Kapolres Madiun Kota: Ini Murni Dendam Pribadi, Tidak Berkaitan dengan Organisasi

MADIUN – Desas-desus kasus pembunuhan HS warga Kelurahan Banjarejo Kecamatan Taman, Minggu (1/9) kemarin akhirnya terang benderang. Itu setelah polisi menunjukkan batang hidung HC (39) warga Wayut, Jiwan, Kabupaten Madiun, tersangka pembunuhan saat press release di Halaman Polres Madiun Kota, Senin (2/9) sore. HC diduga tega menghabisi HS lantaran dendam pribadi dua tahun lalu.

Diungkapkan Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu, dendam HC mengemuka ketika berada dalam Lapas Klas 1 Madiun sekitar 2017 silam. HC dan HS memang pernah mendekam bersama dalam Lapas tersebut. HC sakit hati dengan perkataan korban saat Lapas tersebut. Pun, keduanya sempat beradu mulut. Dendam itu ternyata dibawa hingga HC hingga bebas 17 Agustus 2019 lalu.

‘’Keduanya, sempat bertengkar dalam Lapas, tersangka pernah dipermalukan. Dendam itu dilampiaskan tersangka setelah keluar,’’ kata Kapolres.

Keterangan itu sekaligus membantah kabar yang berkembang terkait motif pembunuhan tersebut. Beragam dugaan mengemuka. Salah satunya, pembunuhan bermotif organisasi persilatan. Hal itu tegas dibantah Kapolres Madiun Kota.

‘’Berdasar penyelidikan yang kami lakukan, desas-desus yang katanya ada unsur dari perguruan silat itu tidak terbukti. Seperti yang saya sampaikan lagi, pembunuhan karena dilandaskan sakit hati tersangka kepada korban,’’ ujarnya sembari menyebut penyelidikan juga melibatkan unsur perguruan pencak silat.

Kasus pembunuhan tersebut berawal saat tersangka bersama teman-teman menggelar pesta minuman keras di dedung eks bioskop Arjuna, Minggu (1/9) sekitar pukul 10.00. Di bawah pengaruh miras tersebut tersangka mengutarakan niatnya untuk menghabisi korban. Pun, tersangka sudah menyelipkan pisau sangkur di balik baju. Keterangan yang mengemuka, pisau sudah dibeli tersangka tiga hari sebelumnya.

Baca juga:   Polres Madiun Kota Tangkap Pelaku Pengedar Sabu

‘’Dari sini unsur pembunuhan berencana sudah terpenuhi. Tersangka terbukti sudah menyiapkan alat dan merencanakan pembunuhan,’’ jelasnya.

Bersama IR dan AT, tersangka mencari korban di rumahnya sekitar pukul 13.00. Tanpa ba bibu, tersangka langsung menusukkan pisau yang dibawanya kearah perut korban. Tusukan tersebut mengenai liver dan ginjal korban. Korban sempat dibawa ke rumah sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. IR dan AT juga ditetapkan sebagai tersangka lantaran terbukti membantu tindak pembunuhan tersebut kendati hanya mengantarkan.

Anak buah Nasrun bergerak cepat setelah mendapati laporan terkait pembunuhan tersebut. Tersangka HC berhasil diamankan di Kelurahan Kejuron, Taman, tempat persembunyiannya, beberapa jam setelah kejadian. Petugas terpaksa menghadiahi timah panas di kedua kaki tersangka lantaran berupaya melawan petugas. Tersangka AT ditangkap di rumahnya di Kelurahan Pangongangan. Sedang, IR yang merupakan warga Kelurahan Manguharjo menyerahkan diri kepada polisi, sekitar pukul 15.30 atau dua jam setelah kejadian.

‘’Kasus ini murni dendam pribadi antara tersangka dengan korban,’’ pungkasnya sembari menyebut tersangka terancam pasal 340 KHUP dengan ancaman penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun kurungan. (ws hendro/agi/madiuntoday)