Boccia, Olahraga Spesial Bawa Faruq Raih Dua Medali di Kejurnas NPC

MADIUN- Olahraga Boccia mungkin masih asing di telinga sebagian dari kita, namun lewat olahraga inilah,  sebagian individu lain bisa aktualisasi diri dengan cara dan keterbatasan yang mereka miliki. Ya, Boccia merupakan olahraga ketepatan yang dirancang khusus untuk dimainkan oleh orang-orang dengan cerebral palsy, atau disabilitas saraf motorik yang diakibatkan oleh gangguan pada otak.

Seperti yang dialami Sholahuddiien Al Faruqy, pria yang akrab disapa Faruq ini adalah salah seorang penderita cerebral palsy yang berjaya lewat olahraga boccia di Kejuaraan Nasional National Paralympic Committee (NPC) Indonesia 2019 di Kota Solo, akhir Oktober lalu. Bersama dengan timnya, pria asli Kota Madiun itu mewakili Provinsi Jawa Timur dan berhasil memboyong 2 emas, dan 2 perunggu.

“Faruq sumbang 1 emas cabang beregu kelas BC2 dan 1 perunggu kategori perorangan mengalahkan 22 peserta lain yang berasal dari hampir seluruh provinsi di Indonesia” ujar Mimin Andarini, ibu dari Faruq.

Berdasarkan penjelasan sang ibu, Perkenalan Faruq dengan olahraga boccia sudah diawali sejak tahun 2016. Saat itu dirinya tengah melihat tayangan televisi yang menampilkan acara Asian Paragames. Disana anak sulung dari dua bersaudara itu melihat penyandang cerebral palsy sedang melemparkan bola berwarna merah atau biru sedekat mungkin dengan jack, bola sasaran yang berwarna putih, yang lama kelamaan dikenalnya dengan nama boccia.

“Darisitu dia cari tahu banyak lewat youtube bagaimana cara bermain dan lain sebagainya. Selaku orang tua selalu mendukung, menggali minat yang dimiliki anak. Saya lihat dia semangat dan tertarik, makannya saya mengusahakan keinginannya,” ungkap sang ibu.

Baca juga:   Lou Han Kembali Diminati

Hingga akhirnya ada seleksi timnas yang mencari atlet untuk boccia tipe BC 3, namun berdasarkan assesment yang ada, Faruq belum bisa lolos untuk masuk ke timnas. Hanya, kata Mimin, para penyeleksi terus menyemangati pria yang tahun ini genap berusia 26 tahun itu untuk jangan menyerah dan terus berlatih.

“Saya mengusahakan agar Faruq bisa berprestasi di ajang ini. Meskipun belum bisa gabung timnas saya tak patah semangat. Saya belikan bola untuk berlatih, namun keliru beli bolanya. Hingga akhirnya karena informasi dari teman-teman dan lainnya bola boccia yang hanya ada di Amerika itu bisa terbeli dan dipakai latihan,” jelasnya.

Dua minggu sekali latihan dijalani Faruq di salah satu lapangan didampingi pelatih boccia dari Magetan, dibarengi dengan latihan mandiri di rumah untuk merenggangkan otot tangan, maklum, keterbatasa yang dimilikinya menuntut untuk selalu aktif bergerak walaupun itu sulit dilakukan.

“Mudah-mudahan, kedepan, pelan-pelan Faruq bisa masuk timnas, karena saya diberi masukan sama pelatih timnas untuk terus mensupport anak saya dan untuk terus berlatih. Kalau ada kejuaraan-kejuaraan diikutkan. Harapannya di Asian Paragames 2022 anak saya dan timnya bisa maju,” tandasnya.
(dhevit/kus/madiuntoday)