Kenali Pita Cukai Asli Melalui Delapan Ciri Ini

Di Posting Oleh madiuntoday

9 Oktober 2019

MADIUN – Peredaran rokok illegal di Kota Madiun cukup kecil. Hanya 0,06 persen hingga Oktober tahun ini. Kendati begitu bukan tanpa upaya menekan rokok bodong tersebut. Pemkot Madiun melalui Bagian Administrasi Perekonomian dan Kesejahteraan Masyarakat (Pereksos Kesra) setempat menggelar sosialisasi kepada masyarakat. Khususnya, pedagang dan pemilik warung rokok. Sosialisasi kian mengena dengan menghadirkan walikota dan petugas Kantor Bea Cukai Madiun sebagai narasumber.

Pelaksana Pemeriksa Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madiun David Julian Ichtiano menyebut rokok legal ditandai dengan pita cukai. Sayang, pita cukai seringkali dipalsukan. Tentu untuk mendapat keuntungan maksimal. Masyarakat harus dapat membedakan pita cukai asli dengan yang palsu.

‘’Pita cukai asli dibuat khusus dengan ciri-ciri tertentu. Dengan memahami ciri-ciri ini diharap masyarakat dapat langsung mengenali,’’ ungkap David sembari menyebut setidaknya terdapat delapan ciri pita cukai asli yang wajib dipahami.

Pitai cukai asli, kata dia, dapat dideteksi secara kasat mata. Kertas, hologram, dan cetakannya memiliki ciri tertentu. Kertas pita cukai rokok asli 2019 berwarna hijau. Warna pita cukai memang berubah setiap tahun. Hal itu untuk meminimalkan pemalsuan. Selain itu, pita cukai asli juga memiliki serat seperti cacing dan watermark.

‘’Pita cukai asli juga berhologram dan cetakannya jelas dan tajam. Ciri ini yang paling mudah dilihat,’’ jelasnya.

Jika masih ragu, serat pada kertas pita cukai dapat dilihat dengan kaca pembesar. Serat pada kertas bakal terlihat lebih jelas. Sedang pada hologramnya terdapat tulisan Indonesia dan lambang bintang serta tahun. Pendeteksian, lanjutnya, juga dapat menggunakan sinar ultra violet (UV). Serat kertas pita cukai rokok asli memiliki tiga warna jika disorot lampu UV. Sedang, pada hologramnya bakal muncul warna tersembunyi. Warna ini tidak terlihat secara kasat mata.

‘’Warna pada nominal dan kode angka juga akan berubah warna jika dilihat dengan sinar UV,’’ jelasnya sembari menyebut serat dapat dilepas menggunakan jarum.

Nah, pita cukai palsu biasanya tidak memiliki ciri-ciri khusus tersebut. Hanya, pelaku biasanya juga menggunakan pita asli bekas untuk digunakan kembali. Masyarakat juga harus mewaspadai. Pastikan pita cukai asli sesuai dengan rokok yang ditempeli. Misalnya, dari nominal harga atau keterangan sigaret kretek tangan atau atau sigaret kretek mesin untuk yang berfilter.

‘’Pita cukai asli pasti dalam kondisi baik. Kalau sudah jelek atau ada lipatan maupuan sobek, besar kemungkinan itu bekas,’’ jelasnya.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPPBC) Tipe Madya Pabean C Madiun Gatot Priyo Waspodo menyebut rokok illegal bukan hanya merugikan negara karena tidak membayar cukai. Namun, juga lebih berbahaya bagi kesehatan. Sebab, rokok illegal kebanyakan diproduksi usaha rumahan yang tidak memperhatikan standar produksi rokok, kandungan tar serta nikotin maupun aspek lain. Berbeda dengan rokok perusahaan besar yang menyertakan kandungan dalam rokok dalam setiap kemasannnya.

‘’Rokok illegal biasanya juga tidak disertai penelitian-penelitian tertentu. Jadi rokok kualitas bagus dan jelek semua jadi satu dan dijual. Prinsipnya hanya mengejar keuntungan,’’ ujarnya. (dhevit/agi/madiuntoday)

Artikel Terkait

Awan Mendung Menggelayut di Atas Langit Kota Madiun

Awan Mendung Menggelayut di Atas Langit Kota Madiun

MADIUN- Dampak fenomena La Nina akan dapat dirasakan di Kota Madiun dan sekitarnya dalam beberapa waktu kedepan. Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis informasi yang menyatakan bahwa saat ini tengah terjadi fenomena La Nina di...

Bebas Zona Merah, 50 Persen Wilayah Jatim Berstatus Zona Kuning

Bebas Zona Merah, 50 Persen Wilayah Jatim Berstatus Zona Kuning

SURABAYA – Upaya penanganan Covid-19 di Jawa Timur semakin membuahkan hasil yang optimal. Bahkan, sejak Selasa (20/10) sudah tak ada lagi kota/kabupaten yang berstatus zona merah. Bahkan, 50 persen di antaranya telah berstatus zona kuning. Atau, beresiko rendah. ‘’Dua...

Don`t copy text!