MADIUN – Brigade Mobil (Brimob) baru saja merayakan Hari Jadi ke-73 tahun ini. Tidak banyak veteran Brimob Madiun era awal-awal pembentukan dulu yang masih hidup hingga kini. Salah seorang di antaranya Suwondo. Pria yang kini berusia lebih dari 90 tahun itu masih cukup sehat dan bugar. Dia masih cukup aktif kendati pendengaran mulai menurun. Berbagai cerita terkait pengalamannya selama menjadi anggota Brimob mengemuka. Mulai DI/TII di Jawa Barat hingga pemberontakan di Irian Jaya.

‘’Namanya prajurit, harus siap ditugaskan dimanapun dan kapanpun. Termasuk ke daerah konflik terpencil sekalipun,’’ kata Suwondo saat ditemui tim madiuntoday beberapa waktu lalu.

Berbagai tugas penting pernah diembannya. Hanya, usia yang sudah tak lagi muda membuatnya sulit bercerita. Nada bicaranya sudah tidak lagi jelas. Sejumlah giginya ompong. Suwondo juga kerap salah mengartikan pertanyaan yang dilontarkan. Maklum, pendengarannya juga sudah menurun. Namun, sedikit informasi yang didapat cukup bercerita tentang kisahnya dulu. Suwondo pernah bertugas di Irian Jaya (sekarang Papua). Konflik dengan pemberontak menjadi hal biasa.

‘’Kami pernah mengawal petugas yang akan menancapkan bendera merah putih di salah satu titik. Urusan memasang bendera saja bisa memicu pertempuran besar,’’ ungkapnya.

Suwondo juga pernah dikirim untuk penumpasan pemberontak Darul Islam (DI) Tentara Islam Indonesia (TII) di daerah Jawa Barat. Gerilya yang dilakukan nyaris sama dengan Bibit Suwandi (veteran lain yang kisahnya sudah ditulis sebelumnya). Nyaris semua daerah di Jawa Barat disambanginya. Keluar masuk hutan menjadi hal biasa. Beberapa pertempuran hebat pecah. Sejumlah rekannya gugur.

Baca juga:   Berbagi Pengalaman Kuliah di Luar Negeri Bersama Dorin Lida Kusumawardani

‘’Pertempuran bisa terjadi secara tiba-tiba. Di tempat yang dianggap aman bisa saja berubah menjadi ajang perang. Tugas di daerah konflik harus terus waspada dan disiplin,’’ ungkap Suwondo yang pensiun 1975 silam ini.

Pengalaman bertempur yang dimiliki Suwondo tak terlepas dari latihan yang dijalaninya. Materi tidak hanya dari pimpinan se-tanah air. Tapi juga didapat dari negeri asing. Suwondo pernah dilatih orang Jepang. Tentara Negeri Sakura tersebut memang membentuk pasukan yang terdiri dari polisi muda. Namanya, Tokubetsu Keisatsutai. Nah, Suwondo tergabung di dalamnya. Setelah Jepang menyerah, Tokubetsu Keisatsutai juga dianggap selesai. Tokubetsu Keisatsutai lantas menjadi Pasukan Polisi Istimewa. Nama ini tak terlepas dari ketangguhannya dalam berbagai penyelesaian konflik.

‘’Setelah itu berganti lagi menjadi Mobile Brigade (Mobrig) dan baru sekitar tahun 61 berubah menjadi Brimob,’’ pungkas Suwondo yang kini tinggal di Desa Suratmajan, Magetan ini. (rahmad/agi/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018