah Belanda saat itu membangun pasar untuk mempermudah akses jual-beli komoditas. Pembangunan sudah menerapkan sistem pondasi. Tak heran, lahan butuh digali. Tanah hasil galian lantas ditumpuk disisi selatan. Lahan sisi selatan dipilih lantaran masih kosong.

‘’Kawasan sini dulu sebenarnya permukiman tetapi belum banyak. Masih banyak pepohonan bambu dan kelapa,’’ ujar Sutedjo yang mendapat cerita puntuk secara turun-temurun itu.

Pembuangan di sisi utara tidak dimungkinkan lantaran mengganggu jalan (sekarang Jalan Panglima Sudirman). Sedang, sisi barat dikhawatirkan mengganggu saluran air. Sutedjo menyebut sisi barat pasar besar memang terdapat saluran air seperti sungai kecil yang cukup memberikan manfaat bagi masyarakat. Begitu juga sisi timur. Tanah galian pondasi tidak mungkin dibuang ke sisi timur lantaran sudah padat permukiman.

‘’Tanah hasil galian ternyata menumpuk hingga setinggi rumah. Menjulang tiga sampai empat meter dan memanjang sampai puluhan meter,’’ ungkapnya.

Baca juga:   Akhiri Masa Jabatan di Iswahjudi, Danlanud Beri Wejangan Terakhir

Tumpukan tanah, lanjutnya, ternyata tidak langsung dibersihkan begitu pembangunan pasar selesai. Pemerintah Belanda kala itu sengaja mempertahankan gundukan tanah sebagai dinding pembatas. Kawasan tersebut dulunya memang banyak pepohonan. Kata tumpukan lama-lama melekat untuk kawasan tersebut. Namun, cukup panjang diucapkan hingga bertransformasi menjadi puntuk.

‘’Seiring waktu berjalan kawasan menjadi ramai. Permukiman bertambah hingga akhirnya tumpukan tanah dibersihkan. Tetapi nama puntuk sudah terlanjur melekat dan diputuskan untuk nama gang ditengah permukiman,’’ ujarnya.

Bangunan rumah bermunculan sepanjang Gang Puntuk. Namun, belum difungsikan untuk berjualan. Sutedjo menyebut hanya ada empat warung makan di sepanjang Gang Puntuk sekitar 1957. Salah satunya, milik orangtua Sutedjo. Kawasan mulai difungsikan untuk berjualan barang-barang bekas sekitar 1977.

Gang tersebut memang mulai cukup ramai. Menjadi salah satu akses utama menuju pasar besar. Pendatang juga mulai berdatangan dan turut berjualan. Gang yang hanya selebar rentangan tangan orang dewasa itu berubah menjadi kawasan jual-beli baru. Nama Gang Puntuk makin dikenal luas. Ada sekitar 80 pedagang kini.

‘’Pasar Puntuk bukan hanya sekedar pelengkap keberadaan pasar besar. Namun, menjadi kawasan jual-beli yang memiliki daya tarik tersendiri,’’ pungkasnya sembari menyebut Pasar Puntuk dikelola masyarakat setempat.

Menarikkan guys cerita Pasar Puntuk, pasar yang namanya melegenda hingga kini. Masyarakat Kota Madiun hingga daerah sekitar pastinya mengenal Pasar Puntuk. Masyarakat yang pernah mencari barang bekas pastinya memiliki kenangan tersendiri dengan pasar legenda ini. Pasar wajib dijaga.

Selain itu, jaga terus kesehatan ya. Jangan racuni tubuh dengan narkoba, miras, dan rokok ya. Bagi kalian yang merokok, jangan beli rokok illegal ya. Rokok sebagai barang hasil tembakau wajib menggunakan pita cukai asli saat diperjualbelikan. Sebab, merugikan kesehatan. Makanya, peredarannya wajib dikendalikan. Selain hasil tembakau, etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol juga wajib menggunakan pita cukai. Mari dukung pemerintah dengan ikut memerangi peredaran barang cukai illegal. (agi/diskominfo)