MADIUN – Menangani orang dengan gangguan jiwa bukan perkara mudah. Salah-salah nyawa taruhannya. Apalagi jika orang yang ditangani sudah dalam tingkatan berat, sering mengamuk hingga menggunakan senjata tajam. Kondisi seperti itu menjadikan masyarakat memandang sebelah mata. Namun, tidak dengan relawan Madiun Care. Mereka getol mengabdikan diri melakukan pendampingan kepada masyarakat dengan berbagai masalah sosial tersebut. Bagaimana kisahnya?

TANGAN Bima Primaga Yudha cepat menulis di selembar kertas di depannya. Dia menulis data yang cukup penting dari seseorang yang terindikasi depresi ringan. Sebab, jawaban dari orang tersebut ngelantur kemana-mana. Kondisi kian mendesak setelah orang yang bersangkutan tak membawa secuilpun identitas.

‘’Mumpung dia mau diajak berkomunikasi. Kondisi psikis orang seperti ini cepat sekali berubah,’’ kata Bima, Senin (26/2).

Bersama temannya di tim relawan Madiun Care, Bima getol menangangi orang-orang dengan gangguan jiwa tersebut. Bukan hanya mendata, dia mencoba menelusuri riwayat dan latar belakang orang tersebut. Data yang terkumpul lantas dikoordinasikan dengan petugas dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PP dan PA) Kota Madiun. Data menjadi acuan penanganan lebih lanjut.

‘’Kami sudah beberapa kali terlibat dalam pengobatan masyarakat dengan gangguan jiwa ke rumah sakit,’’ ujarnya.

Bima dkk turut mengantarkan pasien hingga ke rumah sakit jiwa. Kebanyakan ke RSJ Dr Radjiman W. Lawang di Malang. Pihaknya sudah mendampingi 120 pasien Sejak dua tahun terakhir. Sembari mengantar pasien baru, mereka juga menengok pasien lama. Beberapa di antaranya, ada yang sembuh total. Bahkan, ada yang sudah bisa bekerja layaknya masyarakat umumnya kini.

‘’Mereka yang sudah dinyatakan sembuh tetap kami pantau terus. Tentunya dengan berkoordinasi dengan dinas terkait,’’ terangnya.

Orang dengan gangguan jiwa, kata dia, butuh perhatian khusus. Bukan hanya sekedar obat maupuan perawatan di rumah sakit. Namun, pendampingan, kepedulian, hingga empati. Sebab, mereka cukup minim perhatian hingga kurangnya pengakuan dari masyarakat. Sebaliknya, seringkali dikucilkan dan dipandang sebelah mata. Padahal, mereka juga manusia. Hanya, mengalami masalah kejiwaan karena masalah yang pastinya tidak ingin mereka temui.

Baca juga:   Kedatangan Tamu Anak-Anak TK, Polres Madiun Kota Kenalkan Fungsi dan Tugas Kepolisian

‘’Penyembuhan cukup sulit tanpa dukungan dari keluarga hingga lingkungan masyarakat. Makanya, kami juga berupaya mengembalikan kepercayaan masyarakat,’’ jelasnya.

Madiun Care berdiri sejak tiga tahun terakhir. Bima dkk awalnya hanya membantu masyarakat dengan berbagi nasi bungkus. Kegiatan berkembang dengan melakukan pendampingan masyarakat kurang beruntung yang menderita penyakit fisik. Mulai tumor hingga kanker. Pendampingan yang dilakukan beragam. Mulai mengantarkan pasien berobat, membantu kepengurusan administrasi, hingga kepengurusan berbagai jaminan kesehatan.
‘’Setahun kemudian, kami mulai menangani orang dengan gangguan jiwa. Bukan hanya di Kota Madiun. Tapi juga di luar daerah,’’ tuturnya.

Awal penanganan orang dengan gangguan jiwa tak mudah. Apalagi, pasien yang ditangani tak kooperatif. Kerap mengamuk dengan memakai senjata tajam. Pendekatan dilakukan hingga akhirnya luluh. Bima menyebut orang dengan gangguan jiwa tidak bisa diperintah langsung. Pihaknya harus mengikuti apa yang diinginkan mereka terlebih dahulu hingga akhirnya luluh.

‘’Harus mengetahui apa yang diinginkan jangan langsung ditekan. Istilahnya, menangani orang gila juga harus menggila dulu,’’ pungkasnya sembari menyebut hanya memiliki tiga anggota aktif sampai saat ini.

Itu guys, penanganan orang dengan gangguan jiwa tidak cukup hanya dengan obat dan perawatan di rumah sakit. Butuh support dari keluarga dan masyarakat. Mereka tidak boleh dikucilkan. Apalagi, penyebab masalah kejiwaan yang mereka alami beragam. Pastinya, bukan karena keinginan mereka. Beruntung masih ada segelintir orang yang peduli dengan nasib mereka seperti relawan Madiun Care.

Jaga terus kesehatan dengan rajin berolahraga dan istirahat cukup. Jangan racuni tubuh dengan mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok. Bagi kalian yang merokok, jangan beli rokok illegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai, berpita cukai palsu atau berpita cukai tak sesuai peruntukan. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Salah satunya, dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT). So, jadi pembeli yang bijak ya. (dhevit-agi/diskominfo).