MADIUN – Brigade Mobil (Brimob) merupakan satuan tertua di kepolisian. 14 November nanti, Brimob tepat berusia 73 tahun. Sama dengan usia Republik Indonesia. Tak heran, jika mantan-mantan anggota dalam satuan ini turut berkontribusi dalam upaya-upaya mempertahankan kemerdekaan dan penanganan konflik hingga kini. Seperti yang dialami Diran. Veteran Brimob ini turut dalam berbagai penangan konflik sejak 1960 hingga purna tugas.

‘’Saya tidak pernah menyangka dapat turut bertugas dalam penanganan konflik diberbagai daerah di tanah air. Senang rasanya dapat berkontribusi kepada negara,’’ kata Diran yang ditemui tim madiuntoday beberapa waktu lalu.

Kisah kakek 80 tahun ini memang patut diacungi jempol. Masuk kepolisian 1958, Diran ditempa latihan selama 13 bulan di Sukabumi. Tujuh bulan teknik kepolisian. Sisanya, teknik Brimob. Saat itu bernama mobile brigade (Mobrig). Dua tahun berselang, Diran langsung ditugaskan ke Aceh. Sasarannya, pemberontakan Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia (TII). Saat itu memang belum muncul Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Diran dkk rekan-rekannya bergerilya selama 11 bulan melawan pasukan pemberontak dibawah kepimpinan Daud Beureueh.

‘’Saya kembali ke pos komando di Palembang setelahnya. Tiga bulan kemudian berangkat lagi ke Bengkulu,’’ ujarnya mengisahkan.

Diran bukan pelesir. Lagi-lagi, dia dihadapkan dengan tugas menumpas pemberontakan. Kali ini, melawan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Dia bertugas di daerah Mutomuko. Suatu daerah perbatasan antara Bengkulu Utara dengan Padang. Sebelas bulan Diran bergerilya disana. Desiran peluru hingga ledakan menjadi hal lumrah. Kisah pengejaran pemberontak berlanjut ke daerah Baturaja. Dia mengejar gerombolan pemberontak pimpinan Tambang. Waktunya lebih singkat. Sekitar enam bulan.

‘’Setelah itu kembali pulang ke pos komando lalu diberangkatkan ke Kalimantan Barat,’’ terang pria kelahiran Sampung, Ponorogo itu.

Lagi-lagi, dia bertugas di perbatasan. Kali ini di daerah Sanggau-Semunti. Tugas ini, kata dia, salah satu yang paling berkesan. Sebab, melawan tentara asing. Konfrontasi dengan Malaysia menjadi penyebabnya. Dwi Komanda Rakyat (Dwikora) dikeluarkan Presiden Soekarno dengan semboyan melegenda ‘Ganyang Malaysia’. Pertumpuran bukan sekedar melawan tentara negeri Jiran. Diran bersama rekan juga menghadapi tentara Selandia Baru. Malaysia memang dibantu Selandia Baru kala itu.

‘’Persenjataan mereka lebih canggih. Teknik bertempurnya juga bagus. Kami sempat terkepung,’’ jelasnya sembari menyebut dua rekannya gugur kala itu.

Tugas selesai sekitar 1964. Diran lantas kembali ke Pos Komando di Madiun. Namun, bukan berarti bisa berleha. Tugas kembali memanggil. Kali ini di daerah Timor sekitar tahun 1976. Ini, lanjutnya, juga tugas paling berkesan. Lawan yang dihadapi bukan hanya tentara bersenjata. Namun, juga serangan udara. Diran dan rekan-rekannya pernah dihujani tembakan dari pesawat jenis bronco. Beruntung terdapat banyak gua di lokasi pertempuran.

Baca juga:   Pasar Puntuk yang Melegenda, Namanya Ternyata Diambil Dari Ini

‘’Dari satu kompi yang diberangkat dari Brimob Madiun. Alhamdulillah, dapat kembali pulang dengan selamat seluruhnya,’’ ungkap Diran yang kini tinggal di Jalan Borobudur Kota Madiun tersebut.

Disiplin dan patuh terhadap instruksi pimpinan menjadi modalnya. Sebelum berangkat, Diran memang mendapat pelatihan khusus. Mulai bagaimana melewati jembatan, menyeberang sungai, melewati alam terbuka, hingga membuat perlindungan dengan memanfaatkan sekitar. Seperti pepohonan, dinding, dan lain sebagainya. Ini terbukti ampuh menjaga dia dan pasukan lain tetap selamat. Sebaliknya, mereka yang gugur atau terluka kebanyakan karena sembrono.

‘’Disiplin, waspada, dan patuh penting diterapkan. Terutama saat berada didaerah konflik,’’ pesan Diran yang sempat menjadi komandan peleton tersebut.

Diran purna tugas 1982 silam dengan pangkat terakhir bintara. Dia sering diminta menjadi instruktur di Pusdik Perhutani sejak sebelum pensiun hingga setelahnya. Sekitar 40 tahun. Dia mengaku bangga dengan apa yang telah dilakukannya. Bahkan, sering tidak percaya. Itu wajar, dirinya hanya lulusan sekolah rakyat (SR) atau setingkat SD saat ini. Pun, pendidikan kala itu ditempuh dengan susah berat. Diran kecil harus berjalan kaki 17 kilometer untuk menuju sekolah setiap hari. Sempat melanjutkan ke jenjang SMP namun putus ditengah jalan. Dia mengaku sedikit bandel sewaktu sekolah. Sempat pamit berangkat tapi bolos hingga tiga bulan.

‘’Tidak ada kerja keras yang tak berbalas. Harus terus semangat dan melakukan semua tugas dengan senang hati. Mengeluh dapat menjadi penyakit dalam diri,’’ pungkasnya sembari berucap selamat Hari Jadi ke-73 Korps Brimob. (rahmad/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018