Kerajinan yang menggabungkan listrik dan seni itu tidak dikerjakan sendiri. Ada tiga orang lainnya dalam tim inti yang mengerjakan Laron. (dhevit - madiuntoday)

MADIUN – Industri kreatif mengalami perkembangan yang sangat pesat saat ini. Tak hanya didorong untuk menciptakan ide-ide baru, para pelaku usaha juga dituntut pandai menangkap peluang. Salah satunya, memanfaatkan benda-benda tak terduga di sekitarnya.

Peluang itulah yang dikembangkan oleh para mahasiswa dari Universitas Widya Mandala (Wima) Madiun. Mereka menyulap pipa paralon menjadi benda cantik yang bernilai jual. ‘’Namanya Laron. Akronim dari Lampu Paralon,’’ tutur Wakil Ketua Kewirausahaan Mahasiswa Wima Kurnia Husni Tabran Rusyadi.

Kerajinan yang menggabungkan listrik dan seni itu tidak dikerjakan sendiri. Ada tiga orang lainnya dalam tim inti yang mengerjakan Laron. Selain Tabran juga ada Andika Adityan Afanda, Abrian Pangestu, dan Ahmad Herdiansyah. Namun, dalam proses pembuatannya, mereka juga dibantu oleh teman-teman lainnya dari Jurusan Teknik Industri.

Pada dasarnya, pipa paralon dipotong dengan ukuran 40 sentimeter. Kemudian, bagian tengahnya dibor membentuk gambar tertentu. Setelah itu dicat sesuai keinginan pelanggan dan dipasang lampu di bagian dalam pipa. Jadilah lampu paralon yang cantik sebagai penghias ruangan.

Meski demikian, proses pembuatannya tak semudah yang dibayangkan. Butuh kesabaran, ketelitian, dan ketelatenan dalam menyelesaikan sebuah karya. Untuk gambar yang sederhana, tim Laron bisa menyelesaikan tiga paralon dalam 2 pekan. Namun, untuk gambar yang rumit, bisa lebih dari sepekan untuk menyelesaikan satu pipa saja.

Setiap tahapan juga dikerjakan oleh orang yang berbeda-beda sesuai dengan keahliannya. Mulai dari yang bertugas menggambar, mengebor, finishing, hingga pemasangan alat-alat listrik. Sehingga, hasilnya pun lebih maksimal.

Baca juga:   Jaga Pakan dan Kenali Karakter

Meski begitu, setiap Laron dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Antara Rp 75 ribu – 100 ribu. Harga disesuaikan dengan tingkat kesulitan gambar. Para pemesan bisa mengajukan gambar sesuai keinginannya. ‘’Tidak harus bentuknya tabung begini. Bisa juga custom yang ingin paralonnya dibentuk macam-macam,’’ imbuhnya.

Saat ini, promosi penjualan Laron dilakukan dari mulut ke mulut sesama civitas akademika Wima. Mereka juga memasang iklan melalui media sosial. Peminatnya pun cukup banyak. Bahkan, sebagian karya tersebut sudah dikirim ke luar daerah Madiun.

Sementara itu, Pendamping Usaha Laron L. Anang Setyo Waluyo menjelaskan, awal mulanya karya mahasiswa tersebut merupakan bagian dari mata kuliah. Namun, kampus ingin lebih memaksimalkan potensi mahasiswa. ‘’Tidak sekedar jadi tugas mata kuliah saja, tetapi jadi karya yang benar-benar nyata dan berpeluang menghasilkan,’’ tutur Dekan Fakultas Teknik Wima itu.

Tak melulu menggunakan metode dasar, karya yang telah mendapatkan dana hibah Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) 2017 dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi itu juga terus dikembangkan agar tidak monoton.

Selain tim inti, prakarya Laron juga diajarkan kepada mahasiswa lainnya. Anang berharap, sharing ilmu ini dapat menjadi bekal para mahasiswa setelah lulus kuliah nanti. Sehingga, tidak hanya berpikir untuk mencari kerja saja. Tapi, juga berkesempatan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Pihak kampus pun terus mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya-karya yang bernilai jual. Juga, berupaya membantu dalam proses pengembangannya. Bahkan, membuatkan website khusus bagi para mahasiswa untuk mempromosikan karyanya.

‘’Ke depan, kami berharap karya-karya mahasiswa ini dapat terus berkelanjutan dan dapat menular ke adik-adik tingkatnya. Juga, melahirkan ide-ide kreatif lainnya yang memberikan peluang wirausaha bagi mahasiswa,’’ tandasnya. (Dhevit/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dan jauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.