Makin Memikat di Malam Hari, Tepis Kesan Horor Selama Ini

SEMARANG – Mendengar nama Lawang Sewu, sebagian orang pasti langsung membayangkan bangunan tua angker dengan banyak pintu yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tak dapat dipungkiri, kesan itu telah melekat cukup lama pada gedung berusia lebih dari 100 tahun yang dulunya difungsikan sebagai kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS.

Namun, kesan itu telah berubah sejak bangunan yang terletak di depan bundaran Tugu Muda tersebut mengalami renovasi bertahap (tanpa menghilangkan keaslian arsitekturnya) mulai 2010 oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Hal ini terbukti saat tim Madiuntoday.id berkunjung ke Lawang Sewu bersama kru Daop 7 Madiun dan media se-Madiun Raya pada Senin (25/3). Kegiatan presstour itu dilakukan pukul 17.30 – 19.00 pada bangunan bersejarah tersebut.

Mengunjungi Lawang Sewu menjelang petang rupanya jauh dari kesan horor. Bangunan tersebut tampak megah dan terawat seperti baru. Lampu di dalam lokasi tersebut juga sudah mulai dinyalakan. Tentu, semakin menambah keindahan arsitektur gedungnya.

“Sejak 2008 sudah dibuka mulai jam 7 pagi sampai 9 malam. Sebelum itu malah dibuka hingga 24 jam,” tutur Heri Sunaryo, Tour Guide Lawang Sewu.

Seperti namanya, Lawang Sewu memiliki banyak pintu dan jendela. Semuanya menghubungkan antara satu ruangan dengan yang lain. Sebagian ruangan dimanfaatkan sebagai area pajangan benda-benda bersejarah terkait kereta api. Ada pula yang digunakan sebagai ruang audio visual. Serta, ada juga yang tetap dibiarkan kosong.

Meski mengalami pemugaran yang cukup besar, rupanya masih ada sebagian dinding yang dibiarkan tetap bongkah. Ini bukan tanpa alasan. Tujuannya, untuk memperlihatkan betapa kokohnya pondasi dari gedung yang dibangun sejak 1904 itu.

Baca juga:   ‘Patung Hidup’ Museum Fatahillah, Daya Tarik Tersendiri Wisatawan Pecinta Sejarah

Heri menuturkan, renovasi Lawang Sewu dilakukan secara bertahap. Mulai dari gedung A dan C. Kemudian, berlanjut pada gedung B, D, dan E.

Pada proses renovasi itu pula, pengelola memutuskan untuk menutup akses ke ruang bawah tanah. Yakni, dengan memberikan rantai pembatas di depan pintu. Serta, menghilangkan tangga yang digunakan sebagai sarana menuju area bawah tanah.

“Lawang Sewu tidak angker,” tegas pria 45 tahun yang telah menjadi tour guide Lawang Sewu sejak 2008 itu.

Rupanya, tak hanya rombongan presstour saja yang merasakan kesan itu. Pada saat yang sama, banyak pengunjung lain yang turut menikmati keindahan Lawang Sewu di malam hari.

Kamera ponsel hingga SLR pun tak lepas dari genggaman. Betapa tidak, setiap sudut ruangan sangat sayang jika tak diabadikan dalam foto.

Lebih lanjut, Heri mengatakan, tingkat kunjungan di Lawang Sewu cukup seimbang. Baik siang maupun malam hari. Itu karena pemandangan yang disajikan pun berbeda. “Tergantung selera pengunjung,” imbuhnya.

Baik siang maupun malam, Heri berharap masyarakat tidak lagi memandang Lawang Sewu sebagai area mistis. Kesan itu sudah lama dihapuskan. Sehingga, pengunjung bisa lebih fokus pada nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

“Lawang Sewu adalah bangunan sejarah yang penting bagi Indonesia. Khususnya, pada perkembangan kereta api di tanah air,” tandasnya. (irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakcukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik