Kisah Perjuangan Sarono Gayuh Wilujeng, Anak Petani yang Raih Nilai UNBK Tertinggi

MADIUN – Kegigihan Sarono Gayuh Wilujeng dalam menggapai cita-cita rupanya benar-benar bisa dibuktikan. Gayuh, sapaan akrabnya, berhasil masuk perguruan tinggi negeri yang diinginkan. Sekaligus, meraih hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dengan nilai yang sangat memuaskan.

Hal tersebut, tak lepas dari doa dan dukungan kedua orang tuanya, Jaimin dan Dami. Meski sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani dan ibu rumah tangga, keduanya tak pernah lelah menyemangati sang putra agar meraih impiannya.

Ya, Gayuh merupakan peraih predikat nilai UNBK terbaik tingkat Kota Madiun untuk mata pelajaran IPA. Total nilai yang berhasil kumpulkan oleh siswa SMAN 2 Madiun ini adalah 392,00. Ini berdasarkan nilai Matematika 100, Biologi 100, Bahasa Indonesia 96, dan Bahasa Inggris 96.

Tak hanya itu, nilai tersebut juga mengantarkannya masuk dalam jajaran peraih 10 besar nilai UNBK tertinggi tingkat Jawa Timur. Tepatnya, di posisi ke-8. Atas capaiannya itu, Gayuh tentu merasa bangga.

‘’Sebelumnya memang sudah target dapat nilai tinggi. Ingin tembus tingkat provinsi. Alhamdulillah bisa kesampaian,’’ tuturnya saat ditemui di sekolah, Selasa (14/5).

Target itu bukan tanpa sebab. Sebelumnya, pelajar yang akan berulang tahun pada 15 Mei ini telah mendapatkan kepastian diterima di universitas negeri melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Yakni, di Jurusan Kedokteran Umum Universitas Airlangga, Surabaya. Dia juga merupakan pendaftar beasiswa Bidikmisi.

Karena itu, dia sudah tidak ada tanggungan lagi untuk mengejar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). ‘’Sehingga, energinya dicurahkan semua untuk mengejar nilai UNBK yang terbaik,’’ ungkap penyuka novel Lord of The Rings ini.

Baca juga:   Kisah Hartono Veteran Brimob Pemberani

Menurut Gayuh, tak ada cara khusus yang diterapkan untuk bisa meraih nilai terbaik. Dia ‘’hanya’’ rajin membaca dan belajar secara rutin. Setiap hari, dia menetapkan waktu yang sama untuk belajar di rumah. Misalnya setelah Maghrib. Tidak perlu lama-lama. Cukup 1-2 jam saja per hari.

Selain itu, selalu meminta restu orang tua adalah hal yang terpenting. Gayuh pun merasakan dengan kuat bahwa dukungan kedua orang tuanya menjadi penyemangat terbesar baginya. ‘’Orang tua saya selalu bilang, hidup adalah perjuangan,’’ ungkap penyuka pelajaran Biologi yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anak itu.

Selain hal-hal membanggakan di atas, Gayuh juga memiliki segudang prestasi tingkat kota maupun nasional. Di antaranya, juara 1 Olimpiade Sains Nasional tingkat Kota Madiun, juara 1 lomba Kader Kesehatan tingkat Kota Madiun, Semifinalis Medspin Unair 2018, dan finalis Sinaps Unej 2018.

Tak hanya di bidang akademik, anak ketiga dari tiga bersaudara itu juga moncer dalam prestasi non akademik. Bersama Teater Agni di sekolahnya, Gayuh beberapa kali memenangi perlombaan. Salah satunya, Pekan Seni Pelajar tingkat Provinsi Jatim.

Gayuh berharap, ke depannya bisa tetap terus membanggakan kedua orang tuanya. Serta, kedua kakaknya yang telah membantu pendidikannya dan memotivasi selama ini. ‘’Yang terdekat, harapannya bisa lolos beasiswa Bidikmisi. Kemudian, ilmu di kedokteran bisa digunakan untuk membantu sesama,’’ tandasnya. (Dhevit/irs/madiuntoday)