Hartono saat masih bertugas.

MADIUN – Kisah heroik veteran Brigade Mobil (Brimob) juga mengemuka dari Hartono. Kendati tak pernah bertugas satu kompi dengan Diran (veteran lain yang kisahnya sudah diposting beberapa waktu lalu), pengalaman warga Perum Bumi Mas Kota Madiun ini tak kalah menarik selama berseragam Brimob. Turun di daerah konflik seperti hal biasa. Mulai dari Aceh hingga Timor-Timur.

‘’Saya masuk Brimob tahun 63 dan menjalani pendidikan di Watu Kosek. Setelah selesai pendidikan langsung dikirim ke berbagai daerah konflik,’’ kata Hartono yang ditemui tim madiuntoday beberapa waktu lalu.

Keberanian Hartono selama bertugas tidak perlu diragukan lagi. Itu terpancar dari sosok pria yang kini berusia 76 tahun itu. Kendati kulit tuanya sudah mulai terlihat, ketegasannya dalam bersikap dan bertutur masih sama. Sikap itu, kata dia, terus terbawa dari sejak masih muda hingga masuk kepolisian. Berani selama itu benar menjadi moto hidupnya. Prinsip itu bukan hanya kepada sebaya atau yang lebih muda. Prinsipny tidak pernah berubah bahkan ketika menghada komandan.

‘’Kalau tidak berani akan semakin diinjak-injak. Saya tidak mau seperti itu,’’ tegasnya.

Pernah bertugas di Surabaya, Hartono lantas di pindah ke Kediri. Kebiasaannya berkelahi tak jua berhenti di Kediri. Lagi-lagi dia pindah ke Madiun sekitar 1970. Perkelahian identik dengan Hartono yang berpangkat Kopral pada waktu itu. Namun, banyak segi positif yang didapat. Bapak tiga anak ini menjadi semakin berani di medan pertempuran.

Baik saat ditugaskan menumpas pemberontkan Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia (TII) di Aceh, pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Bengkulu, Dwikora di Kalimantan Barat, hingga Pembebasan Timor Timur. Banyak cerita menarik dari pria berkumis ini. Salah satunya, saat bertugas di Timor Timur. Dia mencuri perhatian ketika seorang diri melewati daerah konflik ketika mengambil obat-obatan.

Padahal, jarak pos komando dengan lokasi tempatnya bergerilnya cukup jauh. Butuh waktu dua jam dengan berjalan kaki. Dia bisa saja ditembak pemberontak atau dicegat dan ditawan. Seorang prajurit tentu berfikir dua kali. Tapi karena obat-obatan cukup dibutuhkan, Hartono seorang diri mengemban tugas itu.

‘’Senjata sengaja saya tinggal. Kenapa, kalau terlihat bawa senjata saya bisa menjadi sasaran tembak pemberontak. Makanya saya tinggal,’’ ungkapnya.

Baca juga:   Lou Han Kembali Diminati

Padahal, dengan tanpa senjata sosoknya sebagai anggota tetap terlihat. Apalagi, dia memakai seragam dan memakai tas punggung. Jelas tak memperlihatkan sosok warga sipil. Namun, nyatanya tak ada halangan. Hanya, dia tak berjalan. Rute sejauh itu ditempuhnya dengan berlari. Dia membutuhkan waktu 45 menit.

‘’Obat yang saya bawa tidak hanya untuk anggota. Tapi juga untuk penduduk sana,’’ kenangnya.

Kebaikan Hartono berbuah manis. Dia mendapat semacam kalung dari ketua adat setempat sebagai penghargaan. Kalung tersebut ternyata cukup dikenal dan dihormati masyarakat. Itu terbukti dari keterangan masyarakat daerah lain saat dia dan rombongan melintas. Kalung biasanya digunakan pemberontak sebagai ilmu kebal.

Hartono pernah dipanggil komandan pasukan TNI yang juga diturunkan bertugas kala itu. Hartono sempat kaget dan dikira akan dibunuh karena suatu kesalahan. Sebab, tak biasa prajurit rendahan dipanggil komandan. Padahal, sang komandan tertarik akan keberaniannya sekaligus meminta jimat yang dimiliki kalau ada. Hartono hanya tersenyum dan malah bercanda.

‘’Saya bilang saja jimat sudah saya tinggal dekat pos. Sebuah batu tapi bisa menahan peluru. Wong batunya sebesar gajah,’’ candanya.

Itu dilakukan lantaran dirinya percaya keberanian sejati muncul dari dalam diri. Materi dan pelatihan selama pendidikan menjadi pemupuk keberanian tersendiri. Jimat kalung yang dia dapat itu hanya dijadikan sebagai kenang-kenangan. Kekuatan dan keselamatan tetap mengharap kepada Tuhan Yang Maha Esa sang pemilik hidup.

‘’Saya Islam dan saya percaya Tuhan saya akan memberi kekuatan dan perlindungan selama kita berjalan di jalanNya,’’ pungkasnya sembari menyebut memegang prinsip tidak sombong, tidak mencuri, dan tidak berhubungan dengan istri/suami orang lain. (rahmad/agi/madiuntoday).

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018