Pencak silat dari pulau sisi barat nusantara ini dikenal lembut namun mematikan. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Pencak silat merupakan warisan leluhur. Namun, tidak hanya dari leluhur yang menghuni Pulau Jawa. Berbagai pulau lain di tanah air juga memiliki warisan pencak silat. Salah satunya, Pulau Sumatera. Pencak silat dari pulau sisi barat nusantara ini dikenal lembut namun mematikan. Pencak silat seperti ini terkemas apik pada Perguruan Persilatan Pendekar OCC Pangastuti di Kota Madiun. Perguruan yang berada di Jalan Urip Sumoharjo 103 itu memang berasal dari pencak silat sumatranan.

‘’Awal mula ilmu pencak silat ini dari salah satu kerajaan di Jambi, Sumatera, tepatnya dekat Sungai Batanghari,’’ kata Ketua 1 Perguruan OCC Pangastuti Raden Ispurwanto.

Di pinggiran sungai terpanjang di Sumatera itu bernaung Pangeran Datuk Merto Joyo Kusumonengrat, seorang raja muda sekitar abad 18. Dia dikenal sebagai anti Belanda. Raja muda itu getol melawan Belanda berbekal ilmu bela diri yang dipelajari secara turun-temurun. Bahkan, pernah melakukan pemberontakan besar-besaran sekitar tahun 1876. Sayang, pemberontakan gagal dan hanya berjalan selama dua tahun.

‘’Pangeran Datuk akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa bersama istri dan anaknya. Pengasingan tepatnya di Madiun, Jawa Timur pada 1880,’’ ujar Ispurwanto yang tak lain cucu Pangeran Datuk tersebut.

Semangat Pangeran Datuk tak pernah padam. Disela kesibukannya menjadi tawanan, Datuk mengajarkan ilmu bela diri kepada Raden Abdullah, anaknya. Ilmu yang diajarkan adalah ilmu pangastuti. Pangastuti dapat diartikan smbol kebenaran. Karena Ilmu Pangastuti berasal dari Alquran dan bernafaskan Islam murni. Tak heran, jika kemudian muncul jargon Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti yang berarti segala sifat keras hati, picik, angkara murka dapat dikalahkan dengan kebenaran, kelembutan, dan kasih sayang.

‘’Raden Abdullah ini kemudian menikah dengan orang asli Madiun. Memiliki dua orang anak. Yaitu saya dan Is Hariyati, adik saya,’’ terangnya.

Tak heran, jika Pangastuti disebut perguruan. Sebab, ilmu yang diberikan turun-temurun dari garis keluarga. Namun seiring perkembangan zaman, Perguruan OCC Pangastuti juga menjadi persaudaraan lantaran membagi ilmunya kepada masyarakat umum. Itu dimulai sejak era Ispurwanto. Perguruan ini diakta notariskan pada 1979 lalu. Perguruan OCC Pangastuti terus berkembang hingga kini. Memiliki cabang diberbagai daerah. Di antaranya, Probolinggo, Bojonegoro, Lumajang, Surabaya, Pasuruan, Madura, Tangerang, Sidoarjo, dan daerah sekiar Madiun.

‘’Kami juga mengembangkan ilmu pengobatan. Makanya ada tambahan OCC dalam nama perguruan yang berarti penyembuhan,’’ jelasnya.

Baca juga:   IKS Pro Patria, Beladiri Cina Berjiwa Indonesia

Bela diri OCC Pangastuti memiliki 17 jurus dan 56 senam. Ini dapat ditempuh minimal satu tahun. Terdapat sejumlah tingkatan. Anggota diberikan sabuk merah pada awal latihan. Kemudian biru, putih kecil, dan mori setelah diwisuda. Acara wisuda dibagi dua tempat. Wilayah barat dilaksanakan di Tangerang. Sedang, wilayah timur di Kota Madiun. Sekitar 200 peserta dari berbagai daerah wilayah timur di wisuda, Sabtu (6/10) lalu. Prosesi berjalan sakral.

‘’Kami mulai dengan sembayang bersama, kirim doa leluhur, pengambilan sumpah, dan perendaman di sungai. Tetapi karena musim kemarau perendaman kami tiadakan,’’ ujar ayah empat orang anak itu.

Tradisi perendaman itu bukan hal mistis. Perendaman memiliki manfaat fisik dan batin. Manusia menjadi lebih tenang dengan berendam air. Melancarkan pembulu darah khususnya yang mengalir dari dan ke kepala. Tak heran, perendaman menjadi terapi penyembuhan. Begitu juga dengan urusan batin. Perendaman diyakini dapat mempertajam pikiran kepada Tuhan YME. Perendaman, kata dia, juga menjadi tradisi di Sumatera dengan berendam di Sungai Batanghari.

‘’Ilmu Pangastuti merupakan ilmu Ketuhanan. Manusia diharap dapat mengalahkan hawa nafsunya itu sendiri melalui pencak dan silat,’’ ungkapnya sembari menyebut pencak berarti fisik dan silat berarti hati.

Tak heran, ilmu bela diri Pangastuti bukan untuk grubyak-grubyuk. Namun, lebih sebagai jalan menuju Tuhan. Salah satunya, dengan memanfaatkan ilmu untuk menolong sesama. Berbagai kegiatan sosial dilakukan. Nyaris rutin. Terutama pengobatan massal dengan biaya sukarela. Seperti dijelaskan sebelumnya, Pangastuti memang dibekali ilmu penyembuhan. Salah satunya, melalui ilmu totok tubuh dan anatomi tubuh manusia. Ini dipelajari dari ilmu pernafasan. Biasanya diberikan setelah anggota diwisuda.

‘’Perguruan OCC Pangastuti merupakan organisasi masyarakat. Sudah sewajarnya harus bermanfaat juga kepada masyarakat,’’ pungkasnya sembari menyebut banyak anggota perguruan yang membuka praktik pengobatan secara sukarela.

Artikel ini diolah dari wawancara langsung Ketua 1 Perguruan OCC Pangastuti Ispurwanto dan buku silsilah perguruan. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu patuhi aturan dan jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018