KARTINI dulu dan sekarang tentu berbeda. Kartini dahulu memperjuangkan pendidikan bagi kaum hawa agar bukan sekedar menjadi konco wingking. Pada masa kini semangat yang sama dituangkan kaum perempuan untuk berupaya diberbagai bidang usaha. Bukan hanya sekedar berupaya. Namun, juga menghasilkan berbagai karya luar biasa. Seperti Sri Wuryanti yang getol berkarya dalam seni rajut.

Berbagai kerajinan rajut hasil karya warga Jalan Ki Ageng Pemanahan 2A, Selo Kanigoro Kota Madiun ini telah mengisi sejumlah pameran. Bukan hanya di kota pecel. Namun, juga diberbagai kota besar. Terdekat, karyanya bakal turut meramaikan Pekan Raya Jakarta 10 Juni hingga 17 Juli mendatang. ‘’Perempuan sekarang harus berdaya. Tidak harus dengan sesuatu yang besar. Tetapi bisa dimulai dari yang kecil,’’ kata perempuan 54 tahun itu.

Karya rajutnya sudah tak terhitung jumlahnya. Bahka, Cicit –sapaanya- telah memiliki galeri prinadi bernama Vina Collection. Bermacam tas digantung dan dipamerkan di sana. Tidak hanya itu beraneka pasang sepatu dan baju hasil kreasi rajut juga tersusun rapi di dalam rak dan etalase toko. Pesanan terus berdatangan. Berbagai karya terus dia hasilkan.

Tak heran, Cicit pantas disebut pejuang Kartini jaman now. Bukan hanya berhasil berdaya. Dia juga getol membantu sesamanya. Karyanya menjadi rujukan bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Madiun dan sekitar. Pun, Cicit juga tak irit berbagi ilmu. Bakat dan keahliannya juga ditularkan kepada sesama perempuan sekitar tempat tinggalnya. Bahkan, tidak jarang memberikan pelatihan kepada laki-laki. ‘’Kalau dapat memberikan manfaat kepada sesama, kenapa tidak,’’ ujarnya.

Kemampuan Cicit bukan datang begitu saja. Berawal saat masih mengenyam pendidikan di jenjang SMP, Cicit remaja seringkali memperhatikan ibunya membuat sprei dari teknik rajutan. Dia mencoba mengkreasikan benang-benang sisa rajutan milik ibunya itu menjadi sebuah karya. Tak diduga, sebuah boneka kecil itupun jadi. Boneka kecil hasil rajutan tangan mungilnya saat itu menarik perhatian teman-temannya sekolah. ‘’Kebanyakan untuk dijadikan buah tangan,’’ ujarnya.

Itu memantik semangatnya berkarya. Dia mulai memproduksi rajutan meski skalanya masih kecil. Mulai sarung bantal hingga taplak meja dan kursi. Pemesan masih sebatas tetangga dan kolega ibunya. Usahanya baru mulai serius pada 2010. Modal awalnya sekitar Rp 10 juta. Pun, itu hanya untuk belanja bahan dan alat-alat untuk merajut. Cicit mulai merambah produksi sepatu dan tas rajut dua tahun setelahnya. ‘’Yang penting jalan dulu. Ide pasti berkembang setelah usaha jalan,’’ tegasnya.

Baca juga:   Fulgentius Dio, Lettu Penerbang Termuda Saat Akrobatik Udara Rangkaian Serah Terima

Capaian tentu bukan tanpa kendala. Cicit pernah kesulitan mencari bahan yang sesuai. Bahkan dia harus membeli bahan baku mulai dari Solo, Jogja hingga Surabaya. Belum lagi masalah pemasaran. Cicit sempat menjual produknya dengan harga yang cukup miring dengan tanpa mengurangi kualitas. Waktu pembuatan juga menjadi kendala tersendiri. Dalam sehari Cicit mengaku dapat menghasilkan dua sampai tiga pasang sepatu. Sedang, untuk tas dan baju prosesnya sedikit lama. Dia membutuhkan waktu seminggu untuk satu sampai dua buah produk. Bahkan ada yang hingga memakan waktu dua bulan untuk pembuatan sprei rajut. ‘’Belum bisa banyak karena memang saya kerjakan sendiri,’’ ujarnya.

Kendala perlahan mulai tersolusi seiring waktu berjalan. Usaha terus berkembang. Hasil usahanya cukup membantu biaya sekolah ketiga putrinya hingga kuliah. Anak pertama Cicit yang benama Nurina tercatat sekarang menjadi Peneliti Nyamuk DBD di kampus UGM. Sedang Devina, anak yang keduanya, sedang menjalani perkuliahan di UNS sembari menjadi talent model hijab. Anak ketiganya masih mengenyam pendidikan di jenjang sekolah menegah kejuruan di Kota Madiun. ‘’Sebagai seorang ibu, saya juga tetap harus menjalankan kewajiban diluar pekerjaan. Terutama waktu untuk anak-anak dan suami,’’ ujarnya.

Seiring berjalannya waktu usaha rajutan milik Sri Wuryanti semakin dikenal masyarakat hingga dinas terkait. Tak ayal, berbagai tawaran menjadi narasumber datang silih berganti. Terutama saat kegiatan pelatihan yang diselenggarakan dinas yang membidangi pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Madiun. ‘’Seringnya saat kegiatan pelatihan di kelurahan dari Dinas Koperasi. Alhamdulillah, banyak yang berhasil,’’ ungkapnya sembari menyebut berharap dapat berperan mengurangi pengangguran.

Tidak hanya itu, dia juga pernah diminta melakukan pembinaan di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Dia juga mengikuti berbagai pameran setelahnya. Salah satunya, seleksi kurasi dan gebyar UKM yang diselenggarakan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah bekerja sama dengan Dinas Perekonomian Provinsi di Surabaya. Usaha rajutnya mendapat penghargaan dengan berhasil meraih nilai yang tinggi. ‘’Menjadi pengusaha harus aktif mengikuti event. Paling tidak menambah pengalaman,’’ ujarnya sembari menyebut dia berhak mengikuti Pekan Raya Jakarta sekitar Juni mendatang.

Cicit berharap adanya wadah bagi para perajut di Kota Madiun. Ini penting sebagai wadah bagi para perajut untuk bertukar pikiran serta saling membantu dalam proses produksi dan penjualan. ‘’Dengan adanya komunitas, paling tidak setiap kendala yang ditemui dapat tersolusikan bersama-sama,’’ ujar perempuan yang juga mempunyai salon dan laundri ini. (hesa/benc/agi/diskominfo).