Bertukar jurus pencak silat menjadi penyambung silaturahmi diantara para saudara

MADIUN – Kota Madiun dikenal dengan istilah kampung pesilat. Sebutan itu tak berlebihan mengingat banyaknya perguruan pencak silat yang ada di kota pecel. Beberapa di antaranya berkembang dengan keanggotaan hingga ke sejumlah negara. Yakni, perguruan yang berdasar Setia Hati (SH). Setidaknya terdapat dua perguruan yang cukup besar. Persaudaraan Setia Hati Terate dan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda.

Sejumlah perguruan ini berasal dari guru yang sama. Pun, paguyubannya masih hidup hingga sekarang. Namanya, Persaudaraan Setia Hati. Tanpa embel-embel kata dibelakangnya. Sebagian orang mengenal dengan sebutan SH panti. SH ini disebut sebagai induk dari semua persaudaraan pencak silat yang memiliki dasar ilmu SH.

‘’Ajaran kami masih asli dari Ki Ngabehi Surodiwirjo yang tak lain pendiri Persaudaraan Setia Hati pada 1903 silam,’’ kata Pengesuh Persaudaraan Setia Hati Basuki Wismoyono.

Lambang perguruan SH Panti

Tak heran, sejarah persaudaraan ini juga tak jauh berbeda dengan persaudaraan SH lain di Kota Madiun. Persaudaraan ini didirikan Eyang Suro (panggilan Ki Ngabehi Surodiwirjo) pada 1903 di Tambak Gringsing, Surabaya. Nama awalnya Sedulur Tunggal Ketjer dengan permainan silatnya bernama Djoyo Gendilo Cipto Mulyo Langen Mardiharjo. Ini memiliki arti berjaya atau menang dengan menari. Nama Djoyo ini dinilai memiliki unsur kesombongan.

‘’Nama ini kemudian diganti Persaudaraan Setia Hati pada 1917. Sedang, istilah Sedulur Tunggal Ketjer dan Djoyo Gendilo tidak boleh digunakan lagi setelah,’’ ujarnya sembari menyebut Eyang Suro berpindah ke Madiun dan tinggal menetap di Jalan Gajah Mada nomor 14 Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo pada tahun itu.

Koes Soebakir, Pengesuh SH panti 1998-sekarang

Setia Hati, kata dia, dapat diartikan tekad hati yang bersih dan suci dalam menuju keselamatan (Jalan Tuhan). Ilmu Setia Hati mengajarkan bagaimana cara keluar dari permasalahan hidup dengan menggabungkan kebutuhan jasmani dan rohani. Dua kebutuhan itu lalu dilebur dalam gerak indah untuk pertahanan diri yang akhirnya diberi nama pencak silat. Pencak silat dalam arti untuk pertahanan lahir batin. Bukan gubrak-gabruk adu fisik.

‘’Pencak silat Persudaraaan Setia Hati merupakan ilmu mengenal Tuhan. Jadi bukan untuk pamer sini pamer sana. Makanya jarang ada yang tahu selain anggota,’’ ujarnya.

Pencak SH benar-benar rahasia dan tertutup. Pencak silat hanya boleh dipelajari, diajarkan, atau ditularan kepada sesama anggota. Sebaliknya, pantangan mengajarkan kepada orang lain yang bukan anggota. Bahkan, menunjukkannya saja tidak boleh. Tak herna, jika SH tidak suka menggelar unjuk kekuatan massa. Karena memang bukan itu tujuan SH. Tapi lebih pada pengajaran pada masing-masing individu SH menjadi pribadi yang matang lahir-batin dan selamat dunia-akhirat.

‘’Kami memiliki gaya sendiri. Bahkan, pernah dimasukkan dalam aliran kepercayaan. Jelas kami menolak. Kami lebih senang disebut paguyuban,’’ ungkapnya sembari menyebut Persaudaraan Setia Hati memilih tak terikat dengan IPSI demi menjaga kerahasiaan ilmu.

Nama panti ditambahkan untuk memudahkan penyebutan. Panti merupakan sebutan rumah yang dipakai Eyang Suro. Panti yang sekarang digunakan untuk sekretariat Persaudaraan Setia Hati saat ini memang rumah asli Eyang Suro. Rumah diwariskan untuk saudara seperguruan yang ingin belajar. Nama itu mulai kerap dipakai setelah banyak perguruan lain dengan nama SH bermunculan.

Baca juga:   Lebih Dekat Dengan Forum Mahasiswa Madiun Study Malang

Menurut catatan sejarah Setia Hati, SH Terate didirikan Hardjo Oetomo di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun pada 1922. Pusat kegiatan SH Terate ada di Jalan Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Lalu, pada 1932, Munandar Hadiwijoto memilih mendeklarasikan SH Organisasi di Semarang. Selang tiga dikade setelah SH Organisasi lahir, tepatnya 1966, R Djimat Soewarno juga memisahkan diri dari SH Panti, untuk kemudian mendirikan SH Tunas Muda Winongo yang berpusat di Jalan Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Bahkan, yang terbaru, ada yang mendirikan dengan nama yang sama. Yakni, SH Panti Cabang Surabaya pada 2005 lalu.

foto eyang suro pendiri perguruan pencak silat SH
foto eyang suro pendiri perguruan pencak silat SH

‘’Pada 1935 Eyang Suro menghimbau untuk tidak lagi bergandengan dengan saudara yang sudah memisahkan diri. Makanya, kami tidak masalah dengan munculnya persaudaraan lain. SH yang asli berdiri dari 1903 sampai sekarang ya SH Panti ini,’’ tegasnya.

Basuki menyebut kendati bejalar dari ilmu yang sama, pencak silat yang diajarkan pada masing-masing persaudaraan yang memisahkan diri ini tidaklah sama. Sebab, ilmu SH tidak boleh sembarangan ditularkan. Tak heran, keaslian ilmu SH tetap terjaga. Yang ada gerakannya mirip. Setiap anggota pastinya paham benar pantangan dan anjuran yang harus dijalankan saat menjadi warga SH. Termasuk mengajarkan ilmu kepada orang lain yang bukan anggota. Tak heran, jika ilmu yang diberikan tidak sama. Basuki paham benar lantaran tak sedikit warga sejumlah persaudaraan itu yang kemudian masuk SH Panti.

‘’Makanya untuk masuk di SH panti seleksinya cukup ketat. Kami tidak sembarangan menerima anggota. Banyak yang ingin bergabung tapi akhirnya gagal,’’ ujarnya.

Sekali proses kecer atau pengesahan sebagai anggota maksimal hanya dua orang. Tak heran, jika keanggotaan tak cukup banyak. Basuki menyebut kuantitas bukan tujuan SH. Kegiatan keceran juga tidak di bulan Suro seperti yang lain. Namun, bisa di bulan apa saja selain itu. Proses masuk menjadi anggota juga cukup panjang. Mulai calon kandidat hingga akhirnya disahkan menjadi anggota jika memenuhi syarat. Setelah masuk anggota memiliki hak yang sama.

‘’Di SH Panti terdapat tiga tingkatan. Untuk naik tingkat biasanya butuh waktu minimal dua tahun dan memenuhi sejumlah persyaratan,’’ ujarnya.

SH Panti dikelola tiga badan. Pertama Badan Pengesuh yang artinya pengikat. Tiga orang didaulat menjadi pengesuh. Pertama Koes Subakir yang menjadi juru esuh, Ismadi dan dirinya. Kemudian terdapat Badan Pengasuh yang bertugas mengatur rumah tangga, kebersihan, dan keuangan. Terdapat tiga orang yang menjadi pengasuh. Terakhir, terdapat Badan Pertimbangan yang bertugas mempertimbangkan calon kandidat yang ingin menjadi anggota.

‘’Tujuan kami mencari jalan keselamatan bukan pamer atau lainnya. Makanya kami tak masalah dengan hingar bingar dunia pencak silat,’’ pungkasnya.

Artikel ini diolah dari wawancara langsung salah seorang Pengesuh SH Panti Basuki Wismowiyono dan website kandangsh.blogspot.com. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu patuhi aturan dan jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018