MADIUN – Memilih jalan untuk membuka bisnis dan mempekerjakan orang lain, mungkin jadi mimpi sebagian generasi milenial Kota Karismatik. Pasalnya, di zaman serba teknologi ini, banyak cara dan peluang untuk memasarkan produk.

Namun, hambatan seringkali datang. Misalnya, malas untuk memulai dan kurang telaten dalam menjalankan bisnis rintisan tersebut.

“Telaten dan tanggung jawab itu kunci yang saya pegang sih. Kalau lihat orang lain bikin ini, bikin itu, dan laku kayaknya enak, contohnya bikin masker wajah. Tapi seringnya mereka melupakan segi higienis dan keamanan saat menyampur bahan-bahan kimia,” ujar Gardina Aprilia Firstanti, salah seorang pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Madiun, yang bergerak di bisnis produk kecantikan.

Perjalanan menjadi pengusaha muda yang sekarang terbilang cukup sukses itu dimulai Dina pada 2012. Dia melihat banyak orang yang menjual produk-produk secara online. Dari sana keinginan untuk menjajal peluang itu muncul. Dina pun mengawali bisnis dengan berjualan banyak produk. Seperti produk fashion, tas, dan aksesoris. Sampai pada akhirnya dia menemukan satu produk yang sekarang menjadi fokusnya untuk berbisnis. Yaitu kosmetik, khususnya masker.

“Bisa dibilang, jualan itu cocok-cocokan, gak masalah di awal kita jualan semuanya, nanti kalau sudah berjalan lama. Pasti bakal ketemu ritme dan produk mana yang berjodoh untuk kita jualkan,” terangnya.

Selang waktu berganti, Dina mulai menjajal kemampuan dengan meramu masker sendiri. Berbekal ilmu yang didapatkannya saat duduk di bangku SMK Negeri 3 Kota Madiun, kini dia dapat memproduksi maskernya sendiri. Masker organiknya dibuat menggunakan peralatan sederhana seperti mixer dan blender. Sedangkan untuk mengeringkan bahan baku masker seperti beras merah, atau buah-buahan dia mengandalkan panas dari matahari.

Baca juga:   Si Doel SDN Patihan Peduli Kebersihan Lingkungan

Dengan ilmu kimia yang didapatnya dari sekolah, ditambah dengan ilmu manajemen yang didapatnya dari perguruan tinggi, kini Dina sudah memiliki enam pegawai. Setiap harinya mereka dapat memproduksi lebih dari 200 pack masker. Bahkan, omzet perbulannya bisa mencapai belasan juta.

“Gak bisa dipungkiri memang ilmu dari sekolah itu penting. Selain itu adanya media sosial juga memudahkan saya buat berjualan dan menjangkau pasar yang lebih luas,” imbuhnya.

Gadis asli Kota Madiun ini mengatakan bahwa sekarang dia memiliki empat akun instagram yang aktif memasarkan maskernya. Tujuannya, agar produk yang dijual tidak campur dan pembeli bisa memilih dengan mudah produk mana yang diinginkan. Selain itu, disetiap akun jualannya juga disambungkan dengan situs jual-beli online. Supaya pelanggan dari kota lain bisa dengan mudah melakukan pemesanan.

Dina mengaku, di era revolusi industri 4.0 ini penjual dituntut untuk makin inovatif dan makin melek teknologi. Namun, dia menekankan dalam setiap diri pelaku usaha harus mengutamakan tanggung jawab terhadap barang yang dijual. Agar terjalin rasa percaya antara penjual dan konsumen.

Sebagai pelaku usaha yang sudah bergelut di bidangnya selama lebih dari enam tahun, Dina berpesan untuk generasi muda yang ingin membuka usaha harus membulatkan tekad dan jangan pantang menyerah. “Harus membangun pondasi yang kuat, harus sabar gak perlu terburu-buru untuk ingin produk dikenal atau mendapatkan hasil yang besar,” tandasnya.
(kus/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakcukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018