Cinta Seni dari Hati, Bawa Dyah Ayu Jadi Dalang Cilik Perempuan yang Moncer Hingga Nasional

MADIUN- Tak ada yang mengira jika puluhan cerita pewayangan telah diceritakan dengan apik oleh gadis manis berusia 14 tahun ini. Kedua tangan kecilnya lincah menggerakkan tokoh pewayangan di depan sebuah kelir saat mendalang di acara kunjungan kerja walikota beberapa waktu lalu di Kelurahan Banjarejo.

Dyah Ayu Kusumanintyas namanya, seorang dalang cilik perempuan asli Kota Madiun yang memiliki prestasi di tingkat nasional. Lewat kecintaannya terhadap seni tradisional yang digemarinya sejak kecil itu, dirinya berhasil menyabet dua kejuaraan andalan, yakni juara 1 Dalang Mumpuni dan Catur atau penutur terbaik dalam ajang Festival Lomba Dalang Bocah tingkat nasional bulan lalu.

“Pertama kali mencoba nembang pangkur slendro, langgamnya mari kangen. Mesti pas kecil kalau nembang pakai tembang itu,” kenang Ayu saat ditemui di rumahnya yang berada di Jalan Perintis Gang 3 Kota Madiun.

Siswi kelas 7 SMPN 1 Kota Madiun itu mengaku sudah sejak lama mencintai dunia seni, khususnya dalang dan pewayangan. Dirinya menceritakan, keinginannya itu muncul karena sering melihat bapaknya mendalang dan ibunya melatih tari di sanggar.

“Awalnya itu ya pengen didandanin kayak mbak-mbak di sanggar, terus dilatih tari sama ibu dan dilatih dalang sama bapak,” ungkapnya.

Baca juga:   Berprestasi, Dua Atlet Sepak Takraw Kota Madiun Jadi  Langganan Kejuaraan Tingkat Internasional

Beragam prestasi berhasil ditorehkan oleh anak sulung dari dua bersaudara itu. Diantaranya lomba dalang tingkat provinsi dengan prestasi dalang mumpuni terbaik dari 31 dalang lainnya, sabet (memainkan wayang). Saat duduk di bangku SD tak kalah banyak prestasi yang diraihnya, salah satunya adalah dikirim ke provinsi untuk lomba serupa.

Ayu mengatakan, aktifitas mendalang yang dilakoninya tak menghalanginya untuk bersekolah ataupun belajar. Dengan cerdas gadis berusia 14 tahun ini membagi-bagi waktu antara belajar dan tanggapan.

“Dari dulu orang tua juga sudah mewanti-wanti supaya jangan sampai sekolah keteteran. Biasanya dalang itu  mulainya setengah 9 malam. Kalau besoknya ada sekolah atau ulangan, jam 2 dini hari itu harus turun panggung, atau kalau tidak ya tidur di mobil,” ungkapnya.

Kedepan, Ayu berharap, tak hanya dirinya saja yang menjadi dalang perempuan, khususnya di Kota Madiun, lebih dari itu, dirinya ingin semakin banyak teman-teman sebayanya yang mau mengenal lebih dalam budaya-budaya dan kesenian tradisional ini.

“Sekaligus saya juga nguri-uri budaya yang ada. Masa semua anak zaman sekarang hanya suka korea-koreaan saja, padahal di wayang juga banyak kisah menarik dan inspiratif dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari,” tandasnya.
(WS Hendro/kus/madiuntoday)