Lagi, Pemkot Fasilitasi Mediasi Warga-PT. KAI

Terkait Aspirasi Pembangunan Double Track di Winongo

MADIUN – Pembangunan dobel trek di Kota Madiun kembali menuai kritik masyarakat. Kali masyarakat menanyakan sejumlah tuntutan yang dikemukakan dulu. Alasannya, belum ada tindak lanjut sejak tuntutan diutarakan, pertengahan Juni lalu. Pertemuan itu di mediasi langsung Camat Manguharjo Teguh Sudaryanto di aula Kelurahan Winongo, Rabu (21/8).

‘’Prinsipnya kami sebagai pemangku wilayah Kecamatan Manguharjo akan memfasilitasi keinginan masyarakat. Seperti dalam hal ini terkait masalah pembangunan dobel trek yang melintasi kawasan Kelurahan Winongo,’’ kata Camat Teguh.

Masyarakat sejatinya memiliki lima keinginan. Yakni, pengembalian lebar jalur inspeksi disebelah jembatan rel kereta api seperti semula, pemberian pintu atau pagar lubang pengontrol jembatan agar tidak membahayakan, pembenahan aspal jalan dekat perlintasan kereta api di Jalan Gajah Mada, pembenahan aspal lorong jalan penghubung sekitar rel, dan penambahan talud air di Jalan Minyak Kuncar yang menjadi saluran air semi permanen akibat proyek.

Teguh menambahkan, tuntutan tersebut sejatinya sudah langsung diberitahukan kepada Balai Teknik Perkeretaapian sehari setelah mediasi Juni lalu. Pun, koordinasi secara lisan juga intens dilakukan. Pihak balai dan pengembang sepakat untuk memenuhi keinginan masyarakat. Terutama pembenahan aspal jalan dekat perlintasan, pembenahan aspal lorong jalan penghubung, dan penambahan talud air. Namun, pengerjaan tentu setelah semua pekerjaan proyek dobel trek di titik tersebut selesai sepenuhnya.

Baca juga:   Dirgahayu Republik Indonesia ke-73

‘’Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Pada intinya mereka sepakat. Tetapi tentu menunggu pekerjaan utama selesai. Informasi yang kami terima seperti itu,’’ imbuhnya.

Sedang terkait dua tuntutan pertama, Balai Teknik Perkeretaapian dan pengembang belum bisa menjanjikan. Sebab, pekerjaan masih berjalan. Hal itu, baru dapat diputuskan setelah tahap pemeriksaan. Terutama, terkait daya beban jika jembatan juga digunakan untuk jalan masyarakat untuk melintas melalui jalur inspeksi tersebut. Namun, pada prinsipnya jalur inspeksi bukan jalan umum. Namun, jalur khusus petugas perbaikan jembatan dan rel.

Jalur tersebut memang digunakan masyarakat untuk melintas sebelumnya agar tidak memutar jauh. Nah, setelah pembangunan jembatan dobel trek, lebar jalur inspeksi diperkecil saat ini. Hal itu, memantik protes warga setempat. Mediasi dilakukan. Bahkan, sempat dimediatori langsung Walikota Maidi Juni lalu.

‘’Masyarakat pada prinsipnya mereka mengerti dan memahami. Hanya, mereka ingin mendengarkan langsung dari pihak terkait. Makanya meminta mediasi lagi,’’ imbuhnya sembari menyebut semua pihak yang terkait hadir dalam mediasi tersebut. (iko/agi/mdiuntoday)