MADIUN – Becak itu melaju kencang. Si empunya cepat-cepat mengayuh saat melintas di kawasan Alun-alun Kota Madiun. Laju becak langsung berhenti tepat di utara Alun-alun bagian tengah. Bukan tengah menghampiri penumpang. Abang tukang becak itu menghampiri sekelompok orang yang tengah berbagi sedekah.

Ya, nyaris saban Kamis pagi, Yayasan Berbagi Sedekah Kota Madiun selalu berbagai rezeki bagi kaum duafa. Biasanya nasi bungkus. Sasarannya mulai tukang becak, sopir angkot, pengamen, hingga gelandangan.

‘’Nasi bungkus mungkin sepele bagi sebagian orang. Tetapi mungkin sangat berharga bagi sebagian yang lain,’’ kata Ketua yayasan Berbagi Sedekah Yuli Kriswanto, Senin (19/2).

Ada 150 bungkus nasi yang dibagi, Kamis pagi kemarin. Sebagian diberikan kesejumlah duafa di seputaran Kota Madiun. Beberapa anggota menyebar menggunakan sepeda motor. Terik matahari tak menyurutkan semangat mereka berbagi. Keringat dan lelah seakan terbayar lunas melihat senyum bahagia kaum duafa yang terbantu.

‘’Tidak ada tedensi apa-apa. Ini murni kegiatan sosial,’’ ujarnya.

Bukan hanya nasi bungkus. Pria yang akrab disapa Ipul ini juga berbagai sedekah dalam bentuk lain. Ada sembilan program. Mulai berbagai duafa, ilmu, bencana, yatim piatu, rumah, bea siswa, benda, dan berbagai sosial. Berbagi duafa lebih kepada nasi bungkus. Namun, nasi biasanya diganti uang santunan saat Ramadan.

Sedang, berbagai ilmu, pihaknya memberikan pelatihan kepada masyarakat yang membutuhkan. Pelatihan sablon dan fotografi dua kegiatan yang pernah dilakukan. Pihaknya, juga peduli korban bencana. Mulai penggalangan dana hingga penyalurannya. Berbagi yatim piatu lebih mengutamakan anak-anak kurang beruntung tersebut.

‘’Kami juga memberikan bantuan modal untuk renovasi rumah untuk program berbagi rumah. Khusus ini kami melakukan survei terlebih dahulu,’’ ungkap warga Perum Sogaten itu.

Begitu juga dengan berbagi bea siswa. Pihaknya lebih dulu melakukan survei. Mulai prestasi anak hingga latar belakang keluarganya. Biasanya, pihaknya berkoordinasi dengan pihak sekolah. Sedang, berbagi benda lebih seperti penyaluran benda bekas pakai dan baru hasil sedekah dermawan.

Baca juga:   Tenang Saja, Kota Madiun Belum Akan Diterpa Hujan Deras

‘’Kami pernah memberikan tabung gas kepada penjual mie ayam dan sepeda. Ada juga beberapa pakaian bekas dan baru,’’ terang pria 47 tahun itu sembari menyebut berbagai sosial lebih kepada santunan orang sakit hingga meninggal.

Dana yang terkumpul dari berbagai sumber. Mulai iuran anggota hingga donatur. Ada sekitar 15 anggota tetap yang sekaligus menjadi pengurus. Sedang, anggota tidak tetap mencapai 150 orang. Mereka berangkat dari berbagai latar belakang pekerjaan. Bukan hanya yang berasal dari keluarga mampu. Namun, ada juga yang dari tingkat ekonomi menengah kebawah.

‘’Berbagi itu memang tidak perlu menunggu kaya. Tetapi ada yang bilang berbagilah hingga menjadi kaya,’’ tuturnya.

Sasaran berbagi tidak hanya masyarakat di Kota Madiun. Namun, juga masyarakat di luar kota pecel. Kendati begitu, masyarakat Kota Madiun prioritasnya.

Bagaimana Yayasan Terbentuk?

Yuli menyebut yayasan terbentuk setahun lalu. Cerita dimulai saat dirinya mendapat musibah. Rumahnya roboh tersapu angin. Musibah bukan lantas membuatnya jatuh. Sebaliknya, pemikiran untuk berbagai kepada sesame mengemuka. Bersama sejumlah temannya, dia mulai berencana berbagai hingga akhirnya terkumpul anggaran yang kemudian dibelikan nasi bungkus dan dibagikan ke masyarakat.

‘’Kegiatan berbagai kami terdengar dari mulut ke mulut hingga akhirnya banyak yang bergabung. Alhamdulillah sekarang sudah berakta notaris,’’ pungkasnya.

Nah itu guys, berbagi tidak perlu menunggu kaya. Tetapi baiknya mulai berbagi hingga menjadi kaya. Berbagi tidak perlu yang besar dan banyak. Dimulai dari yang sedikit. Sebab, berbagi juga perlu dilatih. Dan latihan umumnya dari yang kecil.

Jaga terus kesehatan dan selalu patuhi atura. Patuhi juga aturan cukai. Ada tiga barang cukai yang beredar di tanah air. Yakni, hasil tembakau (rokok, cerutu, vapor, dll), etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol. Pastikan ketiga barang tersebut menggunakan pita cukai asli saat diperjualbelikan. Pelanggaran atas cukai bisa berujung pidana. So, jadi pembeli yang bijak ya. (ws hendro, agi/diskominfo)