Tak Hanya Gas Metan, Sampah Juga Akan Menghasilkan Gasoline, Biji Plastik, Hingga Listrik

MADIUN – Pengelolaan sampah di Kota Madiun tampaknya bakal semakin canggih. Tidak hanya menghasilkan gas metan. Namun, juga biji plastik, gasoline, hingga listrik. Hal itu mengemuka setelah adanya penawaran dari investor untuk pengelolaan tersebut. Pertemuan dengan investor tersebut dipimpin Walikota Madiun Maidi di ruang 13, Senin (9/9).

Walikota menyebut pengolahan sampah oleh pihak ketiga tersebut masih dalam pembahasan. Sebab, Pemkot wajib menyediakan anggaran hingga Rp 350 miliar untuk pembelian mesin, alat, dan operasionalnya. Namun, walikota menyebut pengeluaran sepadan dengan apa yang dihasilkan. Sampah yang biasa menjadi masalah malah bisa menjadi berkah. Terutama sumber energi yang dihasilkan bisa dimanfaatkan masyarakat.

‘’Saat ini dari sampah di TPA sudah dapat mengaliri gas metan untuk 200 KK di sekitarnya. Dengan pengelolaan yang lebih baik tentu akan memberikan yang lebih. Ada banyak produk yang akan dihasilkan,’’ kata walikota.

Seperti pemaparan yang disampaikan investor, sampah akan diolah menjadi beragam produk. Sampah organik basah akan diolah menjadi gas metan seperti biasa. Sampah organik kering mulai kayu, ranting, daun kering dan lain sebagainya akan diubah menjadi energi panas. Energi ini digunakan untuk menjalankan reaktor pirolisis untuk pengolahan sampah plastik.

Baca juga:   Oleng, Bus Tumbur Tronton di Tol Ngawi-Kertosono, Seorang Tewas

Dari proses tersebut bisa menghasilkan biji plastik yang kemudian diolah menjadi gasoline, bahan bakar minyak setara bensin. Selain itu, juga bisa dimanfaatkan sebagai biogas hingga menjadi energi listrik.

‘’Gas metan yang dihasilkan tadi juga bisa dikemas dalam bentuk tabung-tabung. Kalau biasanya hanya dimanfaatkan warga sekitar, gas metan nanti bisa dimanfaatkan hingga masyarakat yang bertempat lebih jauh,’’ ungkapnya sembari menyebut investasi akan dibahas lebih mendalam ke depan.

Direktur PT Alam Semesta Baru Raya Alex Wibisono, pemilik konsep, menyebut investasi hanya selama 25 tahun. Setelahnya, semua asset dikembalikan kepada daerah. Pihaknya memprediksi butuh waktu tiga tahun agar pengelolaan tersebut bisa berjalan maksimal. Proses pengolahan dilakukan secara bertahap. Pengelolaan gas metan akan diprioritaskan lantaran 60 persen sampah yang dihasilkan merupakan jenis organik basah. Dia mengaku tertarik mengelola sampah di Kota Madiun lantaran ingin berkontribusi kepada daerah. Alex merupakan asli orang Madiun.

‘’Sampah yang dihasilkan semakin bertambah setiap tahunnya. Artinya, produk yang dihasilkan juga akan semakin besar. Manfaat yang dirasakan masyarakat juga semakin besar,’’ ujarnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)