MADIUN – Dengan kreativitas, sampah pun dapat diolah kembali menjadi barang baru yang berkualitas. Bahkan, tak menutup kemungkinan memiliki nilai jual yang tinggi. Dengan demikian, dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi jumlah pembuangan sampah.

Salah satunya seperti kerajinan tangan yang sedang dikerjakan oleh Lavenia Pristia Sari dan Cantik Sabrina Egi Yuniar. Kedua bocah kelas VI SDN Patihan Kota Madiun itu membuat tas dari koran bekas di sekolahnya. ‘’Baru dua kali diajari,’’ ungkap siswi anggota Pokja 3R di sekolah tersebut saat ditemui, Rabu (28/11).

Menurut Lavenia, keterampilan membuat kerajinan tangan dari koran bekas itu mereka dapatkan ketika mengikuti Pokja 3R. Yakni, reduce, reuse, dan recycle. Pokja ini juga merupakan bagian dari tim Adiwiyata di sekolah yang terletak di Jalan Penataran itu.

Cara membuatnya cukup mudah. Koran dilinting menjadi stik Panjang. Kemudian, dibentuk menjadi benda yang diinginkan dengan bantuan lem. Tak hanya tas, kerajinan lainnya yang sudah dihasilkan oleh para siswa antara lain piring dan tempat tissue.

Kepala SDN Patihan Sumini menuturkan, pihak sekolah tidak sendirian dalam menangani Pokja 3R. Mereka mendapatkan bantuan dari paguyuban yang isinya para wali murid. Mereka yang memiliki keahlian mendaur ulang sampah mengajarkan keterampilan itu kepada anak-anak.

‘’Kegiatan ini dilakukan sejak 2016. Tujuannya, untuk memanfaatkan limbah sampah menjadi hasil karya yang bernilai seni dan bernilai jual,’’ terangnya.

Baca juga:   IKS PI Kera Sakti, Organisasi Bela Diri Muda yang Mendunia

Menurut Sumini, koran didapatkan dari sekolah. Selama ini, mereka memang terbiasa berlangganan koran. Setelah sepekan dan tidak dibaca lagi, baru koran-koran itu dikumpulkan di bank sampah sekolah. Selanjutnya, dipilah-pilah untuk didaur ulang.

Tak hanya koran bekas, beberapa benda lainnya juga dapat dimanfaatkan untuk daur ulang. Misalnya, daun untuk membuat pupuk kompos atau plastik jadi vas bunga.

Lebih lanjut, Sumini menjelaskan, kegiatan ini sebagai bagian dari pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBDP). Harapannya, kegiatan ini dapat membekali siswa agar memiliki keterampilan. Khususnya, di bidang seni. ‘’Tidak menutup kemungkinan suatu saat hasil kerajinan anak-anak ini bisa dijual,’’ imbuhnya.

Untuk saat ini, Sumini mengaku bahwa hasil prakarya anak-anak digunakan sebagai hiasan sekolah. Ada juga sebagian yang digunakan sebagai souvenir ketika ada tamu berkunjung ke sekolah. Salah satunya seperti pada kegiatan pelepasan juri Lomba Sekolah Sehat dan rombongan Pemkot Madiun hari ini. (Dhevit/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Mulai yang polos alias tanpa pita cukai. Atau, berpita cukai palsu dan berpita cukai rokok lain. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakcukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018