Asih juga bertanggung jawab untuk mengajari anak didiknya hingga mampu untuk paham dengan materi pelajaran. (dhevit - madiuntoday)

MADIUN- Asih Sumarsih tak pernah membayangkan dirinya menjadi seorang shadow teacher atau guru pendamping. Istilah yang lazim digunakan untuk menyebut mereka yang berperan sebagai guru pendamping bagi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).

Selama satu setengah tahun, dirinya telah mengabdikan diri untuk menjadi guru pendamping bagi ABK yang berada di SD Kreatif Kartoharjo Aisyiyah. Tentunya, tak semua orang memiliki keahlian dan kesabaran yang cukup untuk menjadi seorang shadow teacher.

“Dulunya saya ngajar di TK, tapi jalan hidup yang membawa saya kesini,” ucapnya sembari tertawa memperhatikan tingkah Fauzi, seorang siswa pengidap autis yang didampinginya.

Hingga saat ini, ada empat siswa yang sudah didampinginya. Mulai dari yang memiliki kebutuhan khusus seperti down syndrom, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), hingga autis.

Sebagai seorang guru pendamping di kelas, Asih tak hanya dituntut untuk menjadi seorang pendamping. Namun dia juga bertanggung jawab untuk mengajari anak didiknya hingga mampu untuk paham dengan materi pelajaran.

“Setiap guru pendamping ditugaskan untuk mendampingi satu ABK. Setidaknya saya di kelas mengajari mereka untuk paham. Kalau murid biasa ada di tema 4, kewajiban saya untuk membuat ABK sudah nyampe di tema 2,” jelasnya.

Jika melihat ke belakang, bagi perempuan yang tinggal di Jalan Sri Sedono Kota Madiun ini, mengawali karir sebagai seorang guru pendamping sangatlah berat, bahkan sampai membuatnya menangis.

Baca juga:   Kisah Veteran Brimob Bibit Suwandi

“Awalnya itu bingung, tidak tahu caranya menangani murid ABK yang tiba-tiba tantrum, hiperaktif, atau mungkin usil. Mereka itu tidak bisa ditebak,” ungkapnya.

Lambat laun, dengan latar belakang ilmu, ketelatenan serta kesabaran yang dimilikinya, Asih mampu untuk menangani anak didik spesialnya.

“Biasanya pas tantrum itu tinggal lihat posisinya. Kalau dia yang salah kita nasehati dengan lemah lembut. Kalau mereka sudah mengerti baru kita arahkan untuk fokus ke hal lain jadi biar tantrumnya hilang,” ucapnya.

Kalau sudah lemah lembut dan dibilangi tidak bisa, lanjutnya, sebagai pendidik Asih akan berlaku tegas. Menekankan ke mereka kalau apa yang mereka lakukan salah, nantinya mereka akan berpikir sendiri kalau itu salah dan menjadi tenang kembali.

Asih berharap, pengabdian yang diberikannya berdampak positif bagi perkembangan anak didik spesialnya.

“Mereka itu sebenarnya memiliki kelebihan yang justru jarang dimiliki anak pada umumnya. Saya berharap profesi saya sebagai guru pendamping ini bisa membawa mereka untuk sukses di masa depan,” tandasnya. (dhevit/kus/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019