MADIUN – Kanker mulut rahim masih menjadi penyakit berbahaya yang menghantui para perempuan. Terutama, di negara-negara berkembang. Tingkat penderitanya cukup tinggi. Bahkan, hingga menyebabkan kematian.

Di Indonesia, setiap hari ada 40 perempuan terdiagnosis menderita kanker mulut rahim. 20 orang di antaranya meninggal dunia. Sedangkan di RSUD Kota Madiun, dari total 65 penderita penyakit yang berhubungan dengan kandungan, 60 persennya terdiagnosis menderita kanker mulut rahim. Bila tidak ditangani, WHO memperkirakan pada 2030 semua angka tersebut akan naik 7 kali lipat.

Spesialis kandungan RSUD Kota Madiun dr. Muhammad Nur, SpOG menuturkan, sayang jika seorang perempuan sampai menderita kanker mulut rahim. Padahal, penyakit tersebut dapat terdeteksi sejak dini.

‘’Khususnya bagi yang sudah menikah, dapat melakukan deteksi dini melalui Papsmear,’’ ujarnya saat mengisi Workshop Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kota Madiun di aula Kecamatan Taman, Rabu (19/6).

Kanker mulut rahim 90 persen disebabkan oleh virus Human Papilloma (HPV). Setiap perempuan beresiko terserang penyakit tersebut. Itu karena sepanjang hidupnya, sekitar 80 persen perempuan akan terinfeksi HPV. Meski, tidak semua HPV berpotensi menyebabkan kanker.

Selain Papsmear, pencegahan dini dapat dilakukan dengan vaksinasi. Saat ini, memang belum marak pemberian vaksin HPV. Apalagi secara gratis. Cakupan Papsmear juga hanya 5 persen dibandingkan dengan negara maju yang mencapai 40 persen. Karenanya, pencegahan kanker mulut rahim sejak dini di negara berkembang belum maksimal.

Baca juga:   Jaga Kualitas Jadi Strategi Disperta Ajak Masyarakat Gemar Ikan

Meski begitu, Nur mengimbau kepada perempuan, terutama yang sudah menikah atau pernah melakukan hubungan seksual, untuk melakukan Papsmear. Nur juga menegaskan bahwa kanker mulut rahim stadium awal masih bisa disembuhkan. ‘’Jangan takut dulu kalau dengar istilah kanker mulut rahim,’’ imbuhnya.

Selain itu, Nur juga kembali menegaskan bahwa Papsmear bukan upaya pengobatan. Melainkan, cara deteksi dini untuk mengetahui ada atau tidaknya potensi kanker mulut rahim pada dirinya. ‘’Kalau sudah Papsmear, perhatikan hasilnya. Kalau ada masalah, segera konsultasikan ke dokter,’’ jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Hak Anak Dinas Sosial PPPA Kota Madiun Sri Marhaendra Datta mengatakan, workshop revitalisasi gerakan sayang ibu bertujuan untuk melindungi perempuan di Kota Madiun. Selain itu, sebagai upaya mengurangi angka kematian ibu.

‘’Kanker mulut rahim ini korbannya banyak. Dengan kegiatan seperti ini diharapkan pemahaman perempuan terhadap penyakit tersebut semakin tinggi. Sehingga, semakin mengurangi angka penderitanya di Kota Madiun,’’ tandasnya. (WS Hendro/irs/madiuntoday)

Selalu jaga kesehatan dengan menjauhi minum-minuman keras, narkoba, serta rokok ilegal. Cukai merupakan salah satu pemasukan negara. Sebagian dananya dikembalikan kepada masyarakat. Membayar cukai sesuai ketentuan berarti turut berkontribusi kepada negara dan masyarakat.

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#KotaKarismatikMadiun
#IndonesiaBicaraBaik
#DBHCHT_2019