Saat Bulan Suro (muharam) tiba, Persaudaraan Setia Hati Terate memiliki tradisi sakral ziarah dan mendoakan para leluhur pendiri perguruan. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Pencak silat di Kota Madiun beragam. Tercatat sebelas perguruan pencak silat hingga kini. Salah satunya, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Perguruan ini merupakan salah satu yang terbesar di Kota Madiun. Anggotanya nyaris sudah tidak terhitung. Tersebar diseantero Nusantara. Bahkan dunia. Di antaranya, Belanda, Hongkong, Moskow, dan Perancis. Kota Madiun wajib berbangga. Sebab, menjadi pusat salah satu perguruan terbesar tersebut.

Keberadaan PSHT ini tentu menarik untuk diulas. Resmi berdiri 1922 silam, PSHT kini menjelma sebagai salah satu organisasi olahraga, seni, dan budaya terbesar di Kota Madiun. Perjalanan perguruan ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dari keanggotaan yang dulunya tak seberapa hingga menjadi salah satu organisasi massa terbesar. Melahirkan warga persaudaraan yang mengharumkan nama bangsa dengan prestasi ditingkat dunia.

‘’Pembinaan terus kami lakukan. Harapannya, keberadaan PSHT ini terus memberikan kontribusi kepada masyarakat, pemerintah daerah, hingga nusa, bangsa, dan negara,’’ kata Ketua Umum PSHT Pusat Madiun Moerdjoko Hadi Wijoyo.

Ini tentu tidak mudah. Berbagai upaya dilakukan. Moerdjoko menyebut persaudaraan kunci utama. Tak heran, dirinya bertekad terus menjaga keutuhan persaudaraan. Caranya dengan mengelola organisasi dengan lebih professional. Pelayanan kepada anggota ditingkatkan. Mulai teknik pencak silat hingga melengkapi sarana dan prasarananya. Moerdjoko berharap adanya warga PSHT dari Madiun yang handal dan mampu berkontribusi kepada bangsa dan negara.

‘’Kami akan melakukan pembinaan dan pelatihan khusus di sini (padepokan). Peralatan juga akan kami lengkapi,’’ ujarnya sembari menyebut bakal terjun menangani langsung.

Upaya membesarkan perguruan juga dilakukan keluar. Bersama ketua perguruan lain, Moerdjoko terus mengupayakan adanya aksi nyata. Baik kepada pemerintah setempat maupun kepolisian sebagai aparat penjaga keamanan. Moerdjoko terus mengupayakan adanya kejuaraan pencak silat di Kota Madiun. Ini untuk mewadahi potensi atlet. Bukan hanya dari PSHT. Namun, juga sepuluh perguruan lain. Ini penting untuk menambah jam terbang atlet.

‘’Untuk meraih prestasi, pesilat butuh jam terbang yang tinggi. Jam terbang ini butuh pertandingan. Sedang, di Kota Madiun minim pertandingan,’’ tegasnya.

Moerdjoko menyebut sebelas perguruan yang ada dipastikan mau dan mampu. Namun, seringkali berbenturan dengan perizinan dan lainnya. Alasannya klasik. Keamanan. Padahal, persaudaraan antar perguruan pencak silat sudah semakin solid kini. Terbukti dari gelaran tradisi Suro yang tercatat zero accident empat tahun terakhir. Ini juga tak terlepas dari peran Paguyuban Pencak Silat yang terbentuk sejak 2013 silam.

‘’Minimnya pertandingan di Madiun ini bukan karena kami tidak mau. Bukan juga kami tak mampu. Mengembangkan seni budaya butuh peran dari berbagai pihak. Prinsipnya kami akan terus berupaya mengembangkan perguruan warisan leluhur ini,’’ jelasnya.

Sejarah Singkat PSHT

Berdirinya PSHT tak terlepas dari sejarah Perguruan Setia Hati (SH) yang didirikan Ki Ngabehi Surodiwirjo pada 1903. Bertempat di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya, Ki Ngabeni Surodiwirjo dengan nama kecil Muhammad Masdan ini membentuk persaudaraan yang anggotanya disebut Sedulur Tunggal Ketjer. Sedang, permainan pencak silatnya disebut Djojo Gendilo.

Baca juga:   Mengenal Persaudaraan SH Panti, Ajaran Asli Eyang Suro

Ki Ngabeni Surodiwirjo merupakan juru tulis seorang kontrolir Belanda setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR). Dia memutuskan berhenti bekerja pada 1912. Itu lantaran kecewa atas sikap atasannya yang sering tidak menepati janji. Selain itu, suasana mulai tidak menyenangkan karena pemeintah Hindia Belanda mulai menaruh curiga. Itu wajar lantaran Eyang Suro –sebutannya- memiliki persaudaraan bela diri yang dikhawatirkan akan menghimpun kekuatan melawan Belanda.

Ki Ngabehi Surodiwirjo lantas pindah di Madiun pada 1917. Di kota pecel ini Eyang Suro mengaktifkan lagi persaudaraan yang telah dibentuk di Surabaya tersebut. Hanya pencak silatnya sekarang disebut Djojo Gendilo Tjipto Muljo. Nama tersebut lantas disesuaikan dengan kondisi zaman dan kemudian diganti menjadi Persaudaran Setia Hati. Persaudaraan Setia Hati bukanlah organisasi, hanya persaudaraan di antara siswa atau kadang. Sebab, organisasi pencak silat tidak diizinkan Kolonialisme Belanda pada waktu itu.

Ki Hadjar Hardjo Oetomo

Ki Hadjar Hardjo Oetomo merupakan salah seorang murid Ki Ngabehi Surodiwirjo yang militan dan cukup tangguh. Dia memiliki gagasan perlunya suatu organisasi untuk mengatur dan menertibkan anggota maupun materi pelajaran Setia Hati. Gayung bersambut, Ki Ngabehi Surodiwirjo memberi doa restu. Namun, diminta untuk tidak memakai nama SH terlebih dahulu.

‘’Saat itu diputuskan dengan nama Pemuda Sport Club pada 1922. Nama ini sempat berganti menjadi Pencak Sport Club,’’ kata Moerdjoko.

Nama perguruan sempat kembali berganti menjadi Setia Hati Muda setelahnya. Baru pada 1942 nama perguruan resmi berganti Persaudaraan Setia Hati Terate. Ini, lanjutnya, tak terlepas dari gagasan Suratno Surengpati salah seorang murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Nama Terate diambil dari filosofi bunga teratai yang dapat tumbuh di air, lumpur, maupun digantung di udara. Begitu juga dengan PSHT yang harus dapat tumbuh di segala media.

‘’Persaudaraan Setia Hati Terate akhirnya ditetapkan sebagai organisasi pada 1948 dengan ketua umum RM Soetomo Mangkujoyo,’’ jelas Moerdjoko yang juga didapok sebagai Ketua IPSI Kota Madiun tersebut.

Beberapa ketua umum silih berganti setelahnya. Salah seorang di antaranya, Muhammad Irsjad yang menjadi ketua umum sekitar 1956. Dia menciptakan 90 senam dasar, jurus belati, dan jurus toya. Moerdjoko menyebut posisi ketua umum sempat dipegang Santosa. Namun, hanya sebentar. PSHT lantas diketuai RM Imam Koesoepangat sekitar 1968. Imam merupakan putra keturunan Bupati Madiun kala itu. Posisi ketua umum lantas digantikan Tarmadji Boedi Harsono.

Persaudaraan Setia Hati Terate menjadi salah satu pencak silat yang melahirkan pesilat-pesilat dengan presatsi gemilang mulai prestasi tingkat lokal, regional, nasional, Internasional.

‘’Pencak silat merupakan seni gerak tubuh yang indah. Pencak silat harus terus dilestarikan. Melalui Perguruan Setia Hati Terate, kami terus melestarikan warisan leluhur tersebut,’’ pungkasnya.

Artikel ini kami olah dari wawancara langsung Ketua Umum PSHT Pusat Madiun Moerdjoko Hadi Wijoyo dan website www.shterate.com (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu patuhi aturan dan jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018