MADIUN – Kisah mengharukan di Kota Madiun saat pertemuan Agus Bustanul Arifin (45) dengan keluarganya tidak semudah yang terlihat. Butuh perjuangan ekstra hingga akhirnya asal usul Agus yang mengalami gangguan jiwa tersebut dapat diketahui. Agus terpisah dengan keluarganya selama 20 tahun terakhir.

Bima Primaga Yudha, Ketua Yayasan Citra Paramita Zwastika yang mengurus Agus menyebut pihaknya butuh waktu dua hari hanya untuk mendapatkan kata Cibatu, nama kecamatan tempat tinggal Agus. Bima menyebut Agus mengidap skizofrenia hebefrenic salah satu jenis ganguan jiwa berat.

“Saat awal datang belum bisa ditanyai sama sekali. Agus ini hanya gelisah dan komat-kamit sendiri. Kita rawat dan berikan obat hingga berangsur lebih tenang,” kata Bima saat pengembalian Agus dengan keluarganya di Shelter Dinsos PP dan PA Kota Madiun, Jumat (17/5).

Kisah Agus berawal saat kegiatan Safari Taraweh Walikota Maidi di salah satu Masjid Kelurahan Demangan, Senin (13/5) lalu. Agus yang komat-kamit di tempat parkir langsung diamankan petugas Satpol PP Kota Madiun yang kebetulan berjaga di lokasi. Agus lantas diantar ke Shelter di Jalan Srindit tersebut. Penanganan langsung dilakukan. Bima harus melakukan pendekatan ekstra. Mulai memandikan hingga menyuapi makan. Pertanyaan tempat tinggal Agus terus ditanyakan. Sehari bisa lima hingga sepuluh kali pertanyaan.

“Memang harus sabar. Alhamdulillah, dua hari berselang yang bersangkutan mulai dapat bicara,” jelas Bima.

Namun, bukan berarti masalah usai. Logat Agus yang kesundaan menjadi permasalahan tersendiri. Bima mengaku hingga harus membuka google translate Bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan Agus. Kerja keras itu membuahkan hasil jua. Foto dan secuil keterangan dari Agus tersebut langsung di-upload dan di-share ke media sosial sebanyak-banyaknya.

Baca juga:   Bersama F-16, Sphinx Berhasil Raih 2.000 Jam Terbang

“Alhamdulillah ada yang merespon. Ada salah satu warga net yang mengenalnya (Agus). Tal berapa lama salah satu keluarga Agus menghubungi kami,” ungkapnya.

Dedi Arijanto, adik ipar Agus yang datang menjemput mengatakan, kakak iparnya sudah mengalami gangguan jiwa kambuhan sejak kecil. Agus lantas menjalani pengobatan di salah satu pesantren di Jogjakarta. Kondisinya sempat dinyatakan membaik kala itu hingga pengurus pesantren mengantarkannya ke terminal. Sayang, Agus tak pernah sampai ke rumah hingga kabar itu datang dari Kota Madiun 20 tahun kemudian.

“Kaget dan senang. Kami tidak menyangka mas Agus bisa bertemu kembali dalam keadaan masih hidup,” ujarnya.

Hal itu wajar mengingat keluarga sudah pasrah. Apalagi, Agus dalam kondisi bergangguan jiwa. Bagaimana Agus bertahan hidup di jalanan selama 20 tahun lamanya masih menjadi teka-teki. Dedi menyebut akan membawa pulang Agus besok, Sabtu (18/5) via kereta. Agus merupakan anak pertama lima bersaudara. Dia memiliki empat adik perempuan. Salah satunya, istri Dedi.

“Terimakasih kepada relawan dan Pemerintah Kota Madiun. Tanpa kepedulian mereka, mungkin keluarga kami akan lebih lama ketemu atau mungkin tidak pernah bertemu lagi,” pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday).