MADIUN – Lovebird menjadi salah satu burung yang cukup digandrungi belakangan ini. Penggemarnya terus bermunculan. Beberapa dari mereka bukan sekedar menyenangi dengan memelihara. Namun, juga mengembangbiakkannya. Seperti Thobing Susilo yang sudah berternak burung cinta tersebut sejak dua tahun terakhir. Bagaimana kisahnya?

Kamar di lantai dua tempat tinggal keluarga Thobing Susilo tidak terlalu besar. Kondisi kamar 2×4 meter itu makin sempit dengan banyaknya kandang burung. Thobing memang penghobi burung. Khusunya lovebird. Sebanyak 12 pasang burung cinta menjadi tanggung jawabnya kini. Bukan hanya dipiara. Dia juga mengembangbiakkan belasan pasang burung dengan sebutan latin genus agapornis itu.

‘’Lovebird memiliki bulu yang cantik dan indah. Ini yang menjadi salah satu daya tarik burung ini,’’ kata pria 25 tahun itu.

Thobing sudah menggandrungi lovebird sejak dua tahun silam. Tak sekadar memelihara, dia juga bereksperimen. Thobing sengaja mengkawinkan berbagai jenis burungnya. Lovebird memang memiliki beberapa jenis. Biasanya tergantung warna bulunya. Di antaranya, fischeri, sable, perso, dan cobalt.

‘’Selain dari warna bulu, lovebird juga dibedakan dari warna paruhnya. Ada yang berparuh putih dan merah,’’ ungkapnya warga Kelurahan Rejomulyo, Kartoharjo itu.

Beberapa peternak, kata dia, seringkali mencoba menyilangkan kedua jenis tersebut. Jika beruntung, bisa mendapatkan keduanya. Setengah paruhnya berwarna putih. Setengahnya lagi berwarna merah. Lovebird jenis ini biasa disebut hansel. Soal harganya, jangan ditanya. Jenis hansel bisa terjual lebih dari Rp 20 juta.

‘’Tetapi tidak mudah. Kebanyakan anakannya tetap berwarna merah atau putih,’’ terangnya.

Beternak lovebird susah-susah gampang. Apalagi, burung ini hanya kawin pada satu burung jika sudah dipasangkan. Tak heran, penjodohan merupakan langkah awal. Thobing menyebut ada beberapa metode penjodohan. Di antaranya, menggunakan metode kandang sekat dan koloni.

Metode kandang sekat tidak selalu berhasil. Sebab, penjodohan sedikit dipaksakan. Dua burung lawan jenis ditempatkan pada satu kandang namun berbatas sekat. Harapannya, burung saling mengenal. Sekat membatasi agar burung tidak tarung.

‘’Burung lovebird akan saling mematuk dan mencakar jika tidak berkenan dengan jodohnya. Makanya perlu disekat dulu. Sebaliknya, akan saling mendekat jika menerima pasangannya,’’ jelas sarjana ilmu pendidikan itu.

Baca juga:   THM Wajib Tutup Satu Minggu Awal Ramadan dan Dua Hari Awal Lebaran

Durasi penjodohan berbeda-beda. Ada burung yang sudah langsung ngeklik dalam sehari. Namun, ada juga yang baru mau berpasangan setelah sepekan. Jika metode tidak berhasil, Thobing biasanya menggunakan metode kedua. Metode koloni membiarkan burung memilih pasangannya masing-masing.

‘’Burung dilepas dalam satu kandang besar dengan beberapa burung berbeda jenis di dalamnya. Burung yang selalu bersama biasanya berpasangan,’’ ujarnya sembari menyebut burung biasanya mulai dipasangkan sejak usia tujuh bulan.

Kendati sudah berpasangan, burung belum tentu bertelur dan menetas. Kadang bertelur namun tidak terbuahi sempurna. Banyak faktor yang mempengaruhi. Mulai faktor salah satu indukan hingga pakan dan kandang. Burung harus berganti pasangan jika salah satu indukannya bermasalah. Caranya, dipisah dengan pasangannya dan dijodohkan dengan yang lain.

Pakan baiknya juga tidak sembarangan. Asupan menyesuaikan masa pertumbuhan. Thobing biasanya memberi kangkung saat masa kawin. Kangkung dianggap dapat menaikkan birahi. Namun, itu hanya sebagai makanan sampingan. Makanan utamanya tetap biji-bijian hingga kwaci. Selain itu dia juga memberi bayam, jagung, dan bata merah.

‘’Lovebird memiliki kebiasan ngasin. Suka menggigit benda keras, batu bata merah atau tulang sotong baik untuk lovebird,’’ terangnya.

Love bird juga memiliki kebiasaan berbeda. Ada yang suka keramaian. Ada juga yang lebih menyenangi suasana sepi. Pemilik wajib memahami. Burung yang suka sepi bisa stress jika sering kontak dengan manusia. Beberapa burung melampiaskannya dengan mematuk telur atau anak-anaknya hingga mati.

‘’Burung juga mahkluk hidup yang memiliki rasa dan kebiasaan. Pemilik baiknya memahami karakter masing-masing burung,’’ pungkas pria yang juga menerima jasa loloh tersebut.

Itu guys, bagi penggemar lovebird tiada salahnya mencoba berternak. Siapa tahu menghasilkan. Apalagi, harga jual lovebird cukup mahal. Mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Kebersihan juga penting. Jaga selalu kebersihan kandang dan air minumnya.

Jaga juga kesehatan dan selalu patuhi peraturan. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang cukai yang beredar di tanah air. Yakni, hasil tembakau (rokok, cerutu, vapor, dll), etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan ketiga barang tersebut menggunakan pita cukai asli saat diperjualbelikan. Pelanggaran atas cukai bisa berujung pidana. So, jadi pembeli yang bijak ya. (dhevit, agi/diskominfo)