Founding Father Paguyuban Pencak Silat Madiun, Kombespol Anom Wibowo (batik merah) bersama 11 ketua perguruan yang mencanangkan Madiun Kampung Pesilat. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Pencak silat merupakan ciri khas Kota Madiun. Menjadi urat nadi. Seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tak heran, istilah Madiun Kampung Pesilat mengemuka. Ini wajar lantaran belasan perguruan pencak silat ada di Kota Madiun. Delapan di antaranya berpusat di kota pecel ini. Tak ayal, jika sebagian besar masyarakat Kota Madiun merupakan pendekar.

Banyaknya perguruan ini memicu berdirinya Paguyuban Pencak Silat (PPS) di Kota Madiun 2013 silam. Tujuannya jelas, sebagai wadah silaturahmi antar warga perguruan. Ini penting mengingat perjalanan panjang perguruan di Kota Madiun yang dinamis.

‘’Paguyuban ini berawal dari ide Kapolres Madiun Kota waktu itu yang ingin mewadahi perguruan yang ada dalam satu tempat. Setelah dilakukan koordinasi antar ketua perguruan maka diputuskan adanya satu paguyuban,’’ kata Ketua Paguyuban Pencak Silat Moerdjoko Hadi Widjojo.

Paguyuban resmi berdiri 3 Oktober 2013. Pembentukan disaksikan Kapolda Jawa Timur dan Menteri Pemuda dan Olahraga kala itu. Yakni, Irjen Pol Unggung Cahyono dan Menpora Roy Suryo. Bertempat di Asrama Haji Kota Madiun, sebelas perguruan yang ada sepakat berpartisipasi menciptakan situasi kemanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Yakni Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Tunas Muda, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Persaudaraan Setia Hati Tuhu Tekad, IKS Kera Sakti, Ki Ageng Pandan Alas, Tapak Suci, Pro Patria, Persinas ASAD, Merpati Putih, Pagar Nusa dan Cempaka Putih. Kesebalas perguruan silat di Madiun tersebut bersatu padu, bersama sama merawat warisan budaya dan ciri khas Bangsa Indonesia yang sudah diakui dunia.

Ketua Umum PSHT Pusat Madiun Tarmadji Boedi Harsono dipilih sebagai ketua paguyuban kala itu. Sedang, masing-masing ketua sepuluh perguruan lain menjadi wakil ketua. Sinergitas antar perguran benar terjalin baik setelah paguyuban terbentuk. Moerdjoko menyebut pertemuan tingkat ketua perguruan rutin digelar setiap dua bulan sekali. Tempatnya, sengaja berpindah dari satu perguruan ke perguruan lain.

‘’Ini terbukti efektif meredam gesekan yang mungkin muncul antar warga perguruan. Terbukti dengan semakin menurunnya tingkat kejadian setelah paguyuban terbentuk,’’ imbuhnya.

Puncaknya, empat tahun terakhir. Kota Madiun dinyatakan zero accident yang melibatkan perguruan. Mulai 2015 hingga 2018 yang baru saja terlewati. Perayaan Suroan tradisi PSHT dan Suran Agung tradisi PSHW terbukti aman, lancar, dan tertib. Kegiatan tidak sekedar pertemuan rutin antar ketua perguruan. Paguyuban pernah menggelar kegiatan massal bersama. Yakni, Ekspedisi Pendakian Puncak Gunung Lawu bertajuk Madiun Kampung Pesilat, 23 November 2013. Kegiatan tersebut diinisiasi Kapolres Madiun Kota kala itu.

‘’Setiap persoalan langsung diselesaikan dalam pertemuan. Sudah tidak zamannya lagi mengedepankan ego. Sebaliknya, saatnya saling menghargai dan menghormati,’’ ungkapnya sembari menyebut kegiatan pertemuan juga dilanjutkan hingga di tingkat cabang dan ranting.

Keberadaan paguyuban, kata dia, berbeda dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). IPSI lebih kepada pembinaan atlet. Sedang, paguyuban difungsikan untuk membantu aparat penegak hukum dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Tak heran, jika kemudian dibentuk satuan tugas (Satgas). Nama Sentot Prawirodirdjo dipakai untuk nama satgas. Satgas ini beranggotakan dari sebelas perguruan dibawah komando kepolisian. Satgas memiliki pakaian tersendiri. Berompi dengan tanpa memakai atribut perguruan. Satgas ini bertugas pada saat kegiatan perguruan.

Baca juga:   Mengenal Persaudaraan SH Panti, Ajaran Asli Eyang Suro

‘’Fungsi satgas ini sama dengan petugas keamanan. Menjaga dan menciptakan kondisi yang aman menjadi tujuan utama,’’ terang Moerdjoko yang didapok ketua Paguyuban sejak 2016 itu.

Tak heran, kondusifitas di wilayah Madiun cukup baik beberapa tahun belakangan. Kondisi ini tentu berbeda saat beberapa tahun sebelumnya. Kegiatan bulan Suro nyaris selalu diwarnai insiden. Bahkan, hingga menelan korban jiwa. Paguyuban terus menggerus kesan ini. Ini cukup berhasil. Bahkan, program ke arah positif terus diperjuangkan. Salah satunya, menjadikan pencak silat sebagai wisata religi dan budaya di Kota Madiun.

‘’Ini terus kami gagas. Pada prinsipnya seluruh ketua perguruan sepakat bulan Suro menjadi event budaya yang dapat dinikmati masyarakat. Baik masyarakat Madiun hingga luar daerah,’’ harapnya.

Ketua Umum PSHT Pusat Madiun itu berharap adanya festival pencak silat saat Suro. Seperti festival Reyog di Ponorogo. Dapat dipertontonkan dan dinikmati. Menjadi destinasi wisata hingga mendatangkan beragam manfaat bagi masyarakat. Sebelas perguruan saling disandingkan menampilkan pencak silat masing-masing. Selain itu, pihaknya juga berharap adanya padepokan tersendiri untuk mewadahi sebelas perguruan ini. Bukan hanya panggung tempat unjuk gigi. Namun, juga terdapat kantor-kantor sebagai perwakilan sekretariat serta sentra jual-beli atribut perguruan.

‘’Masyarakat yang ingin menyaksikan atau mengetahui pencak silat di Kota Madiun cukup dalam satu tempat. Nanti kalau ingin mengetahui lebih dalam bisa datang ke padepokan perguruan masing-masing,’’ ujarnya.

Berkat Jasa Kapolres Madiun Kota

Keberadaan Paguyuban Pencak Silat tak terlepas dari peran Kombes Pol Anom Wibowo. Mantan Kapolres Madiun Kota yang kini menjabat Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali itu merupakan pencetus ide berdirinya paguyuban. Kombes Pol Anom cukup gelisah ketika awal menjabat Kapolres Madiun Kota. Tentu terkait pertikaian antar perguruan. Perwira polisi yang kala itu berpangkat AKBP tersebut terus memutar otak mencari solusi dalam seminggu pertama setelah bertugas di kota pecel.

‘’Sekitar seminggu setelah menjabat, saya langsung memprioritaskan penyelesaian gangguan kamtibmas yang selama ini bersumber dari persoalan pendekar silat,’’ kata Anom dikutip dari buku ‘Mengabdi Di Kampung Pendekar’.

Dalam bukunya tersebut dia memaparkan segala macam upayanya menggandeng kesebelas perguruan. Mulai sowan dari satu perguruan ke perguruan lain hingga pertemuan besar antar petinggi perguruan. Gayung bersambut. Etikad baik Kombes Pol Anom berbuah manis. Pertemuan akbar di Asrama Haji Oktober 2013 itu yang menghasilkan kesepakatan berdirinya paguyuban yang manfaatnya dapat dirasakan sampai kini. Warisan tersebut terus berlanjut kendati pucuk pimpinan Polisi Resort Madiun Kota berganti. Paguyuban terus terjaga. Kerukunan antar perguruan terus terjalin. Kota Madiun tercatat tanpa insiden pertikaian antar perguruan sejak 2015 silam.

‘’Menciptakan keamanan bukan semata tugas aparat penegak hukum. Butuh peran serta masyarakat. Soliditas yang terjalin baik selama ini harus terus dijaga dan ditingkatkan ke depan,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday).

Selalu patuhi aturan dan jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018