MADIUN – Pengguna internet di tanah air terus tumbuh. Mencapai 132,7 juta pengguna hingga kini dan dipastikan terus bertambah. Artinya, akses informasi melalui internet mengalir deras. Ini tentu berdampak positif dan negatif.

Mudahnya akses informasi menjadi salah satu dampak positifnya. Cepat pula. Apapun seakan dapat dicari di internet. Ini tentu membantu masyarakat dalam bidang informasi. Namun, internet juga menjadi sarana berbagai jenis tindak kejahatan. Mulai penipuan, perjudian, kecanduan hingga pedofilia.

‘’Masalah di internet seperti fenomena gunung es. Masalah yang tak tampak sejatinya jauh lebih besar,’’ kata bidang literasi Relawan TIK Kota Madiun Yosep Rusfendi Susianto saat menjadi pembicara kegiatan pembinaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di aula Kantor Kecamatan Taman, Selasa (23/1).

Masalah yang terlihat terkait internet masih seputar konten negatif dan kecanduan. Padahal, masalah cyberbully, pelanggaran privasi, hingga pedofilia online juga marak terjadi. Sayangnya, masyarakat enggan menanggapi. Terbukti dari minimnya laporan terkait ketiga masalah tersebut.

‘’18,4 persen pengguna merupakan anak-anak usia sepuluh hingga 24 tahun. Mereka rentan menjadi korban. Orang tua wajib melek internet agar selektif dalam melakukan pendampingan,’’ ungkapnya.

Yosep menyebut ketiga masalah tersebut tak kalah mengkhawatirkan. Dia ambil contoh masalah pedofilia online yang pernah terungkap di tanah air beberapa waktu lalu. Modusnya dengan menyaru sebagai dokter perempuan. Padahal pelaku seorang laki-laki.

Pelaku menawarkan tips-tips kesehatan khususnya tentang reproduksi. Dia meminta korbannya yang kebanyakan anak dan remaja perempuan mengirimkan foto-foto alat vital. Tidak tanggung-tanggung, pelaku berhasil mengumpulkan sepuluh ribu lebih foto pornografi anak.

‘’Kejahatan jenis ini dimungkinkan masih banyak yang tengah berjalan. Kembali lagi, masyarakat harus terus melek informasi utamanya dibidang internet,’’ jelasnya.

Baca juga:   Tak Hanya Seremonial, 1 Dekade Maki Juga Sarat Bakti Sosial

Yosep menyarankan masyarakat terus update. Terus memperkaya informasi. Paling tidak, jangan ikut menyebarluaskan informasi yang belum tentu kebenarannya. Informasi yang sekiranya baik sekalipun. Wajib cek dan ricek terlebih dahulu. Selain itu, jangan berlebih memberikan akses internet kepada anak. Orang tua wajib terus memantau. Tidak ada yang namanya privasi antara orang tua dan anak.

‘’Masyarakat harus bijak dan cerdas dalam menggunakan internet. Ini penting karena banyak informasi hoax dengan modus dan tujuan tertentu,’’ ungkapnya sembari menyebut pengguna internet laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.

Penanggulangan masalah internet, kata dia, butuh keterlibatan semua pihak. Sebab, dampak internet juga bergantung lingkungan. Orang tua dimungkinkan sudah mengawasi dan memantau aktivitas internet anaknya di rumah. Namun, aktivitas anak saat bersama temannya belum tentu sudah terpantau baik. Tak heran, lingkungan internet positif penting ditumbuhkan.

‘’Ini tidak bisa dilakukan satu dua pihak. Butuh penanganan bersama. Tetapi paling tidak harus dimulai dari diri pribadi masing-masing,’’ pungkasnya.

Nah itu guys, hati-hati dalam menggunakan internet. Salah-salah, informasi yang didapat malah menjerumuskan. Belum lagi dampak buruk lainnya. Berinternet positif wajib dimulai dari pribadi masing-masing. Itu dapat dimulai dari hal mudah seperti tidak ikut menyebarluaskan informasi yang belum tentu kebenarannya.

Patuhi selalu aturan berinternet. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang wajib cukai yang beredar di tanah air. Mulai hasil tembakau, etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Ketiga barang tersebut diawasi peredarannya lantaran berdampak buruk bagi kesehatan. Pemerintah mewajibkan pita cukai setiap barang tersebut saat diperjual-belikan. Dana cukai selain merupakan salah satu sumber pemasukan negara, juga dikembalikan untuk masyarakat. So, jadi pembeli yang bijak ya. (agi/diskominfo).