MADIUN – Brigade Mobil (Brimob) tepat merayakan hari jadinya yang ke-73 besok (14/11). Peran salah satu korps di Kepolisian RI ini tidak boleh dipandang sebelah mata dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Kiprah ketangguhan Brimob masih terekam jelas dibenak sejumlah veterannya. Seperti kisah Bibit Suwandi yang menjadi anggota Brimob era 1949 hingga 1987 ini. Pertempuran melawan pemberontak di daerah konflik menjadi pengalaman berharga pria yang kini berusia 87 tahun ini.

‘’Era saya dulu masih banyak pemberontak di sejumlah daerah. Saya pernah dikirim ke berbagai daerah untuk menumpasnya,’’ kata Bibit Suwandi yang ditemui tim madiuntoday beberapa waktu lalu.

Bibit masuk kepolisian pada 1949 silam dan menjalani pendidikan di Kletak Madiun selama empat bulan. Usai pendidikan dirinya langsung bergabung ke Mobile Brigade (Mobrig). Brimob memang disebut Mobrig kala itu. Bibit mendapat tugas kali pertama mengejar kawanan tentara dari yang melarikan diri lantaran kesalahpahaman di dalam bataylon. Gerilya dilakukan hingga ke daerah Purwokerto, Jawa Tengah. Dia bersama kompi sempat beradu baku tembak hebat di desa Gumelar. Pertempuran itu menewaskan seorang rekannya.

‘’Kawan saya terkena peluru tepat di kepala dan tewas. Kami lalu diminta kembali ke Purwokerto dengan membawa jenazah kawan saya itu,’’ teranya bercerita.

Setelah pulang ke Madiun, Bibit lantas ditugaskan ke Purwakarta Jawa Barat. Kali ini dia banyak mendapat tugas melawan pemberontak Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia (TII). Bibit sempat berpindah-pindah tempat tugas di Jawa Barat. Dia mengaku nyaris seluruh daerah di Jawa Barat pernah disinggahinya. Di antaranya, Serang, Cisarua, Cimahi, Garut, dan Tasikmalaya. Dari satu hutan ke hutan lain. Kekejaman pemberontak terekam jelas di benaknya.

Baca juga:   Ini Profil Lima Dalang Terbaik Kota Madiun

‘’Mereka tidak hanya bertempur dengan kami. Tapi juga membunuh masyarakat. Bahkan, ada guru yang sedang hamil juga dihujani peluru, dibungkus kasur, dan dibakar di sebuah gua,’’ ujarnya sembari menyebut dua kawannya tewas kala pertempuran di sana.

Lamanya di Jawa Barat, Bibit hingga menguasi bahasa sunda. Dia bahkan sempat berkhotbah dengan bahasa sunda. Bibit memang seorang yang religius. Disela bertugas di Jawa Barat, Bibit sempat dikirim ke Irian Jaya (sekarang Papua) sekitar 1962. Dia ditugaskan untuk membersihkan sisa perang dunia dua. Kengerian perang di pulau timur Indonesia tergambar jelas. Berton selongsong peluru berhasil dikumpulkan. Entah bagaimana perang yang terjadi disana hingga memuntahkan berton-ton peluru.

‘’Pulang dari Papua saya kembali ke Jawa Barat. Tidak lama berselang saya minta dipindah ke Madiun lagi. Itu sekitar 1967,’’ terang pria yang kini memiliki 17 buyut, 10 cucu, dan tiga orang anak itu.

 

Di Madiun Bibit dipercaya sebagai Komandan Peleton, Wakil Kompi, hingga Komandan Kompi. Dia juga pernah disekolahkan dan menjadi asisten pelatih. Kendati dari Brimob, Bibit juga pernah dipercaya menjadi Kasat Lantas di Polwil Madiun. Dia juga pernah diminta menjadi Pembina pelajar hingga melatih satpam se-Jawa Timur. Pengabdiannya sebagai polisi berakhir pada 1987. Bibit pensiun dengan pangkat Kapten. Kini dirinya menetap di Desa Kradinan, Dolopo, Kabupaten Madiun hingga kini. (rahmad/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018