Nostalgia Masa Kolonial Belanda di Museum KA Ambarawa

AMBARAWA – Stasiun Willem I atau yang lebih dikenal dengan nama Stasiun Ambarawa memang sudah tidak beroperasi saat ini. Bukan tutup total. Melainkan, beralih fungsi menjadi Museum Kereta Api Ambarawa.

Di dalam museum perkeretaapian pertama di Indonesia ini, pengunjung disuguhkan dengan kemegahan arsitektur bangunan ala Belanda.

“Modelnya mirip dengan stasiun kereta api yang ada di Denhaag,” tutur Supervisor Museum Kereta Api Ambarawa Thanti Feliana saat menyambut rombongan Press Tour yang diprakarsai oleh Daop 7 Madiun, Selasa (26/3).

Setiap gedung dibangun menggunakan bahan khusus. Mulai dari bata, pasir, hingga putih telur. Kekokohannya pun tak usah diragukan lagi.

Hampir tidak ada yang berubah dari gedung ini sejak awal pembangunannya dulu. Kecuali, loket pembelian tiket museum dan lorong menuju stasiun.

Memasuki lorong, pengunjung disuguhi pajangan berisi foto, paparan singkat tentang stasiun, serta banner berisi perjalanan sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Tak sampai di situ saja. Benda-benda di dalam stasiun lebih menakjubkan lagi. Ada 24 lokomotif kuno yang berdiri di atas relnya. Baik yang berbahan bakar diesel maupun uap. Tiga di antaranya masih dapat digunakan sebagai sarana kereta wisata.

Pada kunjungan press tour, tim Madiuntoday.id berkesempatan untuk menjajal kereta api diesel. Dengan menempuh 1 jam perjalanan Stasiun Ambarawa – Tuntang, nostalgia masa lalu itu semakin terasa. Apalagi, penumpang kereta disuguhi pemandangan indah selama perjalanan. Salah satunya, Rawa Pening.

Tak hanya itu, museum yang beralamat di Jalan Panjang Kidul No. 1, Panjang, Ambarawa itu juga memiliki koleksi 330 benda khas. Antata lain, mesin ticketing, timbangan, dan perlengkapan perkeretaapian lainnya. Seluruhnya masih terawat dengan baik.

Baca juga:   ‘Patung Hidup’ Museum Fatahillah, Daya Tarik Tersendiri Wisatawan Pecinta Sejarah

Hingga saat ini, stasiun yang masuk dalam wilayah kerja Daop 4 Semarang ini tak pernah sepi pengunjung. Menurut Thanti, rata-rata ada 3 ribu pengunjung setiap pekannya. Baik perorangan, kelompok, sekolah, maupun keluarga.

Selain wisatawan domestik, Museum KA Ambarawa juga kerap jadi jujukan turis asing. Daya tarik terbesar adalah wisata kereta uap yang menjadi unggulan di museum ini.

“Tahun 2018 jumlah turis asing mencapai 850 orang. Tahun ini, sampai bulan Maret ini sudah ada 250 orang turis asing,” ungkapnya.

Untuk dapat menikmati Stasiun KA Ambarawa, pengunjung dikenakan tarif tiket. Harga tiket masuk untuk anak-anak Rp 5 ribu per orang dan dewasa Rp 10 ribu per orang. Sedangkan, tiket kereta api wisata dihargai Rp 50 ribu per orang.

Namun, hanya dapat dinikmati pada Sabtu dan Minggu saja. “Tiket ini harganya flat. Jadi mau liburan atau acara besar harga tiketnya tetap sama,” ujarnya.

Ke depan, PT KAI berharap akan semakin banyak daop yang memiliki potensi lain. Sehingga, dapat dikembangkan sebagai sarana mengenalkan sejarah kereta api di Indonesia bagi masyarakat. Baik dalam bentuk paket wisata, edukasi, maupun cara-cara potensial yang lainnya. (irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019