Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati, Yuk Kenali Stunting Sejak Dini!

MADIUN- Stunting tak ubahnya sebagai istilah asing di telinga. Tak jarang, banyak dari kita mempertanyakan apa pengertian dari stunting ini. Padahal, di Indonesia stunting menjadi salah satu fokus utama kesehatan yang harus segera di selesaikan karena berhubungan dengan keberlangsungan generasi penerus bangsa.

Sesuai dengan penuturan Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB) Kota Madiun dr. Agung Sulistya Wardani, M.Mkes yang mengatakan bahwa stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.

“Sehingga hal tersebut mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya,” ujarnya.

Banyak dari kita salah mengartikan bahwa kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya. Sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

“Stunting sendiri merupakan proses panjang. Ada istilah 1000 awal kehidupan dimulai dari bertemunya sel sperma dan sel telur. Jadi kalau di kandungan 270 hari, tahun pertama 365, dan tahun kedua 365 hari,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, bahwa stunting dapat dicegah mulai dari masa kehamilan awal. Yakni melalui cara memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan saat ibu hamil, hingga anak berusia dua tahun.

“Contohnya seperti mengkonsumsi makanan empat sehat, lima sempurna harus seimbang dan divariasikan. Sedangkan dari segi kuantitas dilihat secara umum status gizinya baik atau tidak. Maka secara kuantitas ada tambahan sekitar 300 kilo kalori nambah satu porsi,” jelasnya.

Kemudian, kata dia, pada saat menyusui kebutuhan kalori mencapai 500 kilo, itu untuk status gizi normal. Kalau untuk mereka yang kelebihan atau kekurangan berat badan maka standarnya akan menyesuaikan dengan kondisi.  Untuk mereka yang hamil kelebihan berat badan antara 10-12.5 kilogram untuk yang kelebihan berat badan maksimal 10 kilogram.

Baca juga:   Ketua MUI Himbau Penarikan Suplemen Mengandung Babi

“Ada poin yang perlu diingat setelah hamil ada asi ekslusif selama 6 bulan lalu disambung sampai umur 2 tahun. Semakin sering diberikan, maka ASI akan lancar. Setelah itu harus dilanjut dengan MPASI atau makanan pendamping ASI,” terangnya.

Angka stunting di Kota Madiun sendiri, tiap tahunnya mengalami penurunan. Pada 2016 berada di angka 16 persen, 2017 sebanyak 14 persen, sedangkan untuk tahun ini sebanyak 11 persen. Hal ini tak ubahnya menjadi bukti, bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkot Madiun melalui Dinas Kesehatan Dan KB dalam menekan angka stunting, bisa dikatakan berhasil.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan sosialisasi bulan timbang, seperti yang dilakukan pada Rabu (23/1). Bertempat di Asrama Haji Kota Madiun, Dinkes melakukan sosialisasi kepada Camat, Lurah, Penggerak PKK, dan Kepala Puskesmas se Kota Madiun. Menggandeng Seksi Keluarga dan Gizi Masyarakat Bidang Kesehatan Masyarakat yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tmur sebagai Narasumber sebagai narasumber, yakni Edy Suroso.

Eddy menuturkan, sosialisasi bulan timbang merupakan sebuah upaya untuk menurunkan stunting. “Bulan timbang sendiri merupakan kegiatan yang dilakukan dengan pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi bagi anak balita,” katanya.

Dia menegaskan, penurunan angka prevalensi perlu dilakukan , karena hal ini berkaitan langsung dengan keberlangsungan kualitas generasi yang akan datang. dhevit/kus/irs/ayu/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019