MADIUN – Melatih kemampuan bernyanyi semakin banyak caranya. Menguji suara lewat konser mini, juga mengunggah penampilan lewat media sosial. Inilah yang dilakukan Neny Widyastuti, pemilik kursus olah vokal Voice Corner di kawasan Kelurahan/Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun.

Menurut Neny, langkah-langkah untuk membentuk penyanyi memang semakin beragam. Pelajaran paling dasar tetaplah melatih kemampuan menyanyi dengan membenarkan produksi notasi, mempelajari tempo, memahami feel atau rasa sebuah lagu, penghayatan lirik sampai pada ekspresi di panggung.

“Kalau yang paling mendasar ya agar bisa menyanyikan lagu dengan benar, tidak fals,” ungkap Neny kepada madiuntoday, Selasa (27/2/2018).

Namun lebih dari itu, belajar menyanyi menjadi sebuah aktifitas yang berbeda dari sekedar penyaluran hobi dan kesenangan. “Dari belajar menyanyi dengan benar, maka ada pribadi yang baik. Karena di sana ada disiplin, teamwork dan sebagainya. Harus singkron dengan musik, gitu kan,” ujarnya.

Neny mengatakan, sudah terbukti memang menyanyi memberikan banyak manfaat. Terutama untuk mereka yang menekuninya.

“Sekarang banyak instansi yang menginginkan ada orang-orang yang bisa bernyanyi di lingkungannya. Di sekolah, ada juga pelajaran yang ujiannya harus dengan menyanyi, misalnya pelajaran bahasa inggris. Dan, murid kami cukup terbantu dengan latihan yang berada di sini,” ujarnya.

Disebutnya, cukup banyak prestasi yang telah ditorehkan murid-murid Voice Corner. Mulai dari finalis Idola Cilik di salah satu Stasiun TV Swasta, juara harapan BRTV tingkat nasional, Indonesia Idol dan sejumlah kompetisi menyanyi.

“Potensi di Kota Madiun untuk tarik suara itu besar dan tidak kalah dengan kota-kota lain. Hanya saja, kompetisi atau audisi yang sampai ke kota kecil seperti Kota Madiun ini memang sedikit. Jadinya, ajang untuk mengasah kemampuan sebagai penyanyi kami rasa kurang,” ulasnya.

Tetapi hal ini tidak membuat Neny dan para muridnya menyerah. Mereka menempuh berbagai cara untuk bisa mengorbit, atau setidaknya membentuk mental mereka untuk menjadi penyanyi.

“Kalau yang konvensional ya leawt konser mini tiga bulanan atau enam bulanan. Belasan murid akan tampil di panggung kecil di tempat umum. Setelah itu, ada juga konser besar yang yang belum tentu setahun sekali, itu kolaborasi dengan penari dan model. Yang agak lain, kami pilih tampil di media sosial, channel video lah,” kata Neny.

Baca juga:   Waspada Peningkatan Potensi Hujan Lebat Dan Gelombang Tinggi di Akhir Pekan

Neny menilai, tampilnya mereka di channel video media sosial sangat membantu para muridnya. Dengan diproduksi secara serius, video klip yang diunggah dari para muridnya menjadi sarana paling pas mendorong muridnya untuk semakin maju. Lagunya, biasanya meng-cover lagu-lagu yang sedang hits atau lagu yang mereka sukai.

“Satu, mereka bisa mengevaluasi suaranya dan tehnik menyanyinya. Kedua, mereka bisa kerja tim karena prodses produksi melibatkan banyak orang. Ketiga bisa buat koleksi pribadi dan mengukur penampilan dengan melihat like atau viewersnya. Dan yang paling utama adalah menghilangkan demam panggung. Kalau audisinya jarang, festival jarang maka melalui channel video di medsos adalah pilihan untuk uji mental dan terbukti membuat anak-anak semakin terbentuk menjadi penyanyi,” pungkasnya.

Nah, guys, kemajuan teknologi dan penggunaan internet secara bijak memang bisa jadi pilihan untuk meningkatkan kemampuan kita di bidang apapun. Tapi jangan lupa ya guys, kita harus turut memberantas peredaran ilegal rokok ilegal agar cukainya terselamatkan. Sebab sebagian dana cukai kembali ke pemerintah daerah. Namanya, DBH CHT atau Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau.

DBH CHT merupakan dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Penggunaan DBH CHT diatur dengan ketentuan yang tertera dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 222/PMK.07/2017. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah tentang Prinsip Penggunaan. Paling sedikit 50 persen untuk mendanai program/kegiatan seperti peningkatan kualitas bahan baku; pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial; sosialisasi ketentuan di bidang cukai; dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal. Sedangkan paling banyak 50 persen untuk mendanai program/kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah.

Karena cukai kembali ke kita untuk hal yang positif, maka jangan membeli rokok ilegal. Rokok ilegal adalah rokok tanpa pita cukai, dipasangi pita cukai palsu atau berpita cukai yang bukan peruntukannya. Mari menjadi pembeli bijak dengan menolak rokok ilegal.
(dhevit,dey/diskominfo)