MADIUN – Legam kulitnya. Dia memang hitam. Dialah Prajurit Dua Obet Ayomi, satu-satunya tentara anggota Batalyon Infanteri 501 Bajra Yudha Madiun yang asli kelahiran Papua yang Kamis (8/2/2018) ini dikirim sebagai Pasukan Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Republik Indonesia-Papua Nugini (RI-PNG).

Ciri fisiknya memang berbeda dengan prajurit Yonif 501 lainnya. Pria berusia 21 tahun ini, memang memiliki ciri khas ras melanezoid. Kulitnya hitam, rambutnya keriting cukup terlihat meski tertutup baret hijau para raidernya.

Menjadi tentara memang cita-citanya sejak kecil. Pria kelahiran Wasior tahun 1996 ini mengaku sangat bangga menjadi tentara dan terus berusaha untuk mewujudkan keinginan yang didukung oleh keluarganya ini. Dan pada 2016 lalu, anak keempat dari enam bersaudara ini pun diterima sebagai tentara.

“Penempatan pertama ya sebagai anggota Yonif Para Raider 501 ini, langsung di Madiun ini,” ungkapnya kaku.

Di antara tentara lain di Yonif 501 yang diberangkatkan ke Papua, hanya Obet yang boleh menghitung penugasannya kali ini sebagai sebuah perjalalanan mudik alias pulang kampung. Ya, ia memang kembali ke tanah kelahirannya, Papua.

“Saya kelahiran Kabupaten Wasior. Itu jauh dari tempat tugas saya. Di Desa Petiwi, atau Bewan di utara bagian perbatasan itu harus ditempuh selama satu hari. Itu perjalanan laut ya,” ungkapnya lagi.

Obet yang punya nama panggilan ‘Joko’ di antara pasukan Yonif 501 ini mengaku sudah memberi kabar kepada ‘orang rumah’ bahwa ia akan segera berangkat menuju Papua untuk tugas Pamtas. Ia memastikan keluarganya gembira karena ia bisa lebih dekat ke rumah dalam waktu sembilan bulan ini.

“Sudah telepon-teleponan, ya mereka senang, saya juga senang dapat tugas pertama yang ternyata ke Papua. Tapi ya sulit juga kalau pengen ketemu. Jaraknya ya satu hari perjalanan laut itu. Lagi pula ini kan tugas pengamanan, bukan pelesiran. Kami ini nantinya kan ke daerah konflik,” katanya sambil tersenyum.

Baca juga:   Untung Rp 750 Juta, PD Aneka Usaha Optimalkan SPBU

Namun ia berjanji tetap akan profesional dalam menjalankan tugasnya selama semblan bulan nanti. Sebab meskipun ia warga Papua, dengan ciri fisik yang sama dengan di daerah rawan tersebut, namun ia adalah aparat negara yang harus bisa menjaga keutuhan NKRI.

“Ya saya memang harus menghadapi KKSB (Kelompok Kriminal/Separatis Bersenjata) di sana. Itu saya siap. Saya tetap harus menjaga NKRI utuh, tetap satu, tetap aman. Saya ini tentara nasional Indonesia,” ucapnya bersemangat.

Selamat bertugas Obet. Mungkin ini berkah bagimu, karena penugasan pertamamu adalah di tanah kelahiranmu. Semangat TNI, semangat Yonif Para Raide 501 Bajra Yudha.

Nah guys, tentara kita bertugas menjaga perbatasan, kita juga punya tugas nih. Kita harus turut memberantas peredaran gelap barang kena cukai, seperti etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol dan rokok. Ketiganya kena cukai karena dinilai memiliki dampak negatif bagi kehidupan.

Sebagian dana cukai kembali ke pemerintah daerah. Namanya, DBH CHT atau Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau. DBH CHT merupakan dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Penggunaan DBH CHT diatur dengan ketentuan yang tertera dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 222/PMK.07/2017. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tentang Prinsip Penggunaan. Paling sedikit 50 persen untuk mendanai program/kegiatan seperti peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial; sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Sedangkan paling banyak 50 persen untuk mendanai program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

Karena cukai kembali ke kita untuk hal yang positif, maka jangan membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya. Mari menjadi pembeli bijak dengan menolak rokok ilegal.
(wshendro,dey/diskominfo)