MADIUN- Keterbatasan bukanlah suatu kekurangan. Lebih dari itu ia menjelma menjadi sebuah kesempurnaan dalam wujud yang berbeda. Hal tersebut seolah menjadi penggambaran yang tepat untuk kondisi yang dialami oleh Fauzan Fadli Shani.

Sejak kecil, dia mengidap penyakit mutasi genetik yang menyebabkan kelumpuhan pada bagian otot sadarnya. Sehingga, untuk berjalan dan melakukan aktivitas fisik lainnya menjadi terhalang. Dibantu dengan kursi roda dan bantuan dari orang sekitar, khususnya kedua orang tua dan teman-teman, untuk menunjang aktivitas yang akan dia lakukan.

Namun, keterbatasan fisik yang dimiliki tak menjadi penghalang baginya untuk menjadi seorang programmer. Atau seseorang yang mempunyai kemampuan dan keahlian di dalam membuat dan menyempurnakan suatu program komputer.

“Saya tertarik sejak kelas 5 SD, tapi baru bisa menyalurkan secara serius hobi di dunia pemrograman sejak masuk di MAN 1 Kota Madiun. Di sana, saya mengikuti ekstrakurikuler robotik dan saya di bagian programming,” ujar mahasiswa semester 6 Universitas PGRI Kota Madiun (UNIPMA) itu.

Setelah itu, lanjutnya, bakat yang dimiliki semakin terasah saat dia berada di jenjang kuliah. Dia mendapatkan materi kuliah dasar-dasar pemrograman, algoritma, dan lain sebagainya.

“Selain itu lebih banyak belajar sendiri, lewat youtube atau forum-forum di  internet. Semakin ke sini, saya merasa logika semakin terasah dan semakin ingin mendalami dunia programming, khususnya pemrograman pada website,” akunya.

Baca juga:   Aktif Berkegiatan, Ida Wijayanti Buktikan Mampu Raih IPK Terbaik

Tak hanya itu, pemuda 20 tahun itu juga melatih kemampuannya di pelatihan yang diadakan oleh Dinas Ketenagakerjaan Kota Madiun, melalui pelatihan animasi. Memang, belum banyak lomba yang diikutinya. Namun, dari programming dia mampu mengumpulkan uang untuk ditabung dan memenuhi kebutuhanntya sendiri.

Hal di atas sesuai dengan cerita yang disampaikan sang ibunda Rina Nurul Makrufah. Dia mengatakan bahwa sejak SMP anak pertama dari dua bersaudara ini telah mandiri.

“Sejak dulu, Fauzan ini gak pernah minta macam-macam. Selama ini dia selalu mengumpulkan uang saku atau uang dari hasil programingnya untuk memenuhi kebutuhannya pribadi, seperti membeli laptop,” jelas Rina dengan suara bergetar.

Baginya, selama ini Fauzan tak pernah menyusahkannya. Keterbatasan yang dimiliki anaknya, hanya sebagian kecil dari banyak kelebihan yang dimiliki oleh putra sulungnya.

“Meskipun sehari-hari harus digendong ayahnya untuk sekadar ke toilet, tapi itu tak menjadi masalah. Prestasi akademiknya cukup membanggakan, dia bisa mendapat nilai di atas rata-rata dan selama ini memiliki nilai IPK (indeks prestasi kumulatif) di atas 3.60,” tandasnya.(dhevit/kus/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019