Bau campuran cengkih dan tembakau seringkali terasa pengar di hidung orang yang jarang menciumnya. Tapi tidak bagi 49 pekerja Pabrik Rokok Tebu di Jalan Panglima Sudirman Kota Madiun. Aroma itu telah menemani separuh hidup mereka hingga di usia senja.

Pabrik rokok yang berdiri sejak 1972 itu memang diisi oleh para pekerja dengan usia yang sudah tidak lagi masuk kategori produktif. Sebagian besar adalah perempuan. Di aula berukuran 12×15 meter, mereka duduk bersila, berjajar, dan saling berhadapan memproses berbagai bahan untuk menjadi rokok klobot.

Tangan-tangan renta itu cekatan menjumput lalu membungkus campuran tembakau dan cengkih dengan kulit jagung. Takaran mereka sudah pas. Kulit jagung kemudian dipilin dan diikat dengan tali senar tipis. ‘’Sudah 37 tahun di sini,’’ jawab Kasinem saat ditanya lamanya bekerja di pabrik rokok itu.

Pabrik Rokok Tebu bukan tempat kerja pertama bagi perempuan asli Magetan itu. Sejak pindah ke Madiun pada 1965, dia menggantungkan nasib di perusahaan rokok. Setelah perusahaan pertama yang diikutinya gulung tikar, dia pindah ke pabrik di Jalan Panglima Sudirman itu.

Di usianya yang sudah berkepala enam, Kasinem masih harus bekerja. Tiga putranya tinggal di luar kota. Sedangkan, becak yang dikayuh suaminya tak lagi mampu memenuhi pundi-pundi rupiah. ‘’Selagi masih bisa bekerja ya bekerja,’’ ungkapnya sembari menyuap nasi goreng, menu sarapannya pagi itu.

Baca juga:   Kenalkan Alutsista Lebih Dekat, Hanudnas Ajak Siswa Kunjungi Lanud Iswahjudi

Tak jauh berbeda dengan Tuminem. Warga Jalan Kampar itu sudah lebih dari 15 tahun bekerja di Pabrik Rokok Tebu. Setiap seribu lintingan rokok, dia mendapatkan upah Rp 38 ribu. Kegiatan itu dikerjakannya mulai pukul 07.00 hingga 13.00.

Di usianya yang senja, Tuminem mengaku belum ingin berhenti bekerja. Suaminya baru saja meninggal. Dia juga tidak memiliki anak. Rasa sepi sering menghantui ketika sendirian di rumah. ‘’Enak di sini banyak temannya, bisa guyon-guyon,’’ ujarnya.

Dua jam berlalu, tampah milik Tuminem baru terisi 100 batang rokok. Setiap 20 batang dibendel jadi satu. Meski cekatan, tangannya tak lagi lincah untuk bergerak lebih cepat. Karena itu, dia hanya diberi tugas melinting 1.000 batang. ‘’Kalau yang lebih muda dikasih 1.500,’’ terang Soimin, mandor di Pabrik Rokok Tebu.

Soimin lantas bercerita, dulu ketika awal berdirinya pabrik, jumlah pegawai mereka mencapai 150 orang. Seiring berjalannya waktu, para pekerja semakin sedikit. Semuanya berusia lanjut. ‘’Paling muda di sini umur 40-an,’’ ucapnya.

Meski tak sejaya dulu, rokok klobot masih punya penikmatnya. Setelah jadi, rokok didistribusikan ke Caruban, Nganjuk, dan Ngawi. Soimin berharap, pabrik rokok klobot tetap bertahan untuk menghidupi para buruh setianya. (irs)