Gedung Sri Ratu yang sedang direhab. Akan mendapat nama baru, Plaza Lawu. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Langkah PT Sri Tananya Megatama (STM) memanfaatkan aset bangunan Pemkot Madiun tampaknya tak berjalan sesuai rencana. Bagaimana tidak, rehab gedung eks Sri Ratu yang disewa perusahaan asal Semarang tersebut tak sesuai progres. Proses rehab malah minus 7,6 persen saat ini. Pengerjaan rehab gedung baru berjalan 59 persen. Idealnya sudah mencapai 66 persen lebih. Akibatnya, soft opening Plaza Lawu Madiun (PLM) –nama pengganti Sri Ratu Mall- terancam molor dari jadwal.

‘’Soft opening dijadwalkan 12 November mendatang. Sedangkan, progres (pengerjaan) malah minus 7,6 persen. Ini harus segera dicarikan solusi agar terkejar. Pertemuan ini membahas itu,’’ kata Pj Sekda Kota Madiun Rusdiyanto saat rapat koordinasi di Ruang 13, Kamis (26/7/2018).

Pemkot sengaja mengundang PT STM (penyewa), PT Prawira Kwarta Buana (pelaksana proyek), dan PT Pilarempat Consultan (pengawas) dan sejumlah instansi terkait dalam koordinasi. Ini penting untuk mencari solusi agar proyek kembali sesuai rencana.

Rehab gedung memang menjadi salah satu komitmen dalam perjanjian kerja sama pemanfaatan (KSP) antara Pemkot Madiun dengan PT STM. Bahkan, penyewa sepakat menyelesaikan rehab sebelum 21 November nanti. Namun nyatanya, progres belum signifikan hingga saat ini. Pemkot ogah menutup mata. Pihaknya langsung mendorong penyewa agar segera menyelesaikan pekerjaan sesusai jadwal.

‘’Penyewa yang paling dirugikan seandainya molor. Pemkot sebagai pemilik tidak ingin itu terjadi. Kami tetap harus turut membantu mencarikan solusi. Karena bagaimanapun juga keberadaan investor berkontribusi terhadap pemda maupun masyarakat,’’ ujarnya.

Baca juga:   Gemeesssss.... Kalau Anak PAUD Dikenalkan Sadar Bencana

PT STM paling tidak telah menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 1,25 miliar sebagai kontribusi tetap. Itu wajib dibayarkan setiap tahunnya. Bahkan, nilainya meningkat lima persen setiap lima tahun sekali. Ini sudah mendekati pembayaran tahun kedua. Besaran itu belum termasuk duit Rp 31 miliar yang diinvestasikan PT STM untuk rehab gedung. Pemkot masih akan menerima sharing profit sebesar 7,5 persen dari keuntungan yang diperoleh setiap tahunnya.

‘’Investasi yang diberikan kepada pemda sudah cukup besar. Kami tidak ingin investor merugi dengan molornya operasional pemanfaatan gedung. Makanya kami fasilitasi untuk koordinasi,’’ ungkapnya sembari Sekda menyebut perjanjian bisa saja batal jika aset terbengkalai selama dua tahun setelah perjanjian.

Alasan pemkot bukan sekedar besaran investasi. Namun, juga manfaat yang bakal dirasakan masyarakat. PT STM mengaku siap menyerap ratusan tenaga kerja dengan mengutamakan warga Kota Madiun. Selain itu, penyewa juga bersedia menyediakan stan untuk UKM Kota Madiun dengan harga khusus.

Manager Bidang Property PT STM Wibowo menyebut keterlambatan pengerjaan bukan tanpa sebab. Salah satunya, perubahan desain yang diajukan tenant. Pihaknya memang menyewakan space untuk tenant. Perjanjiannya, pihaknya wajib menyediakan desain tenant sesuai penyewa. Pihaknya mengaku bakal meminta pelaksana menambah pekerja jika desain sudah benar-benar fix.

‘’Harapan kami tetap selesai sesuai jadwal. Kami akan kerjakan sebaik mungkin,’’ katanya. (dhevit/ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan tidak mengkonsumsi narkoba, miras, dan rokok ilegal. Mulai rokok polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Dengan membayar cukai sesuai aturan berarti turut berkontribusi pada negara dan masyarakat.