Persaudaraan Rasa Tunggal (Persatu) ini. Berpusat di Jalan Merapi nomor 23 Kota Madiun. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Kota Madiun memiliki beragam perguruan pencak silat. Tumbuh dan berkembang sejak dulu kala. Beberapa di antaranya berasal dari daerah lain. Bahkan, ada yang berdasar beladiri kungfu dari negeri Cina. Kendati begitu, bukan berarti tak ada bela diri asli dari Madiun. Seperti, Persaudaraan Rasa Tunggal (Persatu) ini. Berpusat di Jalan Merapi nomor 23 Kota Madiun, bela diri pencak silat satu ini lahir, tumbuh, dan berkembang di kota pecel.

‘’Persaudaraan Rasa Tunggal didirikan oleh Raden Mas Soenito Reksohamijoyo, keturunan adipati Madiun,’’ kata Guru Besar Persatu RM Hary Soemardiantho.

RM Soenito Reksohamijoyo merupakan putra dari RM Tumenggung Soelaiman Suro Hamisastro Prawirodirjo yang tak lain putra Pangeran Ronggo Prawirodirjo, salah seorang Adipati Madiun. Soenito merupakan sosok yang mencintai seni dan budaya. Berbekal ilmu yang didapatnya, dia lantas menciptakan jurus dan senam. Terdapat 28 jurus dan 80 senam. Berbekal inilah, Persaudaraan Rasa Tunggal lahir pada Kamis Pon, 10 November 1955 di Madiun.

‘’Senam dan jurus Persatu tidak sama dengan beladiri perguruan pencak silat lain yang ada di Kota Madiun dan sekitarnya. Selain ilmu silat, dalam perguruan kami juga terdapat ilmu tenaga dalam,’’ terang guru besar ke-VI itu.

Ilmu tenaga dalam di Persatu disebut dengan ilmu kontak. Ilmu ini merupakan pasangan dari ilmu silat yang diberikan. Artinya, keduanya saling melengkapi. Keduanya wajib dipelajari setiap warga Persaudaraan Rasa Tunggal. Tak heran, jika terdapat anggota yang dapat melakukan debus. Seperti mandi air keras, jalan dibara api, tidur di papan berpaku, mematahkan benda keras dan lain sebagainya.

Namun, ilmu bukan lantas untuk pamer kebolehan apalagi menyakiti orang lain. Sebaliknya, Persatu lahir dengan berbagai tujuan mulia. Di antaranya, berlatih bersama untuk lebih meningkatkan rasa taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, melestarikan dan mengembangkan ilmu bela diri pencak silat sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia yang adi luhung, menggalang persatuan dan kesatuan di antara para warga persaudaraan, melatih rasa percaya akan kemampuan diri pribadi, dan sebagai sarana olahraga untuk membentuk manusia kuat lahir-batin yang berguna pada nusa, bangsa, dan agama.

‘’Persaudaraan Rasa Tunggal berpedoman pada ayat-ayat suci Alquran. Di antaranya, ayat dalam Surat Al-Hujarat, Surat Al-Maidah, Surat Al-Mukmin, dan lainnya. Tujuannya, membentuk watak para warga menjadi pendekar yang budiman,’’ tegasnya.

Selain berpedoman pada ayat-ayat Alquran, pencak silat Persatu juga berpedoman pada laku batin. Ini juga untuk membentuk watak warga Persatu yang berbudi pekerti luhur. Tak heran, mengemuka pedoman pencak silat Persatu untuk membakar sifat tercela, mengapus segala kebutuhan dari keinginan buruk, menenggelamkan diri dalam mengingat Allas SWT, hanyut dalam arus kebajikan, dan berani mengalah.

Anggota Persatu juga terikat dengan lima janji atau yang biasa disebut panca janji siswa. Yakni, saling mengikat tali persaudaraan lahir-batin antar sesama warga dan siswa, saling amat mengamati, menghindari perselisihan dan permusuhan lahir-batin sesama warga dan siswa, selalu hormat dan menghormati dan selalu tegak berdiri digaris keadilan serta menjunjung tinggi sifat ksatria demi mencapai martabat budi luhur, menjadi suri teladan yang baik dalam masyarakat dan berusaha untuk selalu menghindari segala bentuk perkelahian yang tidak perlu dan tidak menyombongkan diri atas kepandaian dan seni beladiri yang dimiliki, serta mentaati peraturan perguruan dan disiplin dalam latihan serta taat atas putusan pimpinan.

Baca juga:   Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo, Pencak Silat Keluhuran Budi yang Mendunia

Tak heran, warga Persatu nyaris tak terlihat. Bukan berarti kasat mata. Namun, karena selalu menahan untuk unjuk diri. Warga Persatu nyaris tidak pernah memakai atribut di tempat umum. Mengumbar dan memperlihatkan pencak kepada orang lain kecuali memang dalam satu kegiatan.

Padahal, keanggotaan cukup banyak. Mencapai 30 ribu anggota tersebar di berbagai daerah. Di antaranya, Aceh, Palembang, Lampung, Jakarta, Tangerang, Depok, Pati, Jepara, Semarang, Gresik, hingga Kalimantan, Nusa Tenggara Barat dan Timur, serta Kupang. Keanggotaan juga hingga luar negeri. Mulai, Malaysia, Taiwan, dan Belanda.

‘’Tujuan bela diri Persatu memang bukan untuk pamer sana pamer sini. Ajaran kami murni untuk mencetak pribadi yang mulia dan berbudi luhur lahir-batin dunia-akhirat. Makanya, kami tidak menggembar-gemborkan perguruan agar berkembang secara alami,’’ ujarnya.

Ilmu perguruan pencak silat Persatu terdiri dari empat tingkatan untuk siswa. Yakni, tingkatan merah, kuning, hitam, dan putih. Pembagian tingkatan ini mengandung simbolis kemajuan moral watak kejiwaan seseorang. Dari yang kurang baik menjadi baik. Tingkatan merah melambangkan jiwa seseorang yang masih dipengaruhi nafsu amarah. Watak yang senang berkelahi, permusuhan, ingin menang-menangan dan sok jagoan. Pada tingkatan ini siswa dilatih untuk dapat menekan nafsu amarah tersebut hingga serendah-rendahnya.

‘’Tingkatan kuning melambangkan jiwa seseorang yang masih dipengaruhi nafsu supiah. Nafsu yang memiliki watak senang mencampuri urusan orang lain, senang memiliki hak orang lain secara paksa dan lain-lain. Siswa pada tingkatan ini juga dilatih untuk menekan nafsu supiah serendah-rendahnya,’’ jelasnya.

Siswa juga dilatih untuk menekan nafsu di tingkatan hitam. Namun, kali ini nafsu lauamah. Nafsu ini memiliki watak suka boros, makan enak lagi banyak, pemalas, dan pemabuk. Siswa wajib menekan dan meninggalkan nafsu-nafsu pada tingkatan ini untuk mendapatkan nafsu mutmainah pada tingkatan putih. Nafsu mutmainah memiliki sifat baik dan harus dikembangkan. Orang yang telah dapat mengembangkan nafsu ini merupakan orang yang dapat mengendalikan seluruh nafsu-nafsu jelek dan kotor berasal dari nafsu sebelumnya. Siswa yang lulus tingkatan ini berhak mengajukan diri untuk pengesahan sebagai warga sah dengan sebutan pendekar.

‘’Moral pendekar yang budiman inilah yang menjadi idaman dan tujuan Persatu. Mulai tidak mudah terpancing dalam arus perkelahian, penyabar dan mudah memaafkan, berbakti kepada orang tua, taqwa kepada Allah, bijaksana, dan berani mengalah,’’ ujarnya sembari menyebut juga berjiwa ksatria, menjauhi hal-hal negatif, dan mengembangkan perbuatan tingkah laku terpuji.

Menyandang status pendekar di Persatu bukan perkara mudah. Warga harus terus meningkatkan bekal latihan sewaktu ditingkatan merah, kuning, hitam, dan putih. Tak heran, harus tetap menekan ketiga nafsu yang tak baik dan mengembangkan nafsu baik. Pendekar juga harus menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang haqiqi. Berbuat baik pada diri sendiri, sesama manusia, dan kepada alam semesta.

‘’Dengan mengedepankan sifat-sifat pendekar yang budiman ini, diharapankan akan tercipta kedamaian minimal dilingkungan masing-masing,’’ pungkasnya.

Artikel ini diolah dari wawancara langsung Guru Besar Persaudaraan Rasa Tunggal RM Hary Soemardiantho di Padepokan Perguruan Jalan Tirta Raya II nomor 17 Kelurahan Nambangan Lor, Manguharjo pada Jumat 12 Oktober 2018. (ws hendro/agi/madiuntoday)

Selalu patuhi aturan dan jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018