Mengenang Letusan Kelud 2014 Silam, Kota Madiun pun Tertutup Kabut Kelam

Klik foto untuk menampilkan keterangan.

MADIUN – Tak seperti hari Valentine lainnya, 14 Februari 2014 jauh dari kata romantis. Terutama, bagi warga yang tinggal di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Butiran lembut yang turun dari langit itu bukan salju. Melainkan, abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud.

Ya, Kamis 13 Februari 2014, tepatnya pukul 22.55, gunung berapi yang masih aktif itu menciptakan letusan yang dahsyat. Lontaran materialnya mencapai radius 17 kilometer ke angkasa.

”Ini letusan terbesar sepanjang sejarah Gunung Kelud,” tutur Ketua Tim Pemantau Aktivitas Gunung Kelud dari PVMBG Bandung Umar Rosyadi di pos pemantauan Gunung Kelud Dusun Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Rabu, 26 Februari 2014 (dilansir dalam www.liputan6.com, 13 Februari 2019).

Dampak abu vulkanik dari letusan itupun dirasakan oleh warga Kota Madiun. Seluruh wilayah kota tertutup oleh debu dan pasir berwarna putih. Masker dan penutup kepala menjadi andalan di tengah deburan abu. Kondisi ini jauh lebih parah jika dibandingkan dengan erupsi Merapi 26 Oktober 2010 silam. Padahal, jarak Yogyakarta dan Madiun hanya terpaut sekitar 160 kilometer.

Mobil pemadam kebakaran beralih fungsi untuk menyemprot jalanan yang dipenuhi abu setebal lima sentimeter. Sejumlah pejabat daerah pun turun tangan membagikan masker gratis bagi warga.

Mobilitas masyarakat pun terganggu. Sekolah juga terpaksa diliburkan. Anak-anak yang sudah terlanjur berada di sekolah diminta belajar di rumah.

Baca juga:   Evakuasi Klir, Jalur Ngawi Kembali Aktif

Sehari setelahnya, abu vulkanik berhenti turun. Namun, sisa erupsi di hari kemarin masih menumpuk. Masyarakat gotong royong membersihkan lingkungan. Termasuk siswa sekolah. Alih-alih belajar, mereka datang ke tempatnya menimba ilmu untuk kerja bakti.

Meski ditetapkan sebagai bencana provinsi, dampak letusan Kelud dirasakan hampir seluruh wilayah Jawa. Bahkan, dilaporkan sudah mencapai Kabupaten Ciamis, Bandung, dan beberapa daerah lain di Jawa Barat. Tujuh bandara, yakni di Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Cilacap dan Bandung, harus ditutup lebih dari sepekan.

Berdasarkan data Pemprov Jawa Timur, 12.304 rumah mengalami kerusakan pascaerupsi. Kebun apel di Batu, Jawa Timur, membukukan kerugian hingga Rp 17,8 miliar. Sedangkan, industri susu membukukan kerugian lebih banyak lagi akibat tercemar debu dan sapi perah yang tidak mengeluarkan susu.

Hingga saat ini, gunung yang memiliki ketinggian 1.731 meter itu masih dinyatakan aktif. Sejak 1.000 Masehi, Kelud telah meletus lebih dari 30 kali. Tentu, tak ada yang mengharapkannya murka lagi. Hingga nanti. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019