MADIUN – Kadang bukan soal materi saja yang dibutuhkan untuk melawan penyakit mematikan. Dukungan moril juga menjadi alasan kuat bagi mereka untuk tetap berjuang. Hal itulah yang dilakoni oleh Fadilatul Muzayyanah, Founder Gerakan Optimis Project.

Optimis Project merupakan gerakan sosial yang membagikan boneka kepada anak-anak penderita kanker. Bukan boneka biasa. Boneka ini diberi nama Hero. Tujuannya, sebagai bentuk pengaktualisasian bagi para jagoan cilik. Bahwa, mereka memiliki kekuatan super untuk melawan rasa sakit dan menjadi pahlawan untuk diri mereka dan keluarga.

”Mereka sebenarnya anak-anak yang kuat. Mereka memiliki kekuatan yang lebih dari yang kita bayangkan. Namun terkadang mereka juga membutuhkan dorongan dari orang-orang terdekat. Dengan melihat boneka ini, harapannya mereka bisa lebih semangat dalam menjalani pengobatannya,” tutur perempuan asal Madiun yang akrab disapa Dila itu.

Alumnus Kebidanan Universitas Brawijaya ini menuturkan, Optimis Project tercetus sejak akhir November 2018. Ide ini terbentuk saat dirinya menjalani praktek di puskesmas di Kabupaten Malang sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan profesi.

Kala itu, Dila menemukan seorang pasien anak-anak yang menderita kanker darah. Kondisinya lemas dan pucat. Bahkan sempat kejang ketika diinfus sebelum dirujuk ke rumah sakit di kota. Dari situ tergerak keinginan untuk memberikan sesuatu kepada anak tersebut.

”Kalau mau kasih uang, nominalnya tidak seberapa. Tidak akan berpengaruh banyak. Maka saya pilih barang yang bisa menjadi penyemangat. Akhirnya, diputuskan untuk membuat boneka karena lebih dekat dengan anak-anak,” ungkapnya.

Untuk membuat boneka Hero, perempuan kelahiran 26 Juli 1993 ini berkolaborasi dengan Ratnawati Sutedjo, Founder Precious-One di Jakarta. Ratna memberdayakan para tunarungu untuk membuat kerajinan tangan. Salah satunya, boneka.

Sebelumnya, Dila merancang boneka yang akan dipesan. Dia membuat dua rancangan untuk boneka perempuan dan laki-laki. Masing-masing mengenakan kostum superhero dengan kombinasi warna merah, biru, dan kuning.

Baca juga:   Ini Profil Lima Dalang Terbaik Kota Madiun

Setelah boneka jadi, rupanya pasien kanker darah di puskesmas tempat Dila melaksanakan praktek sudah pulang. Sejak itu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan anak tersebut. ”Akhirnya boneka saya simpan,” ucapnya.

Selesai praktek di puskesmas, Dila mendapatkan kesempatan praktek di RSUD Dr Saiful Anwar, Malang. Di sana, dia bertemu dengan pasien serupa. Diapun menggalang dana untuk membeli 20 boneka dan dibagikan kepada anak-anak penderita kanker di sana.

Sejak saat itu, Optimis Project terbentuk. Hingga sekarang, sudah ada empat kota yang mereka datangi. Yaitu, Jogjakarta, Malang, Jakarta, dan Kota Madiun. Dila dan volunteer Optimis Project tak hanya membagikan boneka. Tapi, juga mengadakan kegiatan menyenangkan bersama para pasien kanker.

Dengan Optimis Project, Dila tidak hanya memberikan dukungan psikologis kepada anak-anak penderita kanker. Tetapi, juga ikut memberdayakan tunarungu sebagai perajin boneka Hero.

Untuk penggalangan dana, Dila menggunakan aplikasi kitabisa.com yang link-nya tersedia dalam Instagram @optimisprojectind. Putri pasangan Alm. Ma’sum dan Enik Bintani itu berharap, ke depan semakin banyak boneka yang bisa dibagikan. Sehingga, dapat memberikan dukungan psikologis kepada anak-anak penderita penyakit mematikan.

”Boneka ini sebagai simbol kekuatan. Dengan boneka ini, anak-anak akan merasa lebih dipedulikan. Otomatis, membawa kebahagiaan yang meningkatkan sistem imun,” tandasnya. (irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019