MADIUN – Wisuda Universitas PGRI Madiun (Unipma) kali ini terasa spesial. Sebab, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Tak heran, tema kepahlawanan dijadikan semangat dalam menuntut ilmu.

‘’Wisuda Unipma dihari spesial. Bersamaan dengan Hari Pahlawan. Perlu kiranya menanamkan nilai-nilai perjuangan para pahlawan sebagai pelecut semangat mengisi kemerdekaan, khususnya dibidang pendidikan,’’ kata Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto usai menghadiri Wisuda Universitas PGRI Madiun (Unipma), Sabtu (10/11).

10 November 73 tahun lalu, lanjutnya, para kusuma bangasa berjuang merebut kemerdekaan Relublik Indonesia. Berbekal tekad dan semangat baja, mampu memukul pasukan sekutu hengkang dari bumi Indonesia. Tekad dan semangat ini perlu dikobarkan kembali kepada generasi muda untuk berjuang mengisi kemerdekaan. Tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa harus terus berjuang menyelesaikan pendidikan. Semangat berjuang harus sama seperti para pejuang saat mengusir penjajah.

‘’Bagi yang hari ini diwisuda, ingat perjuangan belum berakhir. Beban berat ada dipundak. Paling tidak bermanfaat bagi orang lain berbekal ilmu pengetahuan yang didapat selama ini,’’ tegasnya.

Wisuda Unipma kali ini melibatkan sebanyak 1.150 mahasiswa. Mereja resmi diparipurnakan menjalani tugas-tugas akademiknya. Sesuai tema ‘Mencetak Lulusan yang Cerdas dan Berdaya Saing Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0’, walikota menyebut kepahlawanan tidak hanya pada saat era penjajahan. Berbekal kreativitas, seseorang mampu menjadi pejuang diera saat ini.

‘’Berjuang tidak harus dengan mengangkat senjata. Dengan pemikiran dan inovasi serta kreativitas, seseorang juga dapat disebut pahlawan jika apa yang dilakukan memberi banyak manfaat bagi orang lain,’’ ungkapnya sembari menyebut seperti inovasi Dopari SDN 02 Mojorejo yang berhasil masuk Top 40 se-Indonesia.

Baca juga:   Hari Ketiga Seleksi PPDB SMA, Sejumlah Sekolah Dapat Kuota Tambahan

Dongeng pagi hari (Dopari), lanjutnya, dimotori seorang guru. Inovasinya memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Terutama bagi peserta didik. Dopari terbukti media penanaman karakter yang tepat bagi murid. Artinya, guru tersebut telah berjuang untuk Kota Madiun khususnya untuk anak-anak dan pelajar Kota Madiun.

‘’Manfaatnya bukan dari segi pembelanjaran. Karena masuk Top 40, Pemkot berhak mendapat dana insentif daerah (DID) sebesar Rp 9 miliar. Dana ini masuk ke kas daerah dan akan digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Ini yang disebut dengan pejuang masa kini. Generasi muda harus bisa seperti ini. Berjuang melalui ide dan karya,’’ tuturnya.

Unipma merupakan salah satu perguruan tinggi yang cukup besar di Kota Madiun. Baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Walikota berharap wisudawan tidak cepat berpuas diri. Sebaliknya, perjuangan baru dimulai setelah ini. Ilmu yang didapat sekitar 3,5 sampai 4 tahun baru bermakna jika mampu mengaktualisasikan di tengah masyarakat.

‘’Apa yang sudah didapat dan dipelajari harus diamalkan. Minimal untuk diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat. Artinya, perjuangan masih panjang. Jangan pantang menyerah. Seperti ungkapan jawa, ‘ilmu iku lelakone kanti laku’,’’ pungkasnya. (lucky/adit/ayu/diskominfo)

#100thKotaMadiun
#KotaMadiunKarismatik