Kelompok seniman yang mayoritas anggotanya anak muda mengangkat kembali musik keroncong. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Eksistensi kesenian khas daerah memang makin terhimpit dengan keberadaan musik-musik modern di era saat ini. Namun, bukan berarti sudah tidak ada peminatnya. Bahkan, pegiatnya pun makin getol untuk membangkitkan kembali kejayaan musik tradisional.

Salah satunya seperti yang dilakukan grup musik Sukoroncong asal Kota Madiun. Kelompok seniman yang mayoritas anggotanya anak muda itu berupaya menampilkan kembali eksistensi musik keroncong.

”Awalnya suka keroncong dari mbah buyut,” tutur Krisna Nur Affandi, salah seorang anggota Sukoroncong. Sebelum membentuk grup musik, para anggota yang masih ada hubungan saudara itu biasa tampil untuk mengisi acara 17-an di lingkungan tempat tinggal. Yaitu, di RT 20 RW 7 Kelurahan Josenan.

Seiring berjalannya waktu, para anggota ingin melakukan hal lebih. Karena itu, terbentuknya grup musik Sukoroncong ini.

Suko artinya suka. Sedangkan, roncong adalah kependekan dari keroncong. Dua kata itu lantas digabung menjadi Sukoroncong.

Selain Krisna, ada 9 anggota lainnya. Mereka terdiri atas beragam usia. Yang paling senior adalah Kusnadi (41) dan yang termuda adalah Fajar Adi (19). Selain itu juga ada Galih Setyaji, Arif Tri Setyawan, Vera Martina Dewi, Daniel Epni Sinandey, Wahyudi, Annisa Imsawati, dan Arik Hermawan.

Krisna menjelaskan, grup musik yang memiliki basecamp di Jalan Sukoyono itu berdiri sejak 17 Agustus 2017. Bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan sukoroncong, para nggota berupaya memberikan penampilan yang berbeda dari musik keroncong. Namun, juga tidak meninggalkan pakem yang ada. ”Selain itu juga melestarikan musik keroncong yang sudah kuat di dalam keluarga,” tutur pria 23 tahun itu.

Dalam setiap penampilan, mereka menggunakan beragam alat musik khas keroncong. Seperti, cak-cuk, biola, dan celo. Serta, ditambah alat musik lainnya. Yakni, bass, melodi, keyboard, dan mixer.

Baca juga:   Kiat Gardina Aprilia Firstanti Jadi Jutawan di Usia Muda Lewat Bisnis Online

Untuk mengembalikan eksistensi musik keroncong, grup musik ini aktif mengekspos hasil karyanya melalui berbagai media sosial. Seperti, Youtube dan Instagram. ”Awalnya, banyak yang melihat sebelah mata, tapi kami jawab dengan meningkatkan kualitas,” ungkapnya.

Untuk menarik minat kaum milenial, grup Sukoroncong sering memainkan lagu-lagu yang tengah hits saat ini. Mulai dari aransemen pop, lagu barat, hingga musik-musik yang nge-beat. ”Namun, tetap tidak meninggalkan pakem keroncong,” imbuhnya.

Meski demikian, ada lagu-lagu yang paling diminati para pecinta musik sukoroncong. Yakni, lagu Dolanan, Padang Bulan, dan lagu daerah lainnya. Setiap sesi, para anggota selalu mempersiapkan 30 lagu. Sehingga, ketika ada yang request, mereka sudah siap.

Grup musik yang sudah memiliki nomor induk di Disbudparpora itupun tak main-main dalam menjaga kualitas musik. Mereka selalu latihan setiap Jumat. Bahkan, sampai mendatangkan instruktur agar permainannya semakin bagus. Bagi mereka, kualitas adalah hal yang penting. Bahkan, tidak dapat dinilai dengan uang.

Dengan berbagai upaya yang telah mereka lakukan, Sukoroncong berharap musik keroncong bisa lestari sampai ke anak turun mereka nanti. Khususnya, di kalangan keluarga besar Mbah Marto Saimun. ”Ini jadi salah satu cara untuk merukunkan keluarga lewat keroncong,” tambahnya. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019