MADIUN – Sejak Januari hingga Maret, penyakit demam berdarah telah menjangkiti sebagian warga Kota Madiun. Berdasarkan data Dinas Kesehatan dan KB, ada 50 penderita yang positif terkena penyakit tersebut. Karena itu, kegiatan fogging masih terus dilakukan.

Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kota Madiun dr Agung Sulistya Wardani menuturkan, pihaknya selalu siap melaksanakan pengasapan. “Selama ada penderitanya, kawasan itu langsung kami fogging,” tuturnya saat ditemui di Wisma Haji, Kamis (14/3).

Hal ini seperti tampak di sekitar jalan Dr Soetomo sebelah selatan pagi ini. Petugas berkeliling sambil mengasapi lahan, bangunan, hingga selokan di wilayah itu.

Fogging dilakukan dua kali dalam satu wilayah. Jaraknya adalah sepekan. Sesuai dengan siklus perkembangan jentik menjadi nyamuk dewasa.

Proses fogging memang tidak dapat dilakukan sebelum ada penderita DBD di suatu wilayah. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 581 Tahun 1992. Karenanya, Wardani mengimbau agar masyarakat tidak bergantung pada fogging saja.

Baca juga:   Ini Misi Pusyan Gatra Kota Madiun

“Terapkan pola hidup bersih dan sehat. Serta, gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk, red),” tegasnya.

Lebih lanjut, Wardani menjelaskan, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan, jentik nyamuk masih bertahan. Karenanya harus diberantas dengan tidak membiarkan wadah terbuka dan tergenang air sehingga menjadi sarang nyamuk. Bisa juga menambahkan bubuk abate pada wadah penampungan air. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019