Tak Melulu Soal Kesehatan, Stunting Perlu Penanganan Multisektor

MADIUN – Kasus stunting masih menjadi perhatian tersendiri bagi Pemerintah Indonesia. Bahkan, menjadi salah satu topik hangat dalam debat cawapres Minggu (17/3) lalu. Oleh karenanya, berbagai upaya dilakukan untuk mencegah kondisi tersebut.

Stunting adalah kondisi di mana pertumbuhan tubuh anak tidak seperti teman-teman sebayanya. Namun, kondisi ini berbeda dengan kerdil atau cebol. Sehingga, anak stunting sudah pasti pendek. Tapi, anak pendek belum tentu stunting.

Berdasarkan kamus UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak usia 0 sampai 59 bulan dengan tinggi di bawah standar pertumbuhan anak. Selain itu, perkembangan otak tidak maksimal. Akhirnya, kemampuan mental dan belajar berkurang. Dengan demikian, prestasi sekolah pun buruk.

Stunting juga berkaitan dengan kurangnya asupan gizi pada anak. Namun, hal ini bukan faktor utama. Sebab, kondisi stunting sebenarnya dipengaruhi oleh banyak hal. ”Faktor kesehatan hanya 30 persen (memengaruhi stunting). 70 persennya multisektor,” tutur Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kota Madiun dr Agung Sulistya Wardani.

Salah satunya adalah kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal. Bersih atau tidaknya sebuah lingkungan akan memengaruhi kondisi tanah dan air di sekitarnya. Kemudian, hasil dari tanah dan air itu dikonsumsi oleh masyarakat.

Karenanya, Wardani selalu mengimbau kepada masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Misalnya, dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengelola limbah dengan baik, BAB tidak pada tempatnya, serta menjaga kualitas air dan tanah.

Baca juga:   Vaksin Difteri Putaran Kedua Berjalan

Kemudian, faktor lainnya yang memengaruhi adalah kondisi ibu ketika hamil. Seribu hari pertama kehidupan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Karenanya, calon ibu harus mempersiapkan diri dengan baik. Terutama, dalam hal pemenuhan gizi.

Wardani menjelaskan, anak stunting baru bisa diketahui ketika sudah berusia 2 tahun. Namun, pada saat itu akan sulit diobati. Karenanya, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan mencegahnya terjadi.

”Selama masa kehamilan, gizi ibu harus terpenuhi. Begitu pula ketika bayi sudah lahir,” tuturnya. Untuk itu, Dinkes KB terus melakukan upaya pendampingan terhadap ibu hamil melalui kader-kadernya di puskesmas.

Hingga akhir Desember 2018, ditemukan ada 995 anak di Kota Madiun yang mengalami masalah stunting. Jika dipersentasekan menjadi 11,84 persen. Sebenarnya, angka ini masih di bawah batas toleransi WHO. Yakni, tidak lebih dari 15 persen.

”Meski demikian, stunting ini terus menjadi perhatian kami agar semakin berkurang. Karenanya, dibutuhkan peran serta masyarakat juga untuk mensukseskan program ini,” tegasnya. (Dhevit/irs/madiuntoday)