Bahas Madiun Kota Terbuka, Program Walikota Menyapa Jadi Ajang Aspirasi Warga

MADIUN – Program Walikota Menyapa Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Suara Madiun Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Madiun terbukti semakin diminati masyarakat. Hal itu terlihat dari antusiasme masyarakat yang turut bergabung dalam program siaran radio tersebut. Mereka yang dapat menyambung melalui via telepon memanfaatkan kesempatan untuk bertanya sebanyak-banyaknya kepada orang nomor satu di Kota Madiun tersebut. Belum lagi masyarakat yang bertanya melalui kolom komentar di live fanpage facebook Pemerintah Kota Madiun dan youtube madiuntoday.

Apalagi, pertanyaan langsung ditanggapi walikota. Masyarakat tentu merasa diperhatikan. Pertanyaan tidak hanya seputar Madiun Kota Terbuka yang menjadi tema kali ini. Namun, berbagai hal seputar Kota Madiun. Seperti Agung Surya yang bertanya soal penghapusan retribusi bagi Pedakang Kaki Lima (PKL), upaya pemerintah menangkal radikalisme, hingga masalah pegawai tidak tetap di Kota Madiun.

Begitu juga dengan Hendra Setyawan yang bertanya soal peran pemerintah dalam pendampingan organisasi pemuda seperti karang taruna hingga program internet gratis berupa wifi. Pertanyaan seputar penataan pedagang datang dari Ibu Anjar. Sedang, Nur Alam menanyakan soal pembinaan atlet hingga reboisasi pohon di Kota Madiun dan pemanfaatan aset PG Kanigoro sebagai objek wisata.

Satu persatu pertanyaan dijawab tuntas Walikota Maidi. Di antaranya, soal pembebasan retribusi bagi PKL. Hal itu tentu dilakukan untuk membantu pedagang kecil agar tidak terbebani kendati iuran retribusi cukup kecil. Padahal, retribusi merupakan salah satu sumber pemasukan kepada kas daerah. Masyarakat tidak perlu khawatir. Sebab, pemasukan kas bisa ditutup dari pajak restoran. Salah satunya, McDonald.

Baca juga:   Olahraga di Taman Hutan Kota, Walikota Optimalkan Pemanfaatan RTH

‘’Kami ingin hadirnya investor ini memberikan manfaat bagi masyarakat. Jadi tidak hanya memberikan pendapatan kepada pemerintah daerah, tetapi ada yang bisa dirasakan masyarakat secara langsung,’’ kata walikota.

Besaran pendapatan daerah dari McDonald mencapai Rp 100 juta lebih dalam seminggu. Sedang, pendapatan dari retribusi PKL hanya Rp 200 juta dalam setahun. Artinya, retribusi dari McDonald bisa menjadi pengganti retribusi PKL. Sedang, terkait peran pemkot dalam pendampingan pemuda bisa dilihat dalam program kerja di Dinas Tenaga Kerja. Walikota menyebut ada banyak program yang melibatkan pemuda di Kota Madiun. Bahkan, hingga bantuan mencarikan pekerjaan melalui job fair. Sayang, kesempatan itu malah banyak dimanfaatkan pencari kerja dari daerah luar.

‘’Padahal tantangan pemuda di kota itu lebih berat. Warga kota kebanyakan sebagai pegawai. Tidak banyak memiliki aset. Anak pegawai harus memiliki pendidikan yang cukup agar juga bisa mencari pekerjaan atau membuka usaha ke depan. Kalau masyarakat di desa biasanya memiliki banyak aset yang bisa diwariskan kepada anak-cucu,’’ ujarnya.

Walikota Menyapa merupakan program rutin LPPL Radio Suara Madiun. Program ini diharap memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keinginan dan harapan kepada walikota. (ws hendro/agi/diskominfo)