MADIUN – Gang Sepuhan. Tertua di Kota Madiun? Bisa jadi. Tapi yang jelas ada satu usaha yang sudah cukup lama ada di jalan kecil menuju rumah warga di bagian utara Jalan Panglima Sudirman Kota Madiun ini.

Gang yang mengarah ke rumah warga dan bisa tembus sampai ke alun-alun Kota Madiun ini punya ciri khas yang sejak tahun 1980-an telah melekat. Ada puluhan plastik berisi air yang digembungkan lengkap dengan ikannya. Hampir seluruhnya adalah ikan hias berbagai jenis dengan macam-macam ukuran.

Menurut Wardiyanto, 56, warga Gang Sepuhan yang masuk RT 25 RW 09, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, sejak pertengahan tahun 1980-an, kawasan tersebut memang sudah menjadi salah satu titik yang menjadi ‘jujugan’ untuk mendapatkan ikan hias dan kelengkapannya seperti akuarium, pakan sampai jaringnya.

Seiring waktu, jumlah penjualnya berkurang. Dari yang semula empat lapak, saat ini tinggal dua lapak saja. Tempat berjualan yang tadinya di trotoar, kini berpindah ke gang. Pemkot Madiun memang menata trotoar dan mengalihkan para pelapak , jadilah gang sepuhan sebagai gang ikan. se

“Sekarang pelapaknya tinggal dua saja. Saya dan bu Mujiati. Ada juga pak Ninek sebetulnya, tapi sudah sakit-sakitan jadi lama juga gak jualan,” terang pria yang akrab disapa Pak To ini kepada madiuntoday Rabu (24/1/2018).

Soal harga, Pak To maupun Bu Muj, sapaan Mujiati, ikan hias di Gang Sepuhan normal-normal saja. “Sama dengan di tempat lain. Sebab di Madiun ini pemasok ikan hiasnya hampir semua sama, dari Kediri. Terus, kalau terlalu murah ya nanti dimarahi penjual di tempat lain, tapi kalau dimahalkan dikit ya gak laku,” kata Bu Muj.

Baca juga:   Kartini Masa Kini dan Kisahnya Menjajaki Dunia Animasi

Bagi mereka berdua, meski tidak lagi di trotoar, penjualan ikan hiasnya masih menghasilkan. Sebab, justru lebih aman dan juga lebih adem. Warga yang ‘punya’ gang tersebut pun mendukung keduanya untuk tetap berjualan di lokasi tersebut.

“Mereka tidak keberatan kok. Malah senang, karena lebih aman karena jalan masuk gangnya ada semacam penjaga,” ujarnya sambil menambahkan bahwa jam bukanya mulai jam 7 pagi sampai jam 9 malam.

Bagi sejumlah penggemar ikan hias, keberadaan Gang Sepuhan menjadi keasikan tersendiri. Ini karena masih berada di tengah kota atau tempat beraktifitas.

“Gampang untuk jadi ‘ampiran’ dan jujugan kalau mau beli ikan. Pilihannya lengkap juga, harga standar lah,” ujar Heriawan, salah satu pembeli ikan di lapak Pak To.

Yang membuat lebih nyaman, lanjut Heriawan, di Gang Sepuhan juga ada warung kopi dan warung makan. Juga milik warga yang dulu ditertibkan dari trotoar masuk ke gang. Sambil memilih atau menimbang-nimbang, bisa sambil duduk-duduk dan ngopi.

“Kalau lapar ya tinggal beli makan. Bisa berlama-lama lah kalau memang belum yakin,” ujarnya.

Nah guys, berminat? Silakan berkunjung. Yang jelas harus jadi pembeli bijak. Termasuk ketika harus menolak rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya.

Cukai adalah pungutan negara untuk barang-barang tertentu yang memiliki dampak negatif bagi kehidupan dan perlu pungutan demi keadilan. Perlu diketahui, sebagian cukai yang terbayar dananya akan kembali ke daerah-daerah dengan nama Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT).

DBH-CHT bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan meningkatkan fasilitas kesehatan masyarakat sampai meningkatkan keterampilan kerja masyarakat dan untuk pembangunan infrastruktur. (dey/diskominfo)