Kehilangan kaki kiri tak membuat Santoso gentar. (wshendro - madiuntoday)

MADIUN – Penyakit berbahaya dan mematikan tak jarang membuat penderitanya merasa putus asa. Seolah harapan hidup semakin kecil. Tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali meratapi nasib. Namun, rupanya hal itu tidak berlaku bagi Budi Santoso.

Menderita Diabetes hingga harus kehilangan kaki kiri tak membuatnya gentar. Santoso masih tetap seperti yang dulu. Pria pekerja keras yang rela banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

”Dukungan dari orang-orang terdekat yang menguatkan saya,” ungkapnya saat ditemui tim Madiuntoday di trotoar Jalan Perintis Kemerdekaan, Selasa (2/4).

Pun ketika dirinya dinyatakan mengidap Kanker Nasofaring setahun setelah proses amputasi. Kemudian, mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan tempatnya bekerja. Menurutnya, kondisi itu telah menjadi ketetapan Tuhan. Tak ada gunanya mengeluh. Santoso harus mencari cara untuk bisa terus menjalani hidup.

”Alhamdulillah kena PHK. Uang pesangonnya saya gunakan untuk berobat. Kalau tidak di-PHK, dari mana saya punya biaya untuk berobat,” tuturnya sembari bersyukur kepada Tuhan.

Kini, pria 45 tahun itu berjualan di sekitar Perintis Kemerdekaan dan Jalan Kalimantan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada wedang teh, kopi, dan susu. Ditambah camilan seperti roti, kacang, dan keripik. Santoso juga menyediakan rokok dan pulsa.

Dalam sehari, pendapatannya pun tak menentu. Berapapun hasilnya dia berikan kepada sang istri. Sebagian untuk dibelikan dagangan lagi, sebagian untuk tabungan berobat, sisanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk berjualan, Santoso menggunakan sepeda modifikasi. Pedal ada di tangan dan kaki kanan. Sedangkan, stang hanya satu di tangan kiri. Barang dagangan ada di bak bagian belakang. Meski sudah menggunakan kaki palsu, kaki kirinya tetap tak dapat bergerak leluasa.

Baca juga:   Kisah Empat Mahasiswa Unipma Rintis Usaha Roti Kekinian

Ide berjualan dengan cara itu dia dapatkan ketika menjalani perawatan di Surabaya. Saat menunggu antrian, dia melihat ada penjual minuman yang menjajakan dagangannya dengan cara yang sama.

”Saya coba di sini dengan sedikit modifikasi,” ujarnya. Dengan bantuan seorang tetangga, Santoso akhirnya mendapatkan modifikasi sepeda yang sesuai.

Januari 2019, Santoso mulai berjualan keliling dengan sepeda. Namun, sebelumnya dia menghabiskan waktu 3 bulan untuk melatih kekuatan tangan agar bisa mengayuhnya.

Meski mendapat berbagai cobaan, pria yang tinggal di Jalan Perintis gang IV itu selalu berusaha untuk bersyukur. Ibadahnya tak pernah putus. Semangatnya terus menggebu.

”Penyakit itu asalnya dari pikiran. Karena itu, harus terus semangat dan berpikir positif. Tidak ada gunanya mengeluh,” tuturnya.

Kini, Santoso tak hanya menyimpan semangat untuk dirinya saja. Dia juga menularkannya kepada orang-orang yang memiliki kondisi serupa. Dia berharap, hal itu dapat membantu dan menguatkan mereka yang membutuhkan.

”Tuhan memberikan kondisi seperti ini. Jangan disesali. Tinggal bagaimana kita menjalani,” tandasnya. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019