TANGERANG – Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi Publik (SAIK) 2018 berlangsung seru, Senin (3/12). Berbagai ilmu mengemuka di hari ketiga kegiatan SAIK yang berlangsung di Kota Tangerang ini. Khususnya, berbagai hal tentang Sinergi Indonesia Menuju Era Komunikasi 4.0 yang menjadi tema kegiatan SAIK kali ini.

Peserta disuguhi berbagai materi sedari pagi. Di antaranya, keynote speech di era komunikasi 4.0 dari Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, paradox marketing strategy for goverment publik relations dari Menteri Pariwisata Arief Yahya, serta PR strategic planning.

Jeda istirahat siang, sejumlah materi penting dan perlu juga tersaji. Mulai social media handling, public speaking, PR talk, PR strategic planning sesi kedua. Ribuan peserta dari Dinas Kominfo dan Humas seluruh daerah di tanah air tampak serius. Apalagi, materi dibawakan pembicara jempolan di bidangnya. Seperti Nukman Luthfie, praktisi media, yang membawakan materi pengelolaan media sosial tersebut. Menurutnya, medsos sarana publikasi efektif saat ini. Sebab, nyaris semua orang mengakses medsos. Ini harus dimanfaatkan humas pemerintah daerah.

“Ada berbagai medsos yang populer digunakan masyarakat. Saya kira humas jaman sekarang sudah menggunakan itu. Tinggal bagaimana memaksimalkannya,” kata Nukman.

Medsos, kata dia, bukan sekedar sarana penyebarluasan informasi. Namun, harus dapat menciptakan interaksi di dalamnya. Berbagai cara dapat dilakukan. Salah satunya, dengan menyisipkan kuis. Tidak perlu yang besar. Cukup pertanyaan ringan dengan hadiah kecil-kecilan. Tujuannya, memang untuk menciptakan interaksi dan seru-seruan tentunya.

“Penyajian informasi memang penting. Tetapi akan lebih mengena jika ada interaksi di dalamnya. Kalau dari materi informasi belum memunculkan interaksi, bisa dibangun dengan kuis,” jelasnya.

Selain itu, pengunggahan juga wajib memperhatikan prime time atau waktu dimana pengguna sosmed tengah tingginya. Setiap sosmed memiliki waktu prime time tersendiri. Kultur masyarakat setiap daerah juga mempengaruhi. Namun, menurutnya, secara umum biasanya pagi sebelum jam 09.00, waktu istirahat siang, dan sore hingga petang. Namun, konten juga harus mendukung. Konten video baiknya, tidak lebih dari tiga menit dengan 15 detik pertama merupakan inti dari video yang disampaikan. Artinya, tidak perlu bertele-tele.

Baca juga:   Lantik Pejabat Administrator dan Pengawas, Walikota Harapkan Peningkatan Kinerja

“Banyak konten positif yang dapat ditonjolkan di suatu daerah. Banjiri medsos dengan beragam konten positif ini untuk mengubur konten negatif yang mungkin muncul,” ujarnya.

Staf Khusus Presiden RI Adita Irawati menyebut untuk menciptakan produk humas yang bagus harus berdamai dengan birokrasi. Artinya, antar elemen dalam birokrasi harus bersinergi dan memiliki satu semangat yang sama. Tidak boleh saling membenturkan. Terutama ditataran atas. Ini penting agar informasi segera dapat diberikan kepada masyarakat.

“Proses pengambilan keputusan dalam birokrasi biasa cukup panjang. Ini menjadi masalah tersendiri. Padahal, informasi ini harus segera diberikan agar tidak didahului informasi lain yang merugikan,” ujarnya.

Humas, lanjutnya, harus memiliki sensitifitas tinggi. Ini penting untuk menangkap segala isu yang tengah atau akan mengemuka. Langkah antisipasi harus segera disiapkan. Terutama statement kepala daerah terkait isu tersebut. Kepala daerah harus tetap terlihat baik dihadapan publik.

Kepala Diskominfo Kota Madiun Subakri menyebut sudah menyiapkan sejumlah strategi yang diungkap pemateri. Salah satunya, kuis di medsos untuk memaksimalkan interaksi dengan masyarakat. Pihaknya sudah menganggarkan Rp 5 juta perbulan untuk kuis tersebut. Kuis medsos ini bakal dimulai 2019 mendatang.

“Media sosial sudah kami terapkan sebagai sarana publikasi di Kota Madiun. Kami memiliki berbagai medsos yang aktif saat ini. Prinsipnya, kami terus mengoptimalkan segala media demi memberikan informasi yang maksimal untuk masyarakat,” ungkapnya. (ws hendro/agi/diskominfo).