Panggung yang membangkitkan suasana romantisme di tengah alunan musik dari para musisi profesional. (wshendro - madiuntoday)

BANJARNEGARA – Sejak 2010, Dieng Culture Festival (DCF) telah menjadi agenda rutin yang menyedot perhatian wisatawan. Baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Bahkan, hingga sembilan tahun perhelatannya, kehadiran DCF tetap dinanti oleh penikmatnya.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa ini memang patut menjadi perhatian. Tak sekedar menyajikan pemandangan indah di atas gunung, DCF memanjakan pengunjung dengan berbagai pagelaran budaya. Baik tradisional maupun kontemporer.

Sebut saja Jazz Atas Awan yang membangkitkan suasana romantisme di tengah alunan musik dari para musisi profesional. Kemudian, ada Festival Lampion yang membawa kehangatan dalam dinginnya hawa gunung pada puncak musim kemarau. Hingga, ritual sakral yang sangat dinanti. Yakni, pemotongan rambut gimbal sebagai acara pamungkas.

Selain itu, masih banyak rangkaian acara lainnya yang sayang untuk dilewatkan. Juga, fenomena alam embun upas yang menyebabkan Dataran Tinggi Dieng diselimuti butiran es seperti salju. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Kesuksesan DCF tak lepas dari peran Pokdarwis Dieng Pandawa dalam meningkatkan pariwisata di wilayahnya. Berawal dari kekhawatiran akan terkikisnya budaya lokal karena perkembangan industri pariwisata, kelompok inipun berhasil mengangkat keduanya tanpa menghilangkan kearifan lokal.

Baca juga:   Permainan Hingga Kuis, Begini Keseruan Pameran SAIK 2018

DCF kini tak hanya sebagai ajang promosi wisata daerah. Tetapi juga menjadi cara bagi warga Dieng untuk melestarikan budaya yang mereka miliki. Seiring perkembangannya, peningkatan pariwisata semakin mengangkat perekonomian masyarakat sekitar. Saat ini, pariwisata menjadi penopang ekonomi masyarakat selain sektor pertanian.

Dari data yang dilampirkan dalam situs resmi Dieng Pandawa, peningkatan jumlah wisatawan lokal sejak 2012-2016 mencapai puluhan ribu orang. Peningkatan tertinggi terjadi pada 2014 untuk pengunjung yang mengambil 1 paket wisata. Dari 114.828 orang pada 2013 meningkat menjadi 174.174 pengunjung pada tahun berikutnya.

Sedangkan, jumlah wisatawan lokal yang mengambil lebih dari 2 paket wisata pun tak kalah meningkat. Terutama, di tahun 2016. Tahun sebelumnya, jumlah wisatawan yang mengambil lebih dari dua paket wisata ada 17.35 orang. Kemudian, di 2016 meningkat drastis menjadi 59.532 pengunjung.

Sementara itu, data jumlah wisatawan mancanegara pun tak kalah meningkat. Ribuan orang dari berbagai belahan dunia rupanya masih menaruh perhatian pada pagelaran budaya tersebut.

Dengan demikian, otomatis DCF mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Mulai dari pemilik usaha homestay, makanan lokal, kerajinan, guide, persewaan alat-alat camping, hingga petugas keamanan dan parkir. (WS Hendro, irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dan jauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.